Seluruh Indonesia
Ubah Lokasi
  • Artikel

Cari

Tampilkan Artikel

Dilema hubungan Orang Tua dan Anak

U.P. Danny Liangga, S.Kom., M.Pd., DMd

Jum'at, 04 November 2022

Pemuda Buddhayana, SIDDHI, WBI, Wulan Bahagia, Sekber Yabuddhi, MBI, Sagin

Kehidupan manusia sangatlah kompleks dan tidak jarang muncul permasalahan dari proses kehidupan yang terjadi setiap harinya. Salah satu permasalahan yang dapat terjadi adalah hubungan antara orangtua dan anak di rumah.


Permasalahan yang satu ini cukup pelik, sebab permasalahan ini tidak secara gamblang dapat terlihat dan diketahui sampai orang yang bersangkutan ingin menceritakannya. Beruntung jika orang tersebut menceritakannya, sehingga ada peluang untuk selesainya masalah tersebut dengan diberikan bimbingan dan konseling. Namun masih kita temukan orang-orang yang enggan menyampaikan masalah yang berkaitan dengan hal ini dan memilih untuk menyimpannya sendiri atau bahkan menyelesaikannya dengan cara mereka sendiri. Permasalahannya tentu apakah hal itu akan selesai dengan baik-baik atau tidak.

Jalan menuju selesainya dilema hubungan orang tua dan anak ini telah ada di dalam ajaran Buddha, hanya perlu menyesuaikan penyampaiannya kepada orang yang bermasalah tersebut agar dapat ia pahami dan mengerti, sehingga ia dapat mengambil tindakan yang tepat untuk menyelesaikannya.   

Beruntung jika bisa diselesaikan dengan baik di kehidupan ini dan akan tidak beruntung jika orang itu menyelesaikannya dengan tidak baik dalam kehidupan ini, sebab dalam agama Buddha dipercayai adanya suatu proses kelahiran kembali (Punarbhava).  Kita meyakini bahwa proses kelahiran kembali sangat ditentukan oleh karma, karena setiap perbuatan yang dilandasi kehendak akan membuahkan hasil atau akibat. Perbuatan baik, akan berbuah baik dan menghasilkan jodoh baik sedangkan perbuatan buruk akan berbuah buruk dan menghasilkan jodoh yang tidak sesuai.

Hal itulah yang menjadi penyebab kita berjodoh dengan orang-orang yang ada bersama kita saat ini, salah satunya adalah sebagai orang tua ataupun anak kita. Tantangannya adalah bagaimana menyelesaikan jodoh yang tidak sesuai agar menjadi sesuai?

Dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi antara orang tua dan anak, tidak boleh mencari dan menuduh siapa yang benar dan siapa yang salah. Karena saat mencari siapa benar dan siapa salah, akan mulai timbul kebencian yang amat halus di dalam batin seseorang.  Ragam masalah orang tua dan anak tentu sangat kompleks, hal ini juga dipicu karena adanya komunikasi yang tidak terjalin dengan baik, perbedaan pola pikir orang tua dan anak yang amat jauh dari segi usia, kurangnya mendapat pengertian yang benar dan masih banyak lagi.  Wajar, bahkan sangat wajar sekali akan timbul gesekan dari hal-hal seperti itu dan itulah kenyataan yang terjadi di masyarakat.  

Dari masalah perbedaan pola pikir saja sudah akan timbul banyak masalah, seperti orang tua meyakini bahwa anaknya perlu pulang lebih cepat ke rumah agar tidak terjadi hal-hal buruk, sedangkan anaknya merasa bahwa ada banyak keseruan di luar dan mereka masih perlu menikmatinya sampai puas hingga pulang larut malam. Tentu ada alasan orang tua memiliki pola pikir demikian yang dikarenakan didikan masa kecil, pengalaman hidup dan sebagainya serta masih banyak lagi ragam sebab timbulnya permasalahan dalam hal ini.

