Seluruh Indonesia
Ubah Lokasi
  • Artikel

Cari

Tampilkan Artikel

Multitasking Itu MITOS

Oleh : Upa. Satyamita Kurniady Halim

Jum'at, 18 November 2022

Sagin, MBI, Sekber Yabuddhi, Wulan Bahagia, WBI, SIDDHI, Pemuda Buddhayana

Pernahkah kita melakukan beberapa kegiatan sekaligus.  Mungkin membaca sambil mendengarkan musik? Mengemudi sambilan menelepon?  Saat sedang meeting kita juga melihat medsos ataupun kirim pesan?  Kalau iya, berarti kita sedang melakukan multitasking.


Apa itu multitasking?

Multitasking adalah mencoba melakukan dua atau beberapa hal sekaligus.  Mungkin kebanyakan dari kita melakukan multitasking dengan membawa mobil sambil bernyanyi, mengecek pesan atau medsos sambil mendengarkan teman kita bercerita, mengikuti meeting sambil sibuk dengan medsos di HP kita.

 

Dan mungkin kita mencoba menangani keduanya secara bersamaan.  Kenyataannya adalah kita membagi perhatian antara tugas yang berbeda di waktu yang sama.  Dan ternyata bukan menjadi lebih produktif, tapi malah membawa kepada kerumitan ataupun lebih non produktif. Bahkan dengan melakukan beberapa tugas di waktu yang sama ini membuat kemungkinan kesalahan yang lebih besar.

 

Banyak penelitian lain menemukan bahwa multitasking yang berlebihan memiliki konsekuensi pada kesehatan mental dan fisik kita, seperti:

·       Berdampak pada memori jangka pendek

·       Meningkatkan gangguan kecemasan

·       Menghambat pemikiran kreatif

·       Mengganggu produktivitas

·       Melakukan lebih banyak kesalahan dan lebih sedikit produktivitas

 

Masalahnya, tidak ada yang namanya multitasking.

"Multitasking adalah mitos," demikian yang disampaikan Daniel Goleman, yang populer dengan bukunya Emotional Intelligent.  Faktanya, kita tidak dapat benar-benar melakukan dua hal sekaligus. Apa yang terjadi adalah otak kita beralih dengan cepat.  Saat ia beralih, kita kehilangan kekuatan konsentrasi.  Jika kita merasa mampu melakukan banyak hal sekaligus, maka pastinya kita melakukannya dengan kurang baik. Karena yang kita anggap sebagai multitasking hanya sekedar berpindah-pindah dengan cepat.  Kita bisa mengalihkan fokus kita dengan sangat cepat, terkadang hanya butuh sepersepuluh detik.

Penelitian telah menemukan bahwa setiap tugas atau alat tambahan yang kita "alihkan" memakan 20% dari produktivitas Kita!  Namun terlepas dari semua konsekuensinya, kebanyakan dari kita menghabiskan sepanjang hari untuk beralih antar tugas.  Satu studi kecil menemukan kecenderungan karyawan berpindah tugas setiap 3 menit.  Apakah Kita juga termasuk di dalam kelompok ini?  Apakah kita juga termasuk yang mengalami short attention span, dimana kita sulit untuk fokus secara jangka panjang?

 

Orang yang berpikir bahwa mereka dapat membagi perhatian mereka diantara banyak tugas sekaligus. Faktanya, mereka melakukan lebih sedikit, menjadi lebih stres dan menghasilkan kinerja yang lebih buruk daripada mereka yang melakukan satu hal di satu waktu. Jadi mengapa begitu banyak dari kita menghabiskan hari-hari kita mencoba untuk melakukan banyak tugas?  Dan jika multitasking sangat buruk bagi kita, bagaimana kita dapat memutus siklus dan melindungi perhatian, fokus, dan waktu kita?  Durasi perhatian (attention span) kita semakin pendek, ketika terbiasa dengan multitasking.

