Seluruh Indonesia
Ubah Lokasi
  • Artikel
  • Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • MENGENANG Y.M. BIKU JINADHAMMO MAHATHERA (49 HARI WAFAT MENDIANG)

Cari

Tampilkan Artikel

MENGENANG Y.M. BIKU JINADHAMMO MAHATHERA (49 HARI WAFAT MENDIANG)

Oleh : U.P. Rudiyanto Tanwijaya

Jum'at, 17 Maret 2023

Pemuda Buddhayana

“Mengapa bukan Jenderal Gatot Subroto? Mengapa bukan Jenderal Sumantri? Mengapa bukan Maha Upasaka Mangunkawotjo yang menjadi biku untuk membangkitkan kembali agama Buddha? Mengapa saya yang menjadi biku? Itu karena saya membayar hutang..” “Kamu sebenarnya terpilih menjadi seorang biku yang mengemban tugas untuk perkembangan Dharma..”Demikian kalimat yang disampaikan Mahasthavira Ashin Jinarakkhita (Biku Ashin) kepada Soenardi, yang pada masa itu sudah enam tahun menjadi murid dari Biku  Ashin, yang kita kenal merupakan pelopor kebangkitan agama Buddha pasca kejayaan Sriwijaya dan Majapahit di Indonesia. 


Kalimat-kalimat dari mulut Biku Ashin ini jugalah yang menggetarkan sukma Soenardi sehingga beliau terpanggil untuk menjalani kehidupan sebagai samana.  Selama menjadi samanera, Soenardi berlatih keras meditasi dengan teknik vipassana bhavana dibimbing langsung oleh Biku Ashin.  Dan akhirnya, Soenardi yang saat itu dikenal sebagai Samanera Dhammasushiyo, diupasampada di stupa induk Candi Borobudur, bertepatan dengan hari Waisak, pada tanggal 8 Mei 1970, oleh Phra Sasana Sobaṇa selaku Upajjhaya (Somdet Phra Nyanasamvara, Sangharaja Thailand ke-19) dengan nama Jinadhammo. 

Biku Jinadhammo terlahir di desa Jemana, kelurahan Wates, kecamatan Simo, kabupaten Boyolali, Surakarta, Jawa Tengah, tanggal 3 September 1944, sebagai anak ketiga dari dari pasangan suami isteri Adma Mustam (ayah) dan Sadiem (ibu). Keluarga Soenardi sendiri bukan keluarga Buddhis. 

Ketertarikan pada ajaran Buddha bermula pada saat Soenardi muda sering mengunjungi Candi Borobudur dan Prambanan yang tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya.  Ia penasaran dengan kemegahan candi tersebut, tentang siapa pembuatnya, untuk apa dibangun, dan apa manfaatnya. Pertanyaan yang menggelisahkan ini akhirnya terjawab ketika Soenardi membaca majalah Lembaran Mutiara Minggu yang memuat tentang agama-agama besar di Indonesia. Soenardi menjadi tertarik dengan agama Buddha dan sejak itu ia rutin mempelajari agama Buddha karena merasa menemukan jawaban dari apa yang dicarinya selama ini, sekaligus ia merasakan tenteram dan bahagia setelah mengenal ajaran Buddha melalui artikel-artikel Buddhis dalam majalah tersebut. 

Bersama kedua orangtuanya, Soenardi untuk pertama kalinya berjumpa dengan Biku Ashin Jinarakkhita di Wihara Buddha Gaya, Watugong, Ungaran dan berlanjut dengan pertemuan berikutnya di Bandung, dimana Soenardi mulai mempelajari Paritta Suci dan semakin aktif mendalami ajaran Buddha. Dan semenjak itu pula Soenardi setia mendampingi Biku Ashin dalam mengembangkan Buddha Dharma baik di Pulau Jawa maupun di luar Pulau Jawa. 