Ajaran Buddha menawarkan jalan menuju selesainya permasalahan tersebut. Semua orang tua tentu mengharapkan anak yang terbaik hadir dalam kehidupannya dan semua anak mengharapkan memiliki orang tua yang terbaik. Namun sekali lagi, suka ataupun tidak suka kita kepada orang tua atau anak kita, ini semua adalah hasil jodoh pada kehidupan lampau, maka pada kehidupan ini secara alami kita akan menyukai ataupun tidak menyukai mereka. 

Orang tua yang mengharapkan anak yang baik tentu akan berupaya agar anaknya sejak lahir terus mendapatkan yang terbaik darinya, diantaranya seperti diberi kasih sayang, diberikan pengertian yang baik, dijauhkan dari tontonan kekerasan atau yang tidak pantas ia tonton, dijaga pergaulannya, diajarkan cara berbakti, diajarkan mandiri, sopan santun serta etika. Sehingga anak ini kelak akan bersikap pantas dan tidak menyusahkan orang tuanya.  

Menurut pendapat yang dikemukakan oleh seorang ahli bernama Djaali (2015:128) menyatakan “Kebiasaan merupakan cara bertindak yang diperoleh melalui belajar secara berulang-ulang, yang pada akhirnya menjadi menetap dan bersifat otomatis’’.  Dengan demikian peran orang tua untuk mendapatkan sikap anak yang sesuai, dapat tercapai jika ada program-program baik yang ditanamkan kepada anak itu sejak usia dini.  Sebab kita tidak dapat secara pasrah mengikuti jalan hidup kita begitu saja, artinya ada pemikiran bahwa “Yah, beginilah hidup saya, beginilah anak saya, mau bagaimana lagi?”  Harus diingat bahwa hidup ini adalah sebab dan akibat, jika anda tidak berusaha menciptakan sebab-sebab agar anak anda dapat mandiri dan bersikap baik, maka akibatnya tidak pernah akan terjadi. Kebiasaan itu datang dari proses belajar secara berulang-ulang, yang pada akhirnya menjadi menetap dan bersifat otomatis.

Anda ingin anak yang berkebiasaan baik?  Latih dan tanamkan sejak usia dini. Kewajiban orang tua terhadap anak untuk mendidik dan melatih mereka agar menjadi anak yang baik, mengerti sopan satun, tahu etika dan moral serta bisa mandiri, tentu sesuai dengan yang terdapat pada Sigalovada sutta (Digha Nikaya III:189), seperti poin yang berkaitan dengan mencegah anak berbuat jahat, menganjurkan anak berbuat baik & memberikan pendidikan profesional kepada anak.

Dari sisi seorang anak memahami orang tua juga muncul banyak sekali dilema. Sebagai seorang pendidik, saya banyak sekali menemui murid-murid sekolah yang datang untuk mencurahkan keluh kesah mereka tentang permasalahannya dengan orang tua mereka di rumah.   Dari hal ini saya menyadari sangat penting peran kita untuk memberikan pengertian yang benar kepada anak-anak terhadap orang tua mereka. Tentu saat mendengar keluh kesah mereka, saya tidak membuat mereka berpikir bahwa semua adalah salah orang tua, tetapi mengajak mereka untuk dapat melihat kebenaran, melihat kenyataan bahwa mereka memang tengah berjodoh dengan orang tua yang demikian dan ini harus dapat mereka terima terlebih dahulu sebagai langkah awalnya.

Murid-murid yang datang konseling dengan saya harus saya damaikan dan teduhkan dahulu perasaan mereka, hingga kemudian saat sudah terkendali, dapat mulai saya sisipkan nilai-nilai ajaran Buddha yang dapat mereka praktikkan.  Banyak anak-anak yang terfokus ingin segera merubah orang tua mereka, ingin memiliki orang tua sesuai harapan mereka, sehingga langkah awal yang saya berikan adalah saya ingin agar mereka pertama kali menyadari bahwa mereka mendapat orang tua yang demikian, berjodoh dengan orang tua yang demikian dan hal ini tidak dapat dipungkiri, inilah kenyataannya.  Setelah murid itu mulai dapat menerima kenyataan, kita mulai dapat menyisipkan langkah-langkah yang dapat mereka lakukan kepada orang tuanya.