 

Melatih Fokus

Banyak orang yang mengajarkan pentingnya fokus saat belajar dan saat melakukan kegiatan harian. Tapi tidak banyak yang membagikan caranya untuk fokus.  Lantas bagaimana cara meningkatkan fokus kita?  Salah satu cara kuno yang banyak dipakai di dunia modern adalah melalui pelatihan meditasi.

Menurut Daniel Goleman, salah satu tes sukarelawan, mencoba sesi meditasi napas yang pendek dengan menghitung napas. "Hanya tiga sesi hitungan napas 10 menit sudah cukup untuk meningkatkan keterampilan mindfulness mereka pada serangkaian tes. Yang memunculkan pertanyaan penting lainnya: Jika manfaat meditasi meluas semakin dalam latihan seseorang, apakah bermeditasi dalam sesi singkat masih berguna?

Goleman mengatakan “ya”.

"Latihan dapat membantu kita dengan cara yang mengejutkan, tetapi semakin dalam dan semakin banyak kita berlatih, semakin banyak manfaat yang kita dapatkan," katanya. "Penelitian menunjukkan bahwa sejak awal latihan mindfulness melawan efek buruk dari multitasking.  Kita semua melakukan banyak hal dalam sehari."

 

Dan jika kita hanya dapat meluangkan waktu 10 menit untuk meditasi, Goleman menyarankan untuk melanjutkan latihan sadar penuh dalam keseharian.  "Selingi sepanjang hari.  Sepuluh menit di pagi hari, sepuluh menit di siang hari, sepuluh menit di malam hari, maka efeknya berkepanjangan.  Kalau bisa 20 menit, lebih baik lagi.  Kalau bisa setahun, itu bagus.  Lima tahun, bahkan lebih baik."

 

Jadi kesimpulannya, berlatih meditasi akan sangat membantu memperpanjang kemampuan kita untuk terfokus dan menjadi lebih produktif dalam menyelesaikan tugas kita.  Semakin sering kita latih akan semakin baik.  Short times many times.

Napas Sadar

Bagaimana untuk kembali fokus dan beristirahat dari kebiasaan kita yang suka berpindah melalui multitasking? Cobalah untuk melakukan napas sadar. Tentunya kita sudah mengetahuinya.  Izinkan saya mengingatkan praktek napas sadar dengan:

  1. Duduk dengan nyaman,
  2. Tutup mata atau pandangan mata ke bawah,
  3.  Amati napas dengan alami,
  4.  Ambil napas yang tenang dan perlahan,
  5. Tarik napas perlahan melalui hidung, lalu buang napas melalui hidung,
  6.  Jaga agar bahu dan leher tetap rileks,
  7.  Jika pikiran memikirkan hal-hal lain, kembalikan perhatian mengamati napas,
  8.  Rasakan perut kamu naik turun. Jaga agar perut kamu tetap lembut dan rileks,
  9. Akhiri dengan tarik napas mendalam dan membuka mata,
  10. Boleh menggerakkan bagian tubuhnya.

Melatih napas sadar kadang dapat menjadi intimidatif, dimana kita melihat betapa liarnya buah pikiran kita yang mengembara kesana sini dengan begitu cepat.  Tetapi saat kita mengalami hal tersebut dan mampu mengenali “oh pikiranku mulai mengembara”,  kita dapat dengan lembut membawa kembali kepada napas kita.  Menyadari “pikiran kita sudah mengembara” adalah suatu keberhasilan dalam melatih meningkatkan fokus kita sendiri. Jadi ketika kita menyadari kita “gagal fokus”, ini sudah merupakan keberhasilan. Dan penyadaran ini secara perlahan akan meningkatkan kemampuan attention span kita untuk kemampuan fokus dengan durasi yang lebih panjang.

Jadi mengapa kita tidak memulai melatih fokus dan penyadaran kita dari saat ini? Ambil napas sadar, daripada membiarkan buah pikir kamu mengembara.

Pustaka :

Social Intelligent, oleh Daniel Goleman, terbitan Gramedia Pustaka, 2015.

 

Share:

Komentar (0)

Belum ada Komentar.

Ubah Filter Konten
Informasi

Silakan Masuk dengan menggunakan aplikasi Android/IOS