Seluruh Indonesia
Ubah Lokasi
  • Artikel

Cari

Tampilkan Artikel

Ayahku Pahlawanku

U.P. Sutta Vijaya Henry Gunawan Chandra

Jum'at, 11 November 2022

Sagin, MBI, Sekber Yabuddhi, Wulan Bahagia, WBI, SIDDHI, Pemuda Buddhayana

Kalau kita bertanya kepada anak-anak, siapakah pahlawan bagi mereka, mungkin jawabannya akan sangat beragam.  Beberapa akan menyebut nama super hero di dunia komik atau film seperti Superman, Batman, Spiderman, Ironman, Wonder woman, atau mungkin Naruto, Sungoku, Sailormoon, bahkan Dora Emon pun bisa bermunculan.  Sebagian akan menjawab dengan nama-nama pahlawan nasional, seperti Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Cut Nyak Din, Pattimura, dan sebagainya.  Tapi ada juga yang menjawab Guruku, Ibuku dan juga Ayahku.


Semua jawaban di atas tidak ada yang salah.  Masing-masing kita bebas memilih pahlawan bagi diri kita sendiri. Dalam KBBI, pahlawan/pah·la·wan/ orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani;   Dan kalau kita merujuk pada arti kata Pahlawan itu sendiri, maka yang paling mendasar dari seorang Pahlawan adalah Keberanian dan Rela Berkorban.  Semua jawaban tadi masuk kriteria itu, sosok yang pemberani dan rela berkorban, termasuk tentu saja Ibu dan Ayah kita, dua pahlawan yang sangat pemberani dan rela berkorban demi kita semua anak-anaknya. 

Hari ini, di saat artikel ini dipublikasikan, adalah tanggal 11 November 2022.  Kemarin kita merayakan hari Pahlawan, hari yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia, sebuah peristiwa penting dalam sejarah kemerdekaan bangsa ini, yang terjadi di Surabaya, 10 November 1945.  Dan besok kita akan memperingati Hari Ayah Nasional, tanggal 12 November.  Ya kalian tidak salah baca, Hari Ayah Nasional, yang tidak banyak orang tahu kalau itu ada,  karena biasanya kita selalu memperingati hari Ibu, 22 Desember.   Ayah juga bisa disebut sebagai pahlawan keluarga, karena ia memiliki kualitas terhormat ketika menjalani perannya, mencari nafkah bagi keluarga, mendampingi istri dalam mendidik anak-anak, dan menjadi teladan.

Teman-teman apakah pernah menonton serial TV Keluarga Cemara?  Sinetron karya Arswendo Atmowiloto ini pernah menjadi sinetron Indonesia terfavorit, yang ditayangkan di tahun 1996-2005. Mengisahkan sebuah keluarga mapan yang menjadi miskin.  Abah, panggilan untuk Ayah, yang dulunya seorang pengusaha yang sukses dan kaya raya, namun karena suatu kejadian usaha Abah menjadi bangkrut dan keluarganya jatuh miskin.  Untuk tempat tinggalnya mereka harus pindah tinggal di rumah yang terletak di sebuah desa.  Semenjak kemiskinan mengubah nasibnya keluarga Abah semuanya berusaha untuk menghidupi kehidupannya sehari-sehari dengan Abah menjadi tukang becak dan Emak menjadi penjual opak yang dibantu oleh anak-anaknya yaitu Euis, Cemara, dan Agil.  Namun kemiskinan itu tidak mengubah hati mereka karena mereka percaya bahwa harta yang paling berharga adalah keluarga.  Banyak hal positif yang bisa kita ambil dari Sinetron yang tayang setiap minggu ini, terutama sosok Abah, yang penyabar, penyayang dan pantang menyerah, yang memang menjadi tokoh utama dalam Sinetron tersebut.

Atau mungkin teman-teman sudah menonton film “Miracle in cell no.7”, sebuah film drama keluarga terbaru karya Hanung Bramantyo, yang diremake dari sebuah film Korea Selatan, dengan judul yang sama.  Film yang sangat mengharukan ini, menceritakan tentang sosok seorang ayah yang bernama Dodo, si penjual balon, yang memiliki keterbatasan dalam kecerdasan dan bertingkah laku seperti anak-anak, yang tinggal dengan putrinya Kartika, di rumah kecil, samping rel kereta.  Kartika sehari-hari harus menjaga dan merawat ayahnya, tetapi mereka hidup bahagia.  Diceritakan, suatu hari ayah Dodo ditangkap polisi dengan tuduhan pemerkosaan dan pembunuhan seorang seorang gadis kecil bernama Melati.  Setelah berbagai peristiwa yang dialami Dodo di penjara, Dodo berteman dengan para napi di sel nomor tujuh dan mendapatkan bantuan untuk menyelundupkan Kartika ke dalam selnya.  Bersama kepala lapas, mereka semua berusaha membatu Dodo agar bisa lepas dari jeratan hukum yang disangkakan kepadanya.

 

Untuk cerita lengkapnya, penulis tidak sampaikan di tulisan ini, karena memang penulis tidak sedang ingin mengulas film tersebut.  Yang ingin penulis tekankan adalah sosok Ayah yang walau dengan segala keterbatasannya, tetap punya peran yang sangat penting dalam kehidupan keluarga, khususnya anak-anak.  Bak pepatah mengatakan, Ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya dan dia juga pria satu-satunya di dunia ini yang tak akan pernah tega menyakiti anak perempuannya.  Menjadi seorang ayah adalah suatu pilihan, pilihan yang tidak mudah, apalagi untuk menjadi ayah yang bijaksana, yang berani dan penuh pengorbanan, yang bisa dibanggakan oleh keluarga butuh perjuangan yang luarbiasa.

Dalam riwayat Buddha, tentu kita mengenal sosok Bimbisara dan Ajatasattu.  Bimbisara seorang raja dari kerajaan Magadha, dan juga pendukung utama Buddha dan Sangha.  Bimbisara memiliki seorang putra bernama Ajatasattu, yang secara nama bermakna, musuh yang belum lahir.  Karena Cintanya yang begitu besar kepada anaknya, Bimbisara banyak sekali melakukan pengorbanan, yang jarang bisa dilakukan oleh seorang Maha Raja.  Pada saat Ajatasattu masih dalam kandungan, ibunya atas saran dari para pertapa berniat menggugurkan jabang bayinya, tetapi dicegah oleh Bimbisara. 

 

Diceritakan Bimbisara juga pernah menghisap bisul nanah di tangan Ajatasattu hingga pecah dan menelannya karena Ajatasattu menangis tanpa henti.  Tapi Ajatasattu, karena terpengaruh oleh Devadatta, merebut kekuasaan kerajaan dan memenjara ayahnya sendiri, bahkan menyiksanya hingga meninggal dunia.  Kisah ini sangat terkenal, dan di India sampai sekarang, kita masih bisa melihat tempat dimana dulu, Raja Bimbisara di penjara, yang dimana dari lubang jendela penjara itu sang raja bisa melihat bukit Grdhrakuta (Gunung Puncak Burung Nazar), tempat dimana Sakyamuni Buddha sering membabarkan dharma, yang salah satunya yang paling terkenal Prajna Paramita Sutra.

 

Memang, secara langsung, kita tidak menemukan peran Ayah yang terpisah dari peran Ibu di dalam agama Buddha. Ayah dan Ibu selalu disandingkan bersama-sama sebagai orangtua di dalam banyak sutra. Ayah dan Ibu bersama-sama, bahu membahu membina keluarga, mendidik dan membesarkan anak-anak.  Berbakti kepada Ibu selalu juga disandingkan dengan bakti kepada Ayah.  Mereka berdua diibaratkan Dewa Brahma bagi anak-anaknya. Mereka juga adalah Guru yang pertama, yang mengenalkan dan mengajarkan anak-anaknya akan nilai-nilai kebenaran. Dan dapat berbakti kepada Orangtua adalah suatu berkah utama. Jadi bagi teman-teman yang masih memiliki Ayah dan Ibu, sayangilah mereka, berbaktilah kepada mereka.

 

Buat para ayah yang membaca artikel ini, teruslah menjadi Ayah yang bajik dan bijak, yang bisa menjadi Pahlawan bagi keluarga khususnya anak-anak.

 

Selamat Hari Ayah Nasional.

Share:

Komentar (1)

Amin Untario

Kamis, 17 November 2022 07:11

bagus sekali …

Ubah Filter Konten
Informasi

Silakan Masuk dengan menggunakan aplikasi Android/IOS