KETIKA MANUSIA MENCARI TEMAN BICARA DI ERA DIGITAL
U.P. Shakyavira Vamsa Suirianto
Jum'at, 09 Oktober 2026
MBI
Penulis melihat belakangan ini ada fenomena baru di era teknologi yang berkembang sangat pesat dan tidak dapat dibendung lagi, manusia kini memiliki cara dan sarana baru untuk berkomunikasi, berbicara, berdiskusi mengungkapkan perasaan, bahkan untuk mencurahkan isi hati. Jika dahulu seseorang melakukan semua ini dengan sahabat, keluarga, guru spiritual atau konselor, sekarang muncul fenomena baru yaitu semakin banyak orang yang memilih bercerita kepada kecerdasan buatan AI (Artificial Intelligence).
Survei tahun 2026 yang menunjukan adanya interaksi penguna AI sebagai teman bicara atau ngobrol. Survei yang dilakukan oleh Kaspersky menunjukan bahawa lebih dari 27% dari responden Gen Z mengunakan AI seolah-olah berbicara dengan seorang teman. Dan survey yang dilakukan oleh Snapcart pada April 2025, 43% orang Indonesia menyatakan bahwa mereka sering menggunakan AI dan 6% mengatakan mereka menggunakan AI sebagai "teman" untuk berbicara dan berbagi perasaan dengannya.
Ini menunjukan pergeseran pandangan terhadap AI dari sekedar alat untuk menyelesaikan tugas menjadi sarana memperoleh dukungan emosional dan interaksi yang lebih personal, mereka menggunakan AI sebagai "teman" untuk berbicara dan berbagi perasaan dengannya. Fenomena ini menarik, mengapa manusia mulai berbicara dengan mesin, apa yang sebenarnya mereka cari dan bagaimana ajaran Buddha memandang fenomena ini?
Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak orang menggunakan AI untuk berbagai hal mulai dari belajar, bekerja, menulis, hingga mencari teman bicara. Bahkan dari pengakuan beberapa teman bahwa mereka kadang mengunakan AI menceritakan masalah hubungan, mengungkapkan stres pekerjaan, berbicara tentang kecemasan hidup, bahkan membicarakan rasa kesepiannya.
Ada beberapa alasan yang diungkapkan kenapa lebih memilih AI untuk dijadikan sebagai teman curhat; AI tidak menghakimi, seseorang dapat berbicara tanpa takut dinilai, AI selalu tersedia, tidak semua orang memiliki teman yang selalu siap mendengarkan kapan saja, dan AI memberikan respons cepat, seseorang bisa langsung mendapatkan tanggapan atau sudut pandang baru.
Fenomena ini sebenarnya menunjukkan sesuatu yang lebih dalam, yaitu bahwa manusia memiliki kebutuhan mendasar untuk didengar, manusia ingin dimengerti, manusia ingin perasaannya diakui, manusia ingin pikirannya dipahami. Namun pada kenyataannya dalam dunia nyata di kehidupan modern ini, tidak semua orang memiliki ruang untuk itu. Kesibukan, jarak sosial, tekanan pekerjaan dan tugas-tugas, serta kehidupan yang semakin individualistik membuat banyak orang merasa sendirian, perasaan sunyi meskipun sedang berada di tengah keramaian dan hiruk pikuk dunia. Disinilah AI mengambil perannya sebagai “sosok” penganti.
Bagi sebagian orang, AI sering menjadi tempat pelarian sementara. Namun jika kita melihat fenomena ini lebih dalam, sebenarnya ini bukan sekadar fenomena teknologi semata. Ini adalah tentang fenomena batin manusia, bagaimana kebutuhan dasar manusia untuk didengarkan.
Dalam ajaran Buddha, manusia dipahami sebagai makhluk yang memiliki perasaan (vedanā), persepsi (saññā), pikiran (saṅkhāra), dan kesadaran (viññāṇa). Semua pengalaman batin ini membutuhkan ruang untuk dipahami. Ketika seseorang mengalami tekanan batin tetapi tidak memiliki tempat untuk berbagi, maka penderitaan itu sering kali menjadi semakin berat dan menjurus pada tindakan ekstrim.
Dalam banyak kesempatan, kepada banyak orang, Buddha menekankan tentang pentingnya komunikasi yang bijaksana dan hubungan pertemanan dan spiritual yang sehat. Salah satu konsep penting terkait hubungan ini dalam ajaran Buddha adalah memiliki kalyāṇamitta (sahabat yang baik).
Dalam Upaddha Sutta, Buddha menjelaskan pentingnya sahabat spiritual. Dalam percakapan dengan biksu Ānanda, Beliau mengatakan bahwa persahabatan yang baik bukan hanya setengah dari kehidupan suci, tetapi seluruh kehidupan suci itu sendiri. Ini menunjukkan bahwa memiliki teman yang bijaksana dan mendukung perkembangan spiritual adalah hal yang sangat penting.
Kalyāṇamitta bukan sekadar teman biasa, Kalyāṇamitta adalah seseorang yang membantu dan melindungi kita, setia disaat suka dan duka, memahami kebenaran, menasihati ketika kita salah, mengingatkan kita untuk berbuat baik, mendukung perkembangan kebijaksanaan serta bersimapti kepada kita. Dalam kehidupan sehari-hari, sahabat seperti ini bisa berupa guru, orang tua, sahabat, pembimbing spiritual, bahkan komunitas yang baik. Namun di era modern ini, sebagian orang hidup jauh dari keluarga, sebagian lagi hidup dalam lingkungan yang kompetitif dan individualistik, sehingga banyak orang mengalami kesulitan menemukan kalyāṇamitta.
Ketika ruang dialog spiritual semakin sempit, manusia mencari alternatif, salah satu yang saat ini menjadi pilihan adalah AI. Ketika seseorang curhat kepada AI, sebenarnya AI tidak benar-benar memahami atau merasakan emosi manusia. AI hanya memproses informasi dan memberikan respons berdasarkan data yang dimilikinya. Namun AI dapat berfungsi sebagai cermin pikiran, ketika seseorang menuliskan perasaannya, ia sebenarnya sedang melakukan proses refleksi diri.
Dalam Ajaran Buddha, refleksi seperti ini juga dikenal dalam praktik perhatian penuh (mindfulness). Dalam Satipatthana Sutta, Buddha mengajarkan untuk mengamati tubuh, perasaan, pikiran dan fenomena mental. Ketika seseorang menuliskan pikirannya kepada AI, secara tidak langsung ia sedang mengamati pikirannya sendiri, ia mencoba memahami apa yang sebenarnya ia rasakan. Dalam arti tertentu, proses ini dapat membantu seseorang menjadi lebih sadar terhadap keadaan batinnya. Namun tentu saja yang harus selalu kita ingat bahwa AI tidak dapat menggantikan kebijaksanaan manusia yang sejati, karena AI hanya menghimpun data yang pernah diungah oleh manusia, sehingga masih sangat besar potensinya untuk salah.
Ironisnya, teknologi yang seharusnya membuat manusia lebih terhubung justru sering membuat manusia semakin kesepian di era digital, bahkan sampai ada istilah bahwa teknologi mendekatkan yang jauh, tapi menjauhkan mereka yang dekat. Media sosial membuat orang terhubung dengan sangat banyak orang, tetapi hubungan tersebut sering kali bersifat dangkal, hanya sebatas di dunia maya. Banyak orang memiliki ratusan bahkan ribuan teman online, tetapi tidak memiliki satu pun orang yang benar-benar memahami mereka. Kesepian menjadi salah satu penyebab orang mencari teman bicara alternatif.
Buddha berkata : “Apabila dalam pengembaraanmu engkau tak dapat menemukan seorang sahabat yang berkelakukan baik, pandai, dan bijaksana, maka hendaknya engkau berjalan seorang diri, seperti seorang raja yang meninggalkan negara yang telah dikalahkannya, atau seperti seekor gajah yang mengembara sendiri di dalam hutan.” (Dhammpada 329)
Ayat ini mengingatkan bahwa hubungan yang tidak bijaksana tidak lebih baik daripada kesendirian. Namun ayat ini juga mengandung pesan lain persahabatan yang bijaksana sangatlah berharga.
Meskipun AI dapat membantu sebagai alat refleksi, ada beberapa risiko jika seseorang terlalu bergantung padanya. AI tidak memiliki empati sejati, ia tidak benar-benar bisa merasakan penderitaan manusia. AI tidak memiliki kebijaksanaan batin, ia hanya memberikan respons berdasarkan pola data. AI tidak dapat menggantikan hubungan manusia, dalam ajaran Buddha, hubungan spiritual antara manusia sangat penting dalam perkembangan batin.
Oleh karena itu, AI sebaiknya dipahami hanya sebagai alat bantu ditengah derasnya gempuran teknologi, bukan sebagai pengganti hubungan manusia di dunia nyata, karena pikiran sebagai sumber segalanya. Seperti sabda Buddha : “Pikiran adalah pelopor segala keadaan. Pikiran adalah pemimpin. Segala sesuatu terbentuk oleh pikiran.” (Dhammapada 1&2)
Fenomena curhat kepada AI sebenarnya menunjukkan bahwa manusia sedang berusaha untuk dapat memahami pikirannya sendiri. Masalah hidup sering kali tidak berasal dari dunia luar, tetapi dari dalam diri sendiri, dari bagaimana cara kita memandang dunia ini. Ketika pikiran dipenuhi kecemasan dan kegelisahan, maka dunia akan terasa menakutkan dan kecemasan. Ketika pikiran dipenuhi kebencian dan dendam, maka dunia terasa dipenuhi oleh musuh. Namun ketika pikiran dipenuhi kebijaksanaan, cinta kasih, dunia terasa lebih damai dan membahagiakan.
Oleh karena itu, dalam ajaran Buddha, latihan utama bukan sekadar mencari tempat curhat, tetapi melatih pikiran kita untuk dapat menyadari realitas yang ada, melihat dunia sebagai mana adanya, dengan hukum-hukumnya yang berlaku secara universal.
Jika kita melihat fenomena ini dengan lebih bijaksana, ada beberapa pelajaran penting yang dapat diambil. Bahwa pada dasarnya manusia membutuhkan ruang untuk berbicara dan didengar. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk membangun komunitas yang baik dan saling mendukung, khusunya dalam komunitas keluarga maupun pertemanan. Selain itu Manusia juga membutuhkan sahabat spiritual. Menemukan kalyāṇamitta sangat penting dalam perjalanan hidup, karena tidak hanya mendukung dalam kehidupan duniawi namun juga dapat mendukung perkembangan spiritual. Manusia perlu belajar memahami pikirannya sendiri, Meditasi dan mindfulness membantu kita melihat dan memahami akar dari penderitaan yang kita rasakan.
Dalam Maha Mangala Sutta disebutkan bahwa salah satu berkah terbesar dalam kehidupan adalah bergaul dengan orang bijaksana. Ini menunjukkan bahwa perkembangan batin tidak terjadi sendirian. Kita membutuhkan lingkungan dan komunitas yang baik.
Teknologi tidaklah selalu buruk. AI dapat digunakan untuk belajar, mencari pengetahuan, bahkan memahami ajaran Buddha, namun kebijaksanaan tidak lahir dari teknologi. Kebijaksanaan lahir dari pengamatan terhadap diri sendiri, latihan batin, dan pemahaman terhadap Dhamma. Teknologi bisa membantu dan memudahkan kehidupan kita, tetapi tidak bisa menggantikan latihan spiritual.
Dalam ajaran Buddha, tempat paling dalam untuk memahami diri bukanlah di luar diri, melainkan di dalam diri sendiri. Melalui perhatian penuh, kebijaksanaan, dan persahabatan spiritual yang baik, manusia dapat memahami penderitaan dan menemukan jalan menuju kedamaian.
AI mungkin dapat menjadi alat untuk refleksi, tetapi kebijaksanaan sejati tetap lahir dari pengalaman pribadi, latihan batin dan pemahaman Dhamma. Sebagaimana diingatkan dalam Dhammapada bahwa diri sendirilah pelindung bagi diri sendiri, siapa lagi yang dapat diandalkan menjadi pelindung?
Meskipun AI dapat memberikan jawaban yang terdengar simpatik dan mendukung, tetapi tetap saja ia merupakan sistem yang tidak memiliki pemahaman emosional yang sesungguhnya. Algoritma yang digunakan dalam AI dirancang untuk memberikan respons yang relevan berdasarkan pola bahasa yang telah dipelajari, tetapi ia tidak benar-benar memahami perasaan manusia. Hal ini dapat menimbulkan risiko misinterpretasi atau penyampaian nasihat yang tidak sesuai, yang pada akhirnya dapat berdampak negatif pada pengguna yang rentan secara emosional.
Pada akhirnya, perjalanan menuju kebahagiaan tidak ditentukan oleh teknologi, tetapi oleh kesadaran, kebijaksanaan, dan latihan batin yang terus menerus.
Daftar Pustaka :
Nurkhairani, A., Arwansyah, O.D. & Ginting, R. (2025). Menemukan Kenyamanan dalam Algoritma: Fenomena Curhat ke AI dalam Era Digital. Tabularasa: Jurnal Ilmiah Magister Psikologi, 7(2) 2025: 81
Komentar (0)