Seluruh Indonesia
Ubah Lokasi
  • Artikel

Cari

Tampilkan Artikel

Pikiran Pemula, Pikiran Pembelajar

Upa. Satyamitra Kurniady Halim

Jum'at, 21 Oktober 2022

Sagin, MBI, Sekber Yabuddhi, Wulan Bahagia, WBI, SIDDHI, Pemuda Buddhayana

‘Stay Hungry, Stay Foolish.’

Ini ucapan dari mendiang Steve Jobs yang kemudian menjadi sangat populer dan menjadi inspirasi banyak orang. Figur seorang Steve Jobs, seorang pendiri perusahaan raksasa Apple tentunya tidak lepas dari praktek Buddhis.  Dia seorang praktisi Zen yang bermeditasi secara teratur dan bahkan kerap bertemu dan berkonsultasi dengan seorang biksu Zen bernama Kobun Chino Otogawa. Salah satu buku yang juga sangat menginpirasi beliau adalah “Zen Mind, Beginner's Mind” tulisan dari mendiang Shunryu Suzuki, yang mempopulerkan Buddhisme Zen di Amerika Serikat.


Dalam buku “Zen Mind, Beginner's Mind” kita dapat belajar konsep tentang pikiran pemula, yaitu pikiran yang kosong, siap belajar, siap menerima, bebas dari kebiasaan ahli dan terbuka dengan segala kemungkinan. Ini adalah jenis pikiran yang dapat melihat segala sesuatu sebagaimana adanya, yang selangkah demi selangkah dan dalam sekejap dapat menyadari sifat asli dari segala sesuatu.”

Penulis masih ingat dengan jelas bagaimana pertama kali, membawa Tara, anak perempuan penulis, menyusuri hutan. Tara dengan pikiran pemulanya menyusuri setiap langkah dengan mengagumi hal kecil seperti jamur yang berwarna putih, suara burung, aliran sungai.  Sesuatu yang mungkin bagi kebanyakan kita “ah, biasa saja lah”.  Kita melewatkan banyak momen yang sungguh menakjubkan.  Dengan pikiran ahli, kebanyakan kita akan kehilangan perspektif pikiran pemula. Orang cenderung menjadi kaku dalam pikiran dan perilakunya dengan mengatakan “ini adalah cara saya yang paling jitu karena saya sudah punya pengalamannnya.” Nah, Seorang pemula terbebas dari pikiran ahli yang cenderung mengarah ke egois.

Apa yang terjadi saat kita menjadi autopilot dengan pikiran ahli?

Overthinking. Dengan kebiasaan ini, kita larut dalam membuat cerita di pikiran kita sendiri, yang belum tentu sesuai dengan faktanya. Kecenderungan overthinking ini dapat membawa kita pada gangguan kecemasan dan stress.

Melabel. Dengan pikiran ahli, kita akan cenderung otomatis menghakimi pengalaman kita sendiri. Menghakimi apakah ini baik atau buruk, suka atau tidak suka.

Menyalahkan. Dengan membiarkan pikiran ahli menjadi autopilot, maka kita akan menghasilkan pikiran menyalahkan diri sendiri dan orang lain.  Karena itu adalah bagian alami dari otak kita untuk mempertahankan diri dan melindungi diri sendiri.  Salah satu cara yang mudah adalah dengan menyalahkan sesuatu ataupun seseorang.

Mengapa orang dewasa banyak kehilangan pikiran pemula?

Seringkali, orang dewasa belajar begitu banyak sehingga mereka kehilangan kemampuan untuk melupakan, menjadi jarang mempertanyakan sesuatu. Di sisi lain, anak-anak dengan pikiran pemulanya sudah siap untuk belajar. Orang dewasa merasa memiliki kapasitas maksimal untuk belajar, sementara anak-anak tetap stay hungry stay foolish, sehingga mereka terus-menerus menggali informasi sebanyak mungkin dari apa yang dialaminya.  Akibatnya, mereka hebat dalam belajar, beradaptasi dengan tantangan.  

Hal ini dapat dibuktikan bagaimana seorang anak kecil dapat dengan mudah menguasai hal baru seperti HP, komputer, maupun belajar hal baru.  Sementara kita merasa heran, kok anak-anak bisa mengerti menggunakan HP dengan sangat cepat tanpa perlu diajari.  Jawabannya sederhana, anak-anak hadir dengan pikiran pemula, sementara kita mempunyai tendensi terbiasa dengan pikiran ahli.  Anak-anak tidak mudah frustrasi saat menghadapi hal yang berbeda, mereka dapat menemukan kegembiraan dalam mengalami dan belajar sesuatu, yang kita anggap remeh. Pikiran Pemula berarti menemukan kembali cara berpikir ini dan tumbuh sebagai hasilnya.

Share:

Komentar (0)

Belum ada Komentar.

Ubah Filter Konten
Informasi

Silakan Masuk dengan menggunakan aplikasi Android/IOS