Seyogianya memang akan sulit jika anak-anak berusaha mengubah orang tua mereka, atau bahkan untuk sekedar memberi nasehat kepada orang tuanya, apalagi kepada orang tua yang pada dasarnya tidak mendalami ajaran Buddha. Berjodoh lahir sebagai anak dari orang tua tertentu adalah buah karma masa lampau yang diwarisi, baik atau buruk itu pula yang harus diterima.  Tentu ada hutang-hutang masa lampau yang harus dilunasi dan ada buah tindakan-tindakan masa lampau yang buruk sehingga harus kembali berjumpa dan melunasinya.

Cara yang dapat dilakukan anak-anak yang berjodoh dengan orang tua yang dirasa kurang sesuai dengannya adalah dengan berbuat banyak kebajikan, membaca paritta, melafal nama Buddha dan kemudian melimpahkannya kepada orang tua dengan harapan agar terjadi kesesuaian, keharmonisan dalam menjalin hubungan antara orang tua dan anak.  

Sebab sangat perlu adanya pemurnian diri seseorang dari hal-hal buruk salah satunya adalah dengan metode melafal nama Buddha dan mantra seperti yang disampaikan oleh Yang Arya Shantideva seorang cendekiawan Buddhis yang berasal dari India pada abad ke-8, memaparkan daftar enam perbuatan spesifik untuk memurnikan karma buruk, diantaranya adalah melafalkan nama Tathagatha (Buddha) dan melafalkan mantra atau dharani.   

Kuncinya, perlu disampaikan kepada mereka bahwa jangan menyelesaikan masalah dengan masalah, misalnya jika ada orang tua yang marah-marah janganlah dibalas dengan marah-marah juga, karena itu akan semakin membuat permasalahan menjadi rumit dan sulit.  


Tidak dapat dipungkiri bahwa tidak semua orang tua telah mengenal ajaran Buddha dengan baik, oleh karena itu sebagai anak yang telah mengenal ajaran Buddha, perlu dapat memahami dan mendalami ajaran Buddha yang menuntun kepada perdamaian dan dapat menyelesaikan masalah dengan bijaksana. Sehingga mereka tidak menyelesaikan masalah secara keliru, yang keluar dari kebijaksanaan.  Watak keras orang tua harus dihadapi dengan kesabaran, cinta kasih, dan berusaha mengikis jodoh buruknya dengan pelimpahan jasa setelah melakukan kebajikan.  Hal ini pasti akan memperlihatkan hasil yang baik suatu hari nanti.  Ini telah penulis lakukan dan alami sendiri sebagai seorang praktisi dan pendidik agama Buddha. Tapi harus diakui, perlu kesabaran dan ada banyak tantangan. Oleh karena itu penulis merasa sangat penting untuk menyampaikan persoalan ini melalui tulisan, yang ditujukan kepada orang tua dan anak.  

 

Dan sekali lagi penulis tekankan, bahwa ini bukan tentang mencari siapa yang benar dan salah, melainkan untuk melihat kenyataan dan bagaimana agar bisa lebih baik lagi ke depannya. Harapan penulis dengan artikel ini, dapat membantu hubungan orang tua dan anak yang tadinya tidak baik menjadi baik, yang tadinya tidak harmonis menjadi harmonis, yang tadinya tidak bersatu menjadi bersatu.  

 

Semoga Dharma dan kebaikan serta kebahagiaan akan menyebar ke seluruh penjuru.  Semoga keberkahan ada pada kita semua dan semoga semua makhluk hidup berbahagia.

 

Referensi :

Djaali, 2015, Psikologi Pendidikan, Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Digha Nikaya (III:189)


Share:

Komentar (0)

Belum ada Komentar.

Ubah Filter Konten
Informasi

Silakan Masuk dengan menggunakan aplikasi Android/IOS