Seluruh Indonesia
Ubah Lokasi
  • Artikel
  • Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Peran Orang Tua dalam Meningkatkan Minat Anak terhadap Agama Buddha

Cari

Tampilkan Artikel

Artikel Populer

Selasa, 16 November 2021

Keunikan Agama Buddha

Peran Orang Tua dalam Meningkatkan Minat Anak terhadap Agama Buddha

U.P. Hadion Wijoyo

Kamis, 11 November 2021

Pendidikan merupakan hal terbesar yang selalu diutamakan oleh para orang tua. Saat ini masyarakat semakin menyadari pentingnya pendidikan yang terbaik sejak dini. Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama bagi anak. Keluarga berfungsi sebagai mediator sosial budaya bagi anak (Wijoyo & Girivirya, 2020). Undang-undang No. 2 tahun 1989 Bab IV pasal 10 ayat 4 menyatakan pendidikan keluarga merupakan pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga yang memberi pendidikan tentang keyakinan agama, nilai kebudayaan, nilai moral.


Disebutkan dalam Buddha Dharma bahwa ayah dan ibu adalah guru yang pertama (Kn, 286). Oleh karena itu, sebaiknya pendidikan anak sudah dilakukan sejak anak masih dalam kandungan. Tentu saja pendidikan sejak dalam kandungan lebih bersifat batin daripada badan. Pendidikan batin di sini salah satunya adalah pendidikan Agama yaitu Agama Buddha. Ketika perkawinan sepasang suami istri telah diresmikan di sebuah wihara maka pada saat itulah mereka mulai mempersiapkan diri untuk memberikan pendidikan kepada calon anak-anaknya. Pasangan yang baru hendaknya selalu berusaha menjaga segala bentuk pikiran, ucapan dan perbuatannya agar ditujukan pada kebaikan. Dengan kata lain, mereka mendidik diri mereka sendiri dahulu sebelum memulai mendidik anaknya (Indrawan & Wijoyo, 2020).

 
Orang tua memiliki peranan penting dalam mendidik anak karena baik atau buruknya anak tergantung bagaimana cara orang tua mendidiknya (Wijoyo & Nyanasuryanadi, 2020). Pembentukan karakter terhadap anak harus dimulai sedini mungkin bahkan sejak anak masih berada dalam kandungan. Adapun cara orang tua dalam mendidik anak yaitu mendidik dengan cara yang baik, mendidik dengan kelembutan, ketulusan, mendidik dengan penuh kasih sayang, mendidik dengan keteladanan dan mendidik dengan mengajarkan anak tentang agama. Orang tua membentuk karakter anak dengan membiasakan anak melakukan hal-hal yang baik, memberikan contoh yang baik, menggunakan bahasa yang bagus, sopan dan melibatkan anak dalam kegiatan rumah tangga seperti membersihkan rumah agar anak bisa belajar bertanggung jawab. Akan tetapi membuat peraturan dalam setiap rutinitas di rumah kurang dilakukan oleh orang tua. Apabila orang tua menanamkan nilai-nilai karakter yang baik kepada anak sejak dini maka orang tua dapat mewujudkan anak yang tangguh, bertanggungjawab, jujur, mandiri, sopan, bertingkah laku yang sesuai dengan ajaran Agama Buddha (Fransisca & Wijoyo, 2020).
 
Apabila anak sejak dini sudah dapat didisplinkan sehingga menuruti kehendak orang tua, kini tiba saatnya orang tua mengisi batin anak-anak dengan kemoralan. Ajarkan mereka hal-hal yang perlu dihindari. Pokok dasar pendidikan ini adalah dengan menerapkan pengertian bahwa bila kita tidak ingin dicubit maka jangan mencubit orang lain. Sebagai seorang umat Buddha maka pengenalan Pancasila Buddhis sejak awal adalah langkah terbaik menuju masa depan anak yang bersusila. Pancasila Buddhis adalah lima latihan kemoralan yang terdiri dari latihan untuk mengurangi pembunuhan dan penganiayaan; latihan untuk mengurangi mengambil barang-barang yang tidak diberikan secara sah/mencuri; latihan untuk mengurangi tindakan yang melanggar kesusilaan; latihan untuk mengurangi mengucapkan kata-kata yang tidak benar/berbohong; serta, latihan untuk mengurangi makan dan minum barang-barang yang memabukkan (A, III, 203).
 