Perjuangan Membabarkan Dharma
Dalam perjuangan mengembangkan Buddha Dharma, Biku Jinadhammo yang belakangan disapa dengan nama “Eyang”, setidaknya meneladani sikap pantang menyerah sang mentor, Bhante Ashin.  Kegigihannya dalam mengabdi ke berbagai daerah, bukan hanya daerah kota, tetapi juga daerah terpencil sampai ke pelosok pedalaman.  Semuanya dilakoni tanpa keluhan maupun penyesalan. 

Pada masa awal menjalankan tugasnya, Eyang sering bepergian ke berbagai tempat sendirian dengan menumpang kendaraan umum, dibonceng dengan sepeda motor, naik sepeda, dan juga berjalan kaki. Perjalanan dilakukan Beliau kapan saja, siang atau malam, dan dalam berbagai kondisi cuaca.  Beliau menyadari bahwa bagi seorang biksu, tugas membabarkan Dharma, pembinaan dan pelayanan umat merupakan kewajiban yang harus dijalankan dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab.

“Saya ingat, setiap akhir pekan, Bhante Jinadhammo datang ke Tanjungbalai dengan menumpang kereta api, hanya untuk mengajarkan kami membaca Paritta.  Buku Paritta pun ia bawa dari Medan,” kenang Ibu Upasika Pandita Susiani Intan yang merupakan salah satu pandita senior Sumatera Utara pada satu ketika.  “Lalu selesai mengajar, beliau langsung kembali ke Medan.  Jika kemalaman, wihara tempat beliau tinggal, sudah tutup, maka Bhante memilih duduk di samping wihara, menunggu pagi. Bhante tidak mau menyusahkan orang lain.” 

Untuk ke daerah Riau dari Medan, Eyang selalu menumpang bus Antar Lintas Sumatera (ALS) atau taksi.  Di daerah Riau dan sekitar daerah kepulauan Riau, Beliau menumpang kapal kecil atau kapal pong pong.  Selain selalu berangkat pagi dan baru tiba di tempat tujuan sore atau malam hari, tak jarang juga jubah beliau basah karena kecipratan air laut dan air sungai.  Salah satu buah dari rajinnya beliau mengunjungi berbagai daerah di Riau adalah berdirinya Vipassana Centre di Pulau Moro, yang saat ini justru banyak dimanfaatkan orang Singapura untuk melatih diri karena pulau tersebut memang dekat dengan Singapura.

Untuk daerah Aceh, biasanya Beliau menumpang bus Kurnia dari jalan Puri, Medan atau menumpang mobil yang mengangkut koran pada pagi hari.  Selama di daerah Aceh, biasanya beliau berkeliling mengunjungi Banda Aceh, Biruen, Sabang dan Lhokseumawe. Dalam mengembangkan dan megajarkan Dhamma, Biku Jinadhammo dikenal sebagai Biku yang luwes dan memberikan petunjuk tanpa menyakitkan yang mendengarkannya. Misalnya di daerah Pulau We, Aceh, Beliau mengikuti acara tradisi terlebih dahulu, baru menyampaikan bimbingan Dharma.

Dalam pengembangan Dharma di daerah Sumatra Barat, Beliau bepergian dengan menumpang bus. Di kota Padang, beliau naik angkutan kota atau berjalan kaki ke wihara Buddha Warman di pagi hari.

Juga Biku Jinadhammo berjasa dalam menyebarkan Buddha Dharma untuk masyarakat etnis Karo, khususnya di daerah Binjai dan Langkat. Beliau banyak memberikan perhatian kepada umat Buddha Karo sampai akhir hayatnya sehingga dari komunitas umat Karo juga banyak lahir tokoh-tokoh Buddhis yang tekun dalam pengabdiannya, diantaranya Gancih Sitepu, Ndriken Sitepu, Ngikut Sitepu, Densi Ginting, Seh Ukur Sembiring, dan lainnya. Bahkan ada yang akhirnya juga bergabung dengan sangha. 

