Seluruh Indonesia
Ubah Lokasi
  • Artikel

Cari

Tampilkan Artikel

MENJAGA KESELARASAN

U.A.P. Sakya Kusala Citta Yeni Kurniawan

Jum'at, 11 September 2026

MBI

Berbagai kemajuan kehidupan memang harus diakui berjalan dengan cepat. Namun, di sana-sini masih tetap menyisakan ketimpangan, ketidakmerataan, ketergantungan, dan pemarjinalan. Perlu ada kesadaran hidup bersama dalam keselarasan.


Apa yang dimaksud dengan Keselarasan atau Harmoni (Samagga)?
Keselarasan berarti rasa simpati dan mengenal hak dasar terhadap semua kehidupan tanpa kekerasan. Yang berarti juga prinsip estetika yang merujuk pada keterpaduan, kesesuaian, dan keserasian antara berbagai unsur yang berbeda sehingga membentuk satu kesatuan yang utuh, seimbang, dan nyaman dipandang atau didengar.

Dalam kehidupan sosial, keselarasan merujuk pada adanya ikatan, kesesuaian, dan ketiadaan konflik yang berarti antar-elemen masyarakat untuk mencapai keteraturan.

Mengapa keselarasan sangat penting dalam kehidupan?
Guru Buddha dalam Dhammapada 194 mengatakan “Kelahiran Para Buddha merupakan sebab kebahagiaan. Pembabaran Ajaran Benar merupakan sebab kebahagiaan. Persatuan Sangha merupakan sebab kebahagiaan. Dan usaha perjuangan mereka yang telah bersatu merupakan sebab kebahagiaan”. Kebahagiaan tertinggi dalam pandangan Buddhis, yang bermuara pada pentingnya kebijaksanaan, ajaran kebenaran, keharmonisan, dan kebersamaan dalam praktik kebaikan.

Oleh karena itu keselarasan sangat penting karena kehidupan yang penuh harmoni (selaras) akan meningkatkan kualitas hidup seseorang. Keharmonisan dalam komunitas membawa kedamaian bersama dan praktik spiritual serta pembersihan batin yang dilakukan secara harmonis melahirkan kebahagiaan sejati.

Sesungguhnya keselarasan kehidupan menjadi suatu keniscayaan yang mengutamakan relasi selaras antar komponen kehidupan. Keterpaduan relasi menjadi terputus manakala upaya mewujudkan suatu kehidupan bersama yang saling membutuhkan dan menghargai secara berkelanjutan terpinggirkan oleh kehadiran kompetisi atau persaingan.

Bagaimana cara menjaga keselarasan?

1. Selaraskan Pikiran, Ucapan, dan Perbuatan (Integritas Diri)

Praktik: Sebelum berbicara atau bertindak, lakukan cek singkat: "Apakah ucapan ini sesuai dengan apa yang saya yakini dan rasakan?"

Tujuan: Mencegah konflik internal (rasa bersalah atau cemas) dan membangun kepercayaan dari orang lain.

2. Menghargai Perbedaan

Praktik: Ganti sudut pandang dari "Dia salah" menjadi " Dia punya latar belakang dan alasan yang berbeda." Faktualnya, tidak semua orang harus setuju dengan kita.

Tujuan: Menciptakan ruang yang aman dan damai dalam berinteraksi tanpa harus merendahkan pihak lain.

3. Menjaga Ucapan

Praktik: Terapkan prinsip saringan sebelum bicara: Apakah ini benar? Apakah ini perlu? Apakah ini disampaikan dengan cara yang santun? Menghindari gosip, kata-kata kasar, dan kebohongan yang memecah belah, serta menyuarakan hal yang bermanfaat dan menyejukkan.

Tujuan: Meminimalisir salah paham dan mencegah timbulnya keretakan hubungan akibat kata-kata yang impulsif.

4. Berlatih untuk Menerima (Acceptance)

Praktik: Belajar melepaskan keinginan untuk mengontrol segala hal, terutama hal-hal di luar kendali kita (seperti sikap orang lain atau situasi yang sudah terjadi).

Tujuan: Menjaga ketenangan batin agar tidak mudah stres saat kenyataan tidak sesuai harapan.

5. Menambah Wawasan

Praktik: Rajin membaca buku Dhamma, mendengarkan perspektif baru, dan mau belajar dari pengalaman orang lain.

Tujuan: Membuka pikiran agar tidak sempit, sehingga lebih mudah beradaptasi dan tidak gampang menghakimi hal-hal baru.


Dalam perspektif Buddhis, menjaga keselarasan (keharmonisan) mencakup hubungan dengan diri sendiri, sesama, dan lingkungan sekitar. Hal ini dicapai melalui pembersihan batin dan penerapan etika luhur. Menyadari bahwa setiap pikiran, ucapan, dan perbuatan memiliki konsekuensi.

Semoga dengan terciptanya keselarasan dalam tindakan yang didasari oleh niat baik dapat menumbuhkan cinta kasih tanpa batas (metta) dan belas kasih (karuna) kepada semua makhluk dapat mengikis ego dan potensi konflik. Serta dengan melatih perhatian penuh (sati) untuk menjaga keseimbangan batin (upekkha), sehingga tidak mudah terprovokasi oleh ketidaksesuaian di luar diri.

Mari bersama menjaga keselarasan dalam kehidupan sehari-hari.

Share:

Komentar (0)

Belum ada Komentar.

Ubah Filter Konten
Informasi

Silakan Masuk dengan menggunakan aplikasi Android/IOS