Seluruh Indonesia
Ubah Lokasi
  • Artikel

Cari

Tampilkan Artikel

Kathina "Mari berdana"

U.P. Ditthi Dhammo Parman

Jum'at, 14 Oktober 2022

Sagin, MBI, Sekber Yabuddhi, Wulan Bahagia, WBI, SIDDHI, Pemuda Buddhayana

Bulan Kathina sudah tiba.  Bulan penuh berkah bagi kita para perumah tangga. Dalam satu bulan ke depan ini umat Buddha akan merayakan “Berdana di bulan Kathina”.  Kathina umumnya dikenal sebagai bulan berdana kepada Sangha, komunitas para biksu/biksuni, yang telah usai menjalankan masa vassa (berdiam di suatu tempat selama musim hujan), dimana tradisi ini sudah ada sejak zaman kehidupan Buddha, dan tetap berlangsung hingga saat ini.  Banyak wihara yang sudah mempersiapkan kegiatan ini, umat Buddha begitu antusias untuk melakukan persembahan dana kepada Sangha, mulai dari para petani di pelosok desa sampai para pengusaha di kota-kota besar.  Dari wihara yang masih menggunakan cara tradisional maupun wihara yang lebih modern dalam menerapkan cara persembahan kepada Sangha. 


Penulis punya pengalaman waktu masih tinggal di Sampetan, Boyolali, umat Buddha di pedesaan yang rata-rata bermata pencaharian sebagai petani atau buruh tani, dengan kesederhanaannya mereka berdana hasil tani mereka, sayuran, cabe, kubis, labu siam, jagung, dan lain-lain,  berbeda sekali dengan dana pada umumnya saat ini yang berupa paket-paket dan dana uang.  Tapi inilah keunikannya, yang perlu kita lihat secara mendalam yaitu ketulusan, berdana tanpa harapan yang neko-neko, sangat sederhana, mereka berdana tanpa memandang apa yang dipersembahkan. Namun dari niat mereka yang betul-betul tulus ini mereka melakukannya dengan penuh kebahagiaan yang luar biasa.

 

Demikian sedikit pengantar mengenai Kathina, yang ingin penulis ajak kita bahas lebih jauh disini adalah cara BERDANA YANG BENAR agar bisa menimbulkan manfaat bagi kita yang melaksanakan “berdana”.  Di dalam Dana Sutta, Buddha bersabda : “Benar Sāriputta, akan terdapat suatu keadaan dimana seseorang yang melakukan suatu bentuk pemberian dan tidak mendapatkan hasil atau manfaat yang besar; sedangkan sebaliknya seseorang yang lain melakukan suatu bentuk pemberian dan mendapatkan hasil atau manfaat yang besar”,(A.IV/59)

 

Dalam Sutra itu juga dijelaskan bahwa terdapat berbagai sebab dimana praktik dāna yang dilakukan oleh seseorang, bisa tidak memberikan hasil atau manfaat yang besar.  Sebab-sebab tersebut adalah jika seseorang: 1) berdana untuk kepentingannya sendiri, melekat pada manfaat yang akan dinikmatinya setelah meninggal; 2) berdana dengan berpikir bahwa ini adalah perbuatan yang baik untuk dilakukan dan tidak berpikir untuk kepentingan diri sendiri; 3) berdana karena melanjutkan tradisi dalam keluarga yang telah berlangsung sejak waktu yang lampau; 4) berdana karena menganggap ini adalah sebuah kewajiban seseorang yang mampu untuk memberi pada yang tidak mampu; 5) berdana setelah merenungkan pengorbanan yang telah dilakukan oleh para bijaksana di masa lampau; dan 6) berdana karena berpikir bahwa dengan melakukannya akan mendatangkan kedamaian, kepuasan dan kebahagiaan dalam batin.  

 

Mendalami makna dari sutra tersebut, hendaknya kita berdana dengan diikuti pikiran yang baik, sebagaimana di dalam Dhammapada Yamaka Vagga, syair pertama dan kedua, dikatakan bahwa pikiran adalah pelopor, pemimpin dan pembentuk.   Namun tentu untuk mampu sampai ke tahapan itu kita perlu terus berlatih memberi atau berdana sebagai upaya kita untuk belajar melepas.  Dengan berbagai jenis dāna yang dapat dilakukan, baik secara materi maupun non-materi, maka sebenarnya praktik ini tidaklah sulit.  Hal terpenting yang harus kita miliki untuk berdana adalah memunculkan niat atau mengkondisikan niat yang telah muncul, berikutnya menjaga niat tersebut agar tetap tulus hingga pada saat kita selesai berdana.

 

Hal ini sangat penting untuk diperhatikan karena terkadang kita mengalami berbagai kondisi yang menjadi penghambat untuk melakukan perbuatan baik tersebut.  Hambatan tersebut dapat muncul oleh pengaruh perspektif sendiri maupun perspektif orang lain. Beberapa contoh hambatan tersebut adalah ketidakpercayaan diri untuk berdana karena hanya memiliki sedikit materi untuk didanakan atau karena tidak ada teman untuk turut serta berdana; mengurungkan niat untuk berdana atau bahkan tidak ingin berdana sama sekali karena beberapa alasan seperti objek berdana adalah orang yang tidak disukai, entah karena diri sendiri tidak menyukai atau karena ada pihak yang membicarakan tentang kekurangan atau keburukan dari objek penerima dana, atau karena ada orang yang tidak disukai ikut serta berdana, atau karena memiliki kegiatan yang dianggap lebih penting, baik yang berhubungan dengan pekerjaan, keluarga maupun sosial. Dalam aspek yang lebih khusus, namun tidak jarang terjadi di kalangan umat Buddha, hambatan dalam berdana bisa berupa ketidakcocokan dengan wihara tertentu, entah karena berbeda sekte ataupun alasan yang lainnya.  

 

Sekilas kedengarannya lucu dan aneh ya, tapi kenyataannya ini nyata terjadi.  Tentu ini patut kita sadari agar kita tidak terjebak melakukan hal konyol yang serupa.  Kita harus selalu ingat dalam melakukan dana kita harus memperhatikan : 1) Berpikiran baik sebelum berdana; 2) Berpikir baik saat melakukan berdana; 3) Berpikir baik setelah berdana.

 

Dalam banyak kondisi batin yang positif dan baik untuk dikembangkan, dāna menjadi salah satu faktor di dalamnya. Marilah para umat Buddha belajar memberi dengan pikiran bajik, belajar memberi tidaklah harus dengan materi yang banyak, memberi dengan belajar senyum kepada orang lain secara positif dan penuh cinta kasih itu juga suatu proses Latihan.  Selamat mencoba dan belajar.  Selamat Hari Kathina.

Share:

Komentar (0)

Belum ada Komentar.

Ubah Filter Konten
Informasi

Silakan Masuk dengan menggunakan aplikasi Android/IOS