Selain menempuh perjalanan dengan fasilitas apa adanya, Biku Jinadhammo tidak pernah menuntut pelayanan dari umatnya.  Makan apa adanya sesuai dengan yang ada atau yang disediakan umat.  Juga tinggal atau beristirahat di tempat yang ada tanpa merepotkan umat.

Peduli Pendidikan dan Program Pelatihan Diri 
Biku Jinadhammo termasuk berjasa dalam merintis pendidikan agama Buddha di Sumatera Utara.  Pada awal tahun 1970an, masih sangat langka ketersediaan guru/dosen agama Buddha di Sumatera Utara. Guru/dosen agama Buddha yang ada pada masa itu rata-rata adalah para aktivis Buddhis yang mempelajari agama Buddha secara ototidak, diantaranya Romo Wirawan Giriputra, Romo Mulawarma, Dr.Jensen Lautan, Ibu Padma Swari, Prof.Harsja Swabodhi Rusli, dan lainnya. Apalagi masa itu buku-buku bacaan Buddhis, masih sangatlah langka. 

Melihat kondisi ini, Biku Jinadhammo berinisiatif untuk mendatangkan tenaga pengajar Agama Buddha dari pulau Jawa ke Sumatra, khususnya Medan dan pulau Sumatera pada umumnya. Maka pada masa itu hadirlah para pengajar agama Buddha dari Jawa yang kemudian mengabdi di Sumatera, diantaranya Romo Sutoyo Virajayo, Romo Marsiman, Romo Kumala, dan lainnya. 

Selain itu, Biku Jinadhammo, dengan dukungan M.U.P. Padmajaya Ombun Natio  memprakarsai berdirinya Institut Ilmu Agama Buddha Smaratungga, yang merupakan cabang dari Boyolali, yang kelak banyak mencetak guru agama Buddha yang kemudian mengajar di berbagai sekolah di Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Riau. Saat itu, karena masih minimnya tenaga pengajar di Kampus Smaratungga Medan, Bhante Jinadhammo bahkan sempat ikut mengajar.  Saat ini Kampus Smaratungga Medan ini bertransformasi menjadi Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Bodhi Dharma Medan.  Sebagian lulusannya diterima sebagai pegawai negeri sipil (PNS) khususnya di Kementerian Agama. 

Selain itu, beliau juga mengangkat guru-guru tersebut sebagai Upasaka Pandita agar dapat membantu Sangha yang pada masa itu tercatat masih sangat minim jumlahnya.  Sadar bahwa umat Buddha perlu meningkatkan kualitas batinnya, maka Eyang termasuk sangat aktif memprakarsai pelaksanaan berbagai kegiatan  program latih diri untuk Umat Buddha, misalnya Program Latih Diri Vipassana Bhavana rutin, Pekan Penghayatan Dharma, Latih diri Atthangasila/Pabbajja Samanera-Samaneri, dan sebagainya. 

Penghargaan Atas Dedikasi 
Oktober 1998, dalam rangka ulang tahun Raja Bhumibol, Kerajaan Thailand memberikan penghargaan kepada para biku senior mancanegara, termasuk Biku Jinadhammo. Kipas Penghargaan dan Kathinadana diserahkan oleh Putri Galyani Vadhana, yaitu kakak dari raja, atas nama Raja Bhumibol. Ia didampingi oleh Duta Besar Thailand untuk Indonesia dan rombongan Vihara Borobudur, Medan.

Pemerintah Thailand, melalui Mahathera Semakhom yang merupakan komite Sangha di Thailand, menganugerahkan gelar Phra Khru Buddhadhamprakat kepada Yang Mulia Biku Jinadhammo Mahathera pada hari Selasa, 8 Januari 2013. Gelar tersebut berarti sebagai Penyebar Buddha Dharma, diberikan kepada Biku Jinadhammo Mahathera atas jasa-jasanya dalam mengembangkan agama Buddha di Indonesia. Ia adalah satu-satunya Biku Indonesia dari antara 500 bhikkhu sangha dari berbagai wilayah negara yang dinilai memiliki prestasi pengabdian luar biasa dalam mengembangkan ajaran Buddha Dharma di daerahnya masing-masing.

