Seluruh Indonesia
Ubah Lokasi
  • Artikel

Cari

Tampilkan Artikel

Artikel Populer

Jum'at, 26 Agustus 2022

Ojo Dibandingke

Jum'at, 08 Juli 2022

Nasihat Nagarjuna Kepada Raja

Iri Positif, Bolehkah?

U.P. Mita Kalyani Irma Gunawan

Jum'at, 30 September 2022

WBI

Iri hati memainkan peranan besar di dalam tindakan seseorang, terutama dalam tingkat sosial, politik dan ekonomi, bahkan juga terjadi di bidang keagamaan. Rasa iri seringkali dikonotasikan dengan hal yang negatif, karena ketidaksukaan seseorang atas keberhasilan atau kondisi orang lain yang lebih baik dalam dirinya. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, iri artinya: merasa kurang senang melihat kelebihan orang lain (beruntung dan sebagainya), cemburu, sirik, dengki.


Tapi yang ingin penulis bahas adalah perasaan iri yang berbeda.  Penulis pernah mengalami, saat berbincang di dalam komunitas kepengurusan dan sedang membahas soal acara yang membutuhkan tambahan dana, penulis terkesan dengan pernyataan seorang ketua yang kurang lebih seperti ini, “Sudah tenang saja, saya siap membantu bila kekurangan dana, karena ini kesempatan saya untuk berbuat baik, jangan khawatir acara jalan terus saja.”

 

Kebaikan ini ternyata sempat menimbulkan turut ber-iri-cita bagi penulis yang ingin melakukan hal yang sama, namun karena skala ekonomi yang berbeda dengan beliau, ini hanya jadi angan yang tersimpan dulu hingga waktunya berbuah.

 

Perasaan ini juga ternyata dialami beberapa teman aktivis Buddhis yang memiliki keinginan yang sama dan permasalahan hati yang sama.  Kadang maksud hati ingin turut serta memberikan kontribusi yang besar baik berupa materi, waktu, jasa dan sebagainya. Kenyataannya kendala-kendala pribadi dan kemampuan tidak sebanding dengan keinginan. Seringkali ini dapat menjadi motivasi menjadi pribadi yang lebih baik dan mapan, namun kadang menjadi penyesalan saat itu karena tidak mampu berkontribusi.

 

Niatnya tulus dan baik, berharap meningkatkan skala kebaikan lebih besar lagi dalam bersumbangsih, apakah termasuk iri yang positif  dengan tujuan peningkatan yang lebih baik?

 

Iri Positif Apakah Dibolehkan ?

Perasaan iri dan cemburu yang positif seperti hal berikut patut menjadi analisa pikiran sendiri; iri saat melihat banyak teman yang mapan dan mampu berdana sangat banyak, iri saat rekan lain mampu mengajak donatur  menggalang dana besar, iri saat orang lain sangat gesit melakukan banyak baksos, iri saat teman-teman banyak melakukan pelayanan keagamaan di beberapa wihara, cemburu saat salah satu pengurus wihara juga aktif di kegiatan sosial diluar wihara nya, cemburu saat umat wiharanya melakukan ibadah di wihara lain juga, cemburu bila ada wihara besar lebih mampu melakukan kegiatan-kegiatan spektakuler, dan iri atau cemburu lain atas kebaikan yang dilakukan orang-orang disekitar kita.

 

Belajar dari tradisi Zen Buddhis : Iri hati tidak harus ditekan. Ia juga tidak harus diekspresikan. Ia hanya perlu disadari sebagai gerakan emosi sesaat dari kebiasaan yang terpola sejak lama. Seperti semua emosi lainnya, rasa iri hati itu sejatinya kosong. Ia datang dan pergi, serta tak memiliki inti, seperti layaknya asap atau awan.

 

Lepas dari sisi positifnya, rasa iri tetap merupakan sebentuk penderitaan. Bukankah iri sudah pasti karena berawal dari dorongan keserakahan, kebencian, kebodohan dan karena keinginan yang tidak tercapai?

 

Di dalam Sappurisa-dana ada salah satu sifat pemberian orang yang baik yaitu memberi dengan pikiran yang tenang dan ikhlas (dadam-cittam-pasa-deti).

 

Pada saat seseorang memberi sesuatu namun pikirannya tidak tenang karena dia merasa kemampuannya tidak memadai atau pun sebaliknya, kemampuannya ada namun hatinya tidak ikhlas, apakah pemberian tersebut akan menjadi dana yang baik?

Berbuat Baik adalah melepas kemelekatan dan tanpa beban

Berbuat baik memang tidak mudah, karena seperti halnya berdana, sebaiknya bahagia saat sebelum memberi, saat sedang memberi dan setelah memberi. Memang tidak mudah untuk memenuhi kriteria ini.

 

Termasuk perasaan iri atas perbuatan baik yang dilakukan orang lain, karena orang tersebut merasa peranannya kecil dibandingkan yang lain sehingga ia mengurungkan niatnya berbuat baik. Ia menjadi minder, tidak berarti, merasa tidak memiliki peranan penting atau tidak selevel dengan orang yang lain yang lebih mampu.

 

Padahal kebaikan kecil yang dilakukan itupun adalah langkah awal yang tidaklah mudah bagi semua orang.  Memiliki niat yang baik, pikiran yang baik dan bertujuan baik kemudian menjadi aksi nyata untuk melakukan kebaikan, sudah menjadi paket yang lengkap bagi praktek kebaikan itu sendiri.

 

Dan hendaklah kebaikan juga dilakukan tanpa kemelekatan akan besar kecilnya kuantiti, demi ketenaran, mengharap berkah atau karena ketakutan akan berdosa. Karena berbuat baik bukanlah seperti berbisnis untuk dipikirkan untung atau rugi dalam jumlah besar maupun kecil.

 

Teruslah berbuat baik melalui pikiran, ucapan dan perbuatan, karena dengan berlatih dari hal-hal yang kecil akan menjadi besar, belum biasa menjadi terbiasa, melekat jadi melepas.

 

Sumber referensi :

1.    Zen dan Iri Hati, Reza A.A Wattimena- Buddhazine

2.    Wacana Buddhadharma, Krishnanda W.M., hal 554

Share:

Komentar (0)

Belum ada Komentar.

Ubah Filter Konten
Informasi

Silakan Masuk dengan menggunakan aplikasi Android/IOS