Pokok-pokok perbuatan baik yang perlu dikenalkan kepada anak-anak terutama adalah pengembangan kerelaan, kemoralan dan konsentrasi. Sebagai contoh, pengembangan sikap kerelaan pada anak dapat dilakukan dengan membiasakan anak berbagi barang-barang kesukaannya dengan saudara-saudaranya, misalnya saja, mainan ataupun makanan kesukaannnya. Bila hal ini telah dilatih sejak dini maka anak akan memiliki watak penuh welas asih dan akan lebih mudah memaafkan orang lain, lebih-lebih lagi anak akan lebih menyayangi orangtuanya. Latihan menyayangi orangtua dapat dibangkitkan dengan jalan membiasakan anak mengingat ulang tahun ayah dan ibunya. Pada hari ulang tahun ayah dan ibunya, anak hendaknya diminta, misalnya menyediakan sebuah bingkisan hadiah atau mungkin memberikan sebagian uang sakunya. Perlu ditekankan di sini, bukan nilai materinya yang penting melainkan nilai perhatian dan kasih sayangnya. Semakin banyak hari dalam setahun yang digunakan untuk mengingat jasa ayah dan ibunya, akan semakin dekat hubungan orang tua dengan anak, begitu pula sebaliknya. Hal ini akan menjadikan anak selalu ingat jasa kebajikan yang telah orang tua lakukan kepadanya. Dengan demikian, sampai orang tua pikun dan renta pun anak-anak masih sayang dan ingin merawat mereka. Anak-anak akan selalu ingat bahwa dalam Dharma telah disebutkan bahwa anak yang tidak merawat ayah dan ibunya ketika tua tidaklah dihitung sebagai anak (Kn, 393).
 
Santi Paramita dalam Jurnal Widyacara STAB Negeri Raden Wijaya mengungkapkan bahwa pengenalan anak terhadap agama tentunya tumbuh melalui penglihatan, pendengaran, dan pengalaman yang diterimanya sejak kecil. Hal tersebut akan membentuk kepribadiannya. Anak yang sering mendengar dan melihat orang tuanya menyiapkan altar, kemudian melakukan pujabakti, atau menyimak Dhamma akan membuat anak terkesan dan mulai berpikir dan bertanya banyak hal terkait apa yang telah dilakukan oleh orang tuanya tersebut. Sudah selayaknya jika kemudian orang tua menjelaskannya dengan sabar dan penuh kasih sayang, maka hal tersebut akan membuat kesan yang baik dalam diri anak sehingga anak pun akan mulai melakukan hal yang sama dengan apa yang telah dilakukan oleh orang tuanya. Perlakuan dan kasih sayang yang didapatkan dari keluarga akan memberikan rasa kasih sayang terhadap sesama, dan rasa aman dan nyaman. Hal ini pun secara otomatis akan menumbuhkan rasa kasih sayang dalam diri anak.
 
Peran orang tua dalam menanamkan minat anak menyimak dhammadesana adalah sebagai berikut. Keluarga adalah lingkungan pendidikan yang  pertama dan utama. Sikap anak banyak ditentukan oleh lingkungan keluarga. Peran orang tua sebagai pendidik pertama akan sangat menentukan sikap anak dalam hal keberagamaannya. Bila pada masa tumbuh kembang seorang anak, orang tua banyak mengabaikan sisi pembinaan keberagamaannya, maka anak tersebut juga akan mengalami kegagalan pada sifat keberagamaannya di kemudian hari. Orang tua sebagai pendidik dan pembimbing dalam keluarga, sangat berperan dalam meletakkan dasar-dasar perilaku bagi anak-anaknya. Sikap, perilaku, dan kebiasaan orang tua selalu dilihat, dinilai, dan ditiru oleh anaknya. Pada akhirnya nanti semua itu akan menjadi kebiasaan bagi anak-anaknya. Pengenalan anak terhadap agama tentunya tumbuh melalui penglihatan, pendengaran, dan pengalaman yang diterimanya sejak kecil. Hal tersebut akan membentuk kepribadiannya. Anak yang sering mendengar dan melihat orang tuanya menyiapkan altar dan kemudian melakukan ibadah atau pujabakti, atau menyimak Dharma akan membentuk pola kebiasaan anak yang sama pula (Wijoyo et al., 2021).
 