Pada tanggal 26 Maret 2013, Biku Jinadhammo Mahathera kembali mendapat penghargaan Gelar Aggamaha Saddhamma Jotikadhaja dari pemerintahan Myanmar. Satu-satunya dan pertama kali biku di Indonesia yang menerima gelar tersebut.  Gelar tersebut diterima bersama ratusan biku dari berbagai negara pada 26 Maret 2013 di Myanmar, disaksikan langsung oleh Presiden Myanmar dan para menterinya.

Kemudian, pada tanggal 5 Desember 2016, Biku Jinadhammo mendapat anugerah gelar kehormatan dari kerajaan Thailand sebagai Than Choukun Phra Vithetdhammanyana. Gelar kehormatan ini diberikan kepada Biku Jinadhammo atas pengabdiannya membabarkan Buddha Dhamma di Indonesia.

Untuk menghargai jasa beliau, Keluarga Buddhayana Indonesia dan para donatur Y.M. Biku Jinadhammo Mahathera mendedikasikan pendirian pusat pelayanan umat Buddha Prasadha Jinadhammo di Kawasan MMTC, Deli Serdang, pada tanggal 7 Agustus 2018 di atas lahan 10.345 meter persegi. 

Kepergian yang Mendadak
Yang Mulia Biku Jinadhammo meninggal dunia dengan tenang pada Hari Kamis, tanggal 26 Januari 2023 jam 04.00 WIB, di kuti beliau yang sederhana, di wihara Borobudur.  Beliau wafat dalam tidurnya, pada usia 78 tahun. Tidak ada keluhan sakit, pesan ataupun pertanda menjelang kepergian beliau untuk selama-lamanya.  Saat wafat, beliau tercatat sebagai biku senior dengan masa kebikuan paling lama di Indonesia yaitu 53 vassa. 

Jasad fisik Biku Jinadhammo disemayamkan di wihara Borobudur, Medan, Sumatra Utara, wihara dimana beliau berdiam selama puluhan tahun sejak beliau ditugaskan usai menjadi biku oleh Bhante Ashin. 

Upacara puja bakti avamangala (kedukaan) untuk Y.M. biku Jinadhammo Mahāthera digelar dalam tiga tradisi Buddha yakni Theravada, Mahayana dan Vajrayana yang merupakan ciri khas Sangha Agung Indonesia yang menyakini pentingnya menjaga dan menghargai keberagaman ketiga tradisi yang dikenal sebagai Buddhayana.

Ribuan masyarakat, bukan hanya umat Buddha hadir dalam penghormatan terakhir dan doa pelimpahan jasa yang dilaksanakan setiap hari hingga prosesi upacara kremasi.  Usai proses kremasi dilangsungkan pada Sabtu (4/2/2023) pukul 16.00 WIB, ditemukan sarira/relik suci dalam sisa jasad fisik mendiang. 

Penutup 
Empatpuluh sembilan hari sudah Yang Mulia Biku Jinadhammo Mahathera meninggalkan kita. Secara fisik, kita tidak lagi berjumpa dengan sosoknya, namun beliau telah mewariskan teladan hidup yang tak ternilai harganya untuk bekal kita dalam melakoni kehidupan yang tidak kekal ini.  Teladan inilah yang terus kita simpan dan rawat sehingga sosok Eyang tidak pernah hilang dalam sanubari kita. 

Mari kita lestarikan dan teruskan karya-karya kebajikan yang telah ditorehkan oleh Yang Mulia Bhante Jinadhammo, selama kurun 53 tahun masa pengabdiannya sebagai seorang Samana. Sadhu 

(RTW - Dari Berbagai Sumber)

Share:

Komentar (1)

Udayo Untarya Wijaya

Senin, 20 Maret 2023 04:52

Amitofo ????

Ubah Filter Konten
Informasi

Silakan Masuk dengan menggunakan aplikasi Android/IOS