Seluruh Indonesia
Ubah Lokasi
  • Artikel
  • Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kita, Dhamma: Sagin Sudah Sampai Mana?

Cari

Tampilkan Artikel

Kita, Dhamma: Sagin Sudah Sampai Mana?

Anita

Senin, 25 Mei 2026

SEKBER PMVBI (Pemuda Buddhayana)

               kalian berpikir, bagaimana ajaran Buddha dapat kembali hadir dan berkembang di Indonesia sampai hari ini? Di tengah perubahan zaman yang  begitu cepat, pasti ada yang menjaga dan meneruskannya. Tapi siapakah yang melakukannya ?

               Peran itu dijalankan oleh Sangha Agung Indonesia (Sagin), sebuah persamuhan bhikkhu sejak tahun 1959 hingga sekarang ini, di usia ke-67, mereka masih setia membimbing umatnya. Kehadiran mereka bukan sebatas simbol, tetapi juga sebagai penuntun agar ajaran Buddha tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari.


      Perjalanan SAGIN tidaklah mudah. Ini dimulai dari Sangha Sutji Indonesia yang didirikan pada tahun 1959 oleh Y.A. M.N.S. Ashin Jinarakkhita. Dalam perjalanannya, nama ini sempat berubah menjadi Maha Sangha Indonesia pada tahun 1963, hingga akhirnya pada tahun 1974 resmi dikenal sebagai Sangha Agung Indonesia. Perjalanan panjang ini diwarnai oleh perbedaan tradisi Buddhis yang sesuai konsensus awal melahirkan sebuah wadah yang mampu merangkul keberagaman. Melalui konsep Buddhayana, berbagai aliran seperti Theravada, Mahayana, dan Vajrayana dapat hidup berdampingan secara harmonis.

     Selama 67 tahun ini, SAGIN terus menjalankan perannya, baik itu membina umat, maupun memastikan bahwa Dharma tetap hadir dalam kehidupan sehari-hari. Namun, dari sini muncullah sebuah pertanyaan sederhana: jika SAGIN sudah menjalankan peran mereka, bagaimana dengan kita sebagai umat buddha?

Memasuki HUT ke-67 SAGIN, berbagai kegiatan digelar oleh organisasi di bawah naungan Keluarga Buddhayana Indonesia (KBI), mulai dari belajar Dharma, kegiatan sosial, hingga gerakan kebersamaan yang melibatkan banyak pihak. Salah satunya adalah aksi penanaman sebanyak 6700 pohon secara serentak di berbagai daerah di Indonesia. Kegiatan ini menjadi bentuk penerapan nilai ekoteologi, yaitu kesadaran akan pentingnya menjaga hubungan antara manusia dan alam, sekaligus sejalan dengan upaya pemerintah dalam melestarikan lingkungan.

Share:

Komentar (0)

Belum ada Komentar.

Ubah Filter Konten
Informasi

Silakan Masuk dengan menggunakan aplikasi Android/IOS