Peran orang tua dalam menanamkan minat anak menyimak ceramah Dharma dilakukan melalui peran mendidik. Peran ini akan sangat menentukan sikap anak dalam hal keberagamaannya, termasuk di dalamnya minat anak menyimak ceramah Dharma. Peran sebagai pembimbing dalam keluarga, juga merupakan bagian yang sangat penting dalam meletakkan dasar-dasar perilaku bagi anak. Melalui sikap, perilaku, dan kebiasaan orang tua yang selalu dilihat, dinilai, dan ditiru oleh anaknya, yang akan menjadi kebiasaan bagi anak-anaknya. Hal tersebut akan membentuk kepribadiannya. Anak yang sering mendengar dan melihat orang tuanya dalam melakukan peran positif, termasuk dalam mendengarkan ceramah Dharma, atau menyimak Dharma akan membentuk pola kebiasaan anak yang sama pula. Melalui pembiasaan tentang rasa keberagamaan pada anak yang ditanamkan oleh orang tua, adalah sangat penting dalam perannya. Selain melalui penambahan wawasan anak tentang pentingnya memahami ajaran agama. Peran orang tua dalam melibatkan anak di kegiatan pujabhakti atau ibadah juga menjadi kunci keberhasilan dalam peran orang tua terhadap anaknya menyimak ceramah Dharma.
 
Orang tua perlu mendidik anak-anak mereka dengan pendidikan agama Buddha sejak dini. Mereka bertanggungjawab untuk menanamkan keyakinan dan moralitas kepada anak sehingga mereka tumbuh dengan ajaran Buddha dan menjadikan Dharma sebagai pedoman hidup mereka. Anak-anak belajar dari meniru perbuatan orang tua mereka. Telada yang ditunjukkan ayah dan ibu dalam mempraktikkan agama Buddha akan membekas kuat di pikiran anak. Oleh sebab itu, orang tua harus menjadi teladan dalam menjalankan praktik agama Buddha karena mereka adalah guru pertama bagi anak di rumah.
 
                                 
 
DAFTAR PUSTAKA
 
Digha Nikaya: The long Discourses of The Buddha A Trsanslation. 2009. Terjemahan oleh Team Giri Mangala Publication dan Team DhammaCitta Press: Dhamma Citta Press.
 
Aguttara Nikaya: The Numerical Discourses of the Buddha. 2012. Terjemahan. Bhikkhu Bodhi. Boston: Pali Text Society
 
Digha Nikaya: Dialogues Of The Buddha II. 2002. Vols. II, tr. Myller Max. Oxford: The Pali Text Society.
 
Digha Nikaya: Dialogues Of The Buddha. I. 2002. Vols. II, tr. Myller Max. Oxford: The Pali Text Society.
 
Digha Nikaya: The Long Discourses of The Buddha A Trsanslation.2009. Terjemahan oleh Team Giri Mangala Publication dan Team DhammaCitta Press: DhammaCitta Press.
 
Fransisca, A., & Wijoyo, H. (2020). IMPLEMENTASI METTÄ€ SUTTA TERHADAP METODE PEMBELAJARAN DI KELAS VIRYA SEKOLAH MINGGU SARIPUTTA BUDDHIES. Jurnal Ilmu Agama Dan Pendidikan Agama Buddha, 2(1).
 
Indrawan, I., & Wijoyo, H. (2020). PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH (A. Rahmat (ed.); 1st ed.). CV. PENA PERSADA.
 
Wijoyo, H., & Girivirya, S. (2020). PENGARUH SEKOLAH MINGGU BUDDHA (SMB) TERHADAP PERKEMBANGAN FISIK-MOTORIK PESERTA DIDIK DI SMB SARIPUTTA BUDDHIST STUDIES PEKANBARU. Jurnal Maitreyawira, 1(1), 39–52.
 
Wijoyo, H., Leo Handoko, A., Santamoko, R., & Yonata, H. (2021). Peran Agama Dalam Menangkal Cyber Bullying di Kalangan Siswa Sekolah Menengah Pertama Pekanbaru. In Prosiding Seminar Nasional Penalaran dan Penelitian Nusantara (Vol. 1). https://proceeding.unpkediri.ac.id/index.php/ppn
 
Wijoyo, H., & Nyanasuryanadi, P. (2020). ANALISIS EFEKTIFITAS PENERAPAN KURIKULUM PENDIDIKAN SEKOLAH MINGGU BUDDHA DI MASA PANDEMI COVID-19 (STUDI DI SMB TRISARANAGAMANA PEKANBARU) . In Jurnal Pendidikan Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat: Vol. II (Issue 2). https://doi.org/https://doi.org/10.37577/jp3m.v2i2.276

Share:

Komentar (0)

Belum ada Komentar.

Ubah Filter Konten
Informasi

Silakan Masuk dengan menggunakan aplikasi Android/IOS