Seluruh Indonesia
Ubah Lokasi
  • Artikel

Cari

Tampilkan Artikel

JUARA ATAS DIRI SENDIRI

U.P. Shakyavira Vamsa Suirianto

Senin, 07 September 2026

MBI

Banyak yang bisa kita pelajari dari momen perhelatan Piala Dunia 2026 belum lama ini, selain urusan rivalitas antara Messi dan Ronaldo, yang keduanya memainkan musim terakhir mereka di Piala Dunia. Kita juga melihat Stadion dipenuhi sorak sorai, jutaan pasang mata rela begadang hingga dini hari. Ada yang menangis karena tim favoritnya tersingkir, ada pula yang bersukacita karena negaranya berhasil melaju ke babak berikutnya, bahkan sepertinya untuk sesaat hidup terasa tanpa masalah, dunia terasa baik-baik saja.


Sebagai olahraga terpopuler di dunia, sepak bola memang lebih dari sekadar olahraga. Ia menghadirkan harapan, semangat, kebersamaan, bahkan air mata. Namun bagi siswa Buddha, setiap peristiwa dalam kehidupan selalu dapat menjadi bahan perenungan. Apa yang dapat kita pelajari dari Piala Dunia? Salah satunya adalah tentang Delapan Kondisi Duniawi (Aṭṭha Lokadhamma). Kehidupan tidak melulu tentang meraih kemenangan. Dalam sepak bola, setiap tim dan supporter datang dengan satu harapan yaitu menjadi juara. Namun kenyataannya, diujung kompetisi hanya akan ada satu tim yang akhirnya mengangkat trofi.

Artinya, puluhan tim lainnya harus menerima kenyataan bahwa mereka kalah. Begitulah kehidupan. Tidak semua keinginan kita akan tercapai, tidak semua usaha langsung berhasil, tidak semua keinginan segera terwujud. Kadang kita mendapat kemasyuran, kadang kita dihina, kadang kita berhasil, kadang kita gagal, kadang kita dipuji, kadang kita dicela, kadang memperoleh keuntungan, kadang mengalami kerugian. Semua itu adalah bagian dari kehidupan yