Seluruh Indonesia
Ubah Lokasi
  • Artikel

Cari

Tampilkan Artikel

Artikel Populer

Jum'at, 08 Juli 2022

Nasihat Nagarjuna Kepada Raja

Jepang dan Piala Dunia

U.P. Sutta Vijaya Henry Gunawan Chandra

Jum'at, 09 Desember 2022

Sagin, MBI, Sekber Yabuddhi, Wulan Bahagia, WBI, SIDDHI, Pemuda Buddhayana

Jepang dan Piala Dunia.  “Apa hubungannya?”, mungkin itu komentar pertama yang keluar dari mulut kita atau di dalam pikiran kita, ketika membaca judul artikel ini.  Jepang memang langganan Piala Dunia, sudah 7 kali Piala Dunia terakhir ini Jepang selalu ada, tapi jauh dibanding negara-negara besar sepakbola seperti Brasil, Argentina, Belanda, Inggris, Perancis, dan lainnya. Jepang memang pernah jadi tuan rumah piala dunia 2002, bersama Korea Selatan, tapi itu kan sudah 20 tahun lalu, sekarang Piala Dunia 2022, yang masih berlangsung hingga artikel ini ditulis, diadakan di Qatar, Timur Tengah.  Jepang memang bikin kejutan juga sih, mampu mengalahkan Jerman dan Spanyol di babak penyisihan group, walaupun akhirnya harus pulang lebih cepat karena kalah lawan Kroasia pada drama adu pinalti, ngomong-ngomong tim Jerman dan Spanyol juga pulang lebih awal.  Tapi kan gak ada yang terlalu spesial juga.    Jadi apa hubungannya Jepang dan Piala Dunia? Apa istimewanya?


Istimewanya, Jepang  punya sebuah tradisi atau budaya yang sangat dikagumi oleh seluruh dunia.  Tradisi apa itu? Jepang punya budaya atau tradisi bersih-bersih yang sangat terkenal dan dikagumi semua orang.  Dan Jepang yang diwakili oleh para supporter yang hadir mendukung negaranya bertanding, selalu melakukan itu di setiap piala dunia dan event besar lainnya, di seluruh dunia, dimana mereka hadir.  Mereka selalu pulang paling terakhir dari semua penonton lain, dan mereka membersihkan semua sampah-sampah yang ditinggalkan penonton lain di lapangan.

Kok bisa sih? Kok mau ya?  Ada sekelompok orang yang membersihkan sisa-sisa sampah orang lain, dan itu dilakukan sukarela, tanpa dibayar.  Menurut Powell & Cabello yang melakukan penelitian tentang “Tradisi bersih-bersih Jepang” yang telah berusia ratusan tahun itu berakar pada ajaran Buddhisme Zen. Dalam Zen, kegiatan bersih-bersih dianggap sebagai latihan spiritual yang serupa dengan meditasi (Powell & Cabello, 2019).  

Tradisi bersih-bersih ini pun akhirnya diserap oleh masyarakat Jepang, dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari mereka.  Mereka juga selalu melakukan kegiatan bersih-bersih pada akhir tahun yang disebut
Oosouji atau pembersihan besar. Kegiatan yang biasanya dilakukan seminggu penuh oleh anggota keluarga untuk menyambut tahun baru. Pembersihan besar-besaran ini dianggap sebagai ritual membersihkan nasib buruk untuk menuju awal baru yang baik.   
 
Tradisi bersih-bersih ini pun diajarkan sejak dini di sekolah. “Selama 12 tahun kehidupan sekolah, dari sekolah dasar hingga sekolah menegah, waktu kebersihan adalah bagian dari jadwal harian siswa,” kata Maiko Awane, Asisten Direktur kantor pemerintahan Prefektur Hiroshima di Tokyo, “Dalam kehidupan rumah tangga kita juga, orang tua mengajari kita bahwa buruk bagi kita untuk tidak menjaga barang-barang dan ruangan kita tetap bersih.” (Powell & Cabello, 2019).  
 
Inilah menariknya Jepang, pengaruh Zen Buddhism yang begitu kental, yang sangat mewarnai budaya dan tradisi yang ada.  Banyak budaya lainnya yang juga sangat khas Jepang, yang tidak kita temui di negara Buddhis lainnya.  Seperti Origami, Ikebana, Zen Garden, termasuk tradisi hormat dengan membungkukkan badan kepada orang lain, selayaknya kita biasanya menghormat di depan altar Buddha.
 
Tradisi bersih-bersih, sebenarnya kita lakukan juga sehari-hari.  Kita mandi, sikat gigi, menyapu, mengepel, dan lainnya untuk tujuan kebersihan dan kesehatan kita. Tetapi mungkin kita belum membiasakan itu menjadi budaya yang kita terapkan dalam semua aspek kehidupan kita. Tradisi Zen Buddhism yang berwujud aksi bersih-bersih ala Jepang ini sudah selayaknyalah kita tiru.  Selain baik untuk untuk kebersihan dan lingkungan, juga baik untuk melatih kita membersihkan kekotoran batin kita.  Karena pada dasarnya latihan bersih-bersih ini adalah praktik spiritual yang diwujudkan dalam aktifitas nyata, yang intinya adalah latihan untuk membersihkan diri kita dari kekotoran batin. Buddha menjelaskan kepada siswanya, ada banyak kekotoran batin dalam diri manusia, yang dikenal dengan istilah Kilesa (Pali) atau Klesha (Sanskrit).  Kecemasan, Ketakutan, Kemarahan, Kecemburuan, Keinginan berlebih, Depresi dan sebagainya adalah bentuk-bentuknya.  Dan semua itu bermula dari Lobha, Dosa dan Moha. Makanya ada yang menyebutnya sebagai Tiga Akar, tapi ada juga yang menyebutnya sebagai  Tiga Racun, Tiga Sumber Penderitaan, dan sebagainya.
 
Dalam Abhidhamma, dijelaskan ada 10 macam kekotoran batin yaitu:  1. Keserakahan  (Lobha); 2. Kebencian (Dosa); 3. Delusi (Moha); 4. Pandangan salah (Micchaditthi); 5. Kesombongan (Mana); 6. Keraguan (Vicikiccha); 7. Kemalasan (Thina); 8. Kegelisahan (Uddhacca); 9. Tidak tahu malu (Ahirika);
10. Kenekatan (Anottapa)
 
Untuk membersihkan kekotoran batin itu, Buddha mengibaratkan seperti sebuah Pohon, ada Akar, Batang dan Cabang. Untuk menebangnya, kita harus mulai dari bagian atas yaitu cabang dan ranting pohon yang penuh dengan daun; setelah itu kita tebang batangnya dan pada akhirnya baru mencabut akarnya. Kekotoran Batin yang Kasar (VITIKKAMA KILESA), dilambangkan sebagai cabang  pohon dengan daun yang lebat.  Kekotoran batin ini keluar melalui jasmani dan perkataan.  Kasat mata, dan kita mengatasinya dengan mempraktikkan SILA. Kekotoran Batin yang Sedang (PARIYUTTHANA KILESA)  dilambangkan sebagai batang pohon.  Kekotoran batin ini timbulnya hanya dari pikiran saja dan tidak keluar melalui jasmani dan ucapan.  Jenis kekotoran batin ini dapat dilenyapkan dengan SAMADHI. Kekotoran Batin yang Halus (ANUSAYA KILESA), dilambangkan sebagai akar yang mencengkram kuat di dalam tanah.  Jenis kekotoran batin yang halus ini, sulit untuk diketahui.  Jenis kekotoran batin ini dapat dilenyapkan dengan PANNA. (Pohon Kekotoran Batin (sasanasubhasita.org))
 
Wah berat banget nih, apakah ada yang jauh lebih sederhana dan mudah untuk kita jalankan? Mungkin teman-teman pernah membaca atau mendengar cerita mengenai Culapanthaka, seorang biksu di jaman Buddha Gautama, yang karena kelemahan dalam menyerap pengetahuan, sehingga Beliau tidak bisa mengerti apapun ajaran yang disampaikan oleh Buddha.  Hingga akhirnya Buddha memberikan selembar kain putih dan meminta Culapanthaka untuk membersihkan semua yang kotor dengan kain putihnya itu, sambil mengulang kata “Rajoharanam”, yang berarti “kotor”.  Yang mana diceritakan di saat keringat Beliau jatuh mengenai kainnya yang kotor itu, seketika melihat perubahan warna pada kainnya itu, Beliau mencapai pencerahan.  Arahat.
 
Kisah Bhante Culapanthaka ini sangat menginspirasi, sekaligus menyadarkan kita untuk tidak pernah meremehkan kegiatan kecil, yang terlihat sepele, seperti membersihkan altar wihara, memandikan rupang Buddha dan para Bodhisatwa.  Karena kalau kita bersungguh-sungguh melakukannya, maka hasilnya sangat luarbiasa.  Mari kita lakukan bersih-bersih di rumah kita, di lingkungan kita, di wihara kita.  Mari kita tiru apa yang dilakukan para supporter Jepang ini. Dan walaupun Jepang memang tidak menang Piala Dunia, tetapi mereka memenangi hati orang banyak, semua pencinta bola di seluruh dunia.  


Arigato Japan, Ganbatte Kudasai.






Sumber :
Powell, S. J., & Cabello, A. M. (2019). What Japan can teach us about cleanliness. Retrieved November 24, 2022, from BBC website: https://www.bbc.com/travel/article/20191006-what-japan-can-teach-us-about-cleanliness
Kleshas (Buddhism) - Wikipedia
Pohon Kekotoran Batin (sasanasubhasita.org) 

Share:

Komentar (1)

Amin Untario

Kamis, 15 Desember 2022 19:41

mantap dan menginspirasi tulisan ini

Ubah Filter Konten
Informasi

Silakan Masuk dengan menggunakan aplikasi Android/IOS