Seluruh Indonesia
Ubah Lokasi
  • Artikel

Cari

Tampilkan Artikel

Melihat Dharma

U.P. Panna Dharma Haryanto Tanuwijaya

Jum'at, 26 Mei 2023

MBI

“Sekalipun seseorang memegang ujung jubahKu dan terus berjalan mengikuti di belakangKu, jika dipenuhi iri hati, nafsu keinginan besar, dengki, pikiran culas, ceroboh, pembuat onar, pikiran kacau, dan tak terkendali indranya; ia sesungguhnya jauh dariKu. Mengapa? Karena ia tak melihat Dharma, dan karena tak melihat Dharma berarti ia tak melihatKu"
(Itivuttaka 91)


Saat purnama siddhi di bulan Waisaka, yang tahun ini diperingati di tanggal 4 Juni 2023, seluruh umat Buddha di Indonesia memperingati Trisuci Waisak 2567 TB/2023 untuk mengenang tiga peristiwa agung yaitu lahirnya pangeran Sidharta di Taman Lumbini, pencapaian pencerahan sempurna pertapa Sidharta menjadi Buddha di Buddha-gaya, dan Mahaparinibbana/wafatnya Buddha Gotama pada usia 80 tahun di Kusinara. Sebagaimana pesan Waisak 2567 TB/2023 dari Sangha Agung Indonesia, tiga peristiwa agung ini hendaknya menjadi teladan bagi kita dalam mempertahankan dan mengembangkan Buddha Dharma di Bumi Nusantara. 

Dhamma (bahasa Pali) atau Dharma (bahasa Sanskerta) merupakan ajaran guru agung kita  Buddha Gotama. Dharma memiliki pengertian Kebenaran Mutlak atau Hukum Abadi, merupakan kebenaran semesta dari segala sesuatu yang berwujud maupun tidak berwujud dan bersifat abadi sehingga tidak dapat berubah atau diubah. Sebagaimana Sabda Buddha yang tertulis dalam Dhammaniyama Sutta, “O para Bhikkhu, apakah para Tathagata muncul di dunia atau tidak, Dharma akan tetap ada, merupakan hukum yang abadi.”

Perlu kita pahami bahwa Dharma bukan hanya hadir dalam hati sanubari setiap orang, namun juga hadir pada segala sesuatu sebagai Rupadhamma dan Namadhamma. Dharma yang berwujud seperti rasa sakit, kulit kriput, dan wujud lainnya disebut Rupadhamma, sedangkan Dharma yang tidak berwujud seperti pikiran, perasaan, dan persepsi disebut Namadhamma. Jadi sebenarnya kita ini telah hidup bersama Dharma, berada di dalam Dharma, bahkan kita sendiri adalah Dharma.  Namun demikian, mengapa selama ini kita mengalami kesulitan melihat Dharma?

Kenyataan menunjukkan bahwa kesulitan seseorang melihat Dharma terletak pada adanya kekotoran dalam batin yang disebut kilesa. Kilesa menyebabkan batin kita tidak mampu memeriksa atau memegang Dharma untuk penyelidikan (ehipassiko) yang lebih teliti. Batin selalu sibuk, cenderung mengembara kesana kemari diantara objek-objek luar sehingga belum cukup damai dalam penyelidikan Dharma atau Kebenaran. Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa pengembaraan batin dapat mengembangkan pengetahuan secara teoritis dalam keilmuan dan intelektualitas namun sejatinya itu bukanlah Dharma. Oleh karena itu, belajar dari buku saja tidaklah cukup untuk kita dapat melihat Dharma. Kilesa tetaplah kilesa persis seperti apa adanya. Kilesa dapat menyebabkan kita bersikap tidak adil baik pada sesama maupun makhluk hidup lainnya. Kilesa menguasai pikiran (citta) kita sehingga mendorong kita melakukan perbuatan buruk yang bertentangan dengan Dharma. Sekarang jelas sudah bagaimana kilesa menghalangi kita melihat Dharma.

Dalam perjalanan kehidupan kita sepanjang hari, kita seringkali merasa sudah melihat Dharma. Padahal kenyataannya kita hanya melihat permukaan belaka, seperti kita mengenali bentuk dan gambar sampul sebuah buku melalui mata dan imajinasi sehingga mendorong kita masuk ke dalam ingatan akan naskah yang pernah kita baca sebelumnya.  Tentu saja ini bukan pengertian dari dalam diri sendiri dan yang pasti ini bukan Dharma. Itulah sebabnya meskipun Dharma ada di dalam diri kita, namun nyatanya kita tidak mampu melihatnya.

Lalu pertanyaan selanjutnya Dharma seperti apa yang terlihat nilai tertingginya?
Jawabannya tiada lain adalah Dharma yang telah menjadi pengertian pribadi di dalam diri sendiri oleh diri sendiri (Paccatam). Dharma hanya dapat dilihat melalui batin seseorang yang terlatih dan siap. Seseorang yang tidak lagi memegang kilesa berarti dia tidak lagi menodai batinnya. Inilah jawaban dari kesulitan kita untuk dapat melihat Dharma.

Setelah mengetahui persoalan dasar dari kesulitan kita, lalu apa yang selanjutnya harus kita lakukan agar dapat melihat Dharma?
Tidak lain tidak bukan kita harus berlatih diri, melatih batin kita agar batin mampu melihat Dharma yang sejati. Semua itu bergantung seberapa besar tekad kita melatih batin agar siap melihat Dharma. Kesempatan hanya datang menghampiri seseorang yang terlatih, siap dan pantang menyerah. Dalam Dhammaniyama Sutta, Buddha Gotama berkata, “Engkau sendirilah yang harus berusaha, Tathagata hanya penunjuk jalan”. Namun demikian sebagai seorang pembelajar, kita tetap membutuhkan bimbingan seorang Guru yang mengerti dan telah merealisasikannya. Latihan kita akan lebih sempurna apabila didukung tempat dan lingkungan yang kondusif agar membantu keberhasilan dalam melatih batin kita.

Batin yang terlatih dan sepenuhnya damai akan dapat melihat dengan sangat jelas bahwa kebijaksanaan adalah dasar bagi moral. Kebijaksanaan dibutuhkan agar kita bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang pantas dan harus dilakukan dengan mana yang tidak pantas dilakukan. Kebijaksanaan datang sebelum kesempurnaan kesusilaan. Manakala kebijaksanaan tumbuh, maka kita tahu kapan saatnya kita harus menghindari perbuatan buruk. Dengan demikian kekuatan Sati, Samadhi, dan Panna telah berhasil dikembangkan secara sempurna. Inilah cara yang akan membawa kita pada penghayatan ajaran Buddha. Pada saat itulah kita dapat melihat Dharma yang sesungguhnya, Dharma yang sejati. 


Sumber Pustaka:
Dharmasurya Bhumi Mahathera. 2020. Menemukan Dharma Dalam Kehidupan Sehari-hari. Bandung: Penerbit Pemuda Vihara Vimala Dharma. 
Ajahn Chan. 2006. Hidup Sesuai Dharma. Penerbit Dian Dharma. 
Sangha Agung Indonesia. 2023. Harmonis Masyarakat Damai Negaranya. Pesan Waisak 2567 TB / 2023 Sangha Agung Indonesia.

Share:

Komentar (0)

Belum ada Komentar.

Ubah Filter Konten
Informasi

Silakan Masuk dengan menggunakan aplikasi Android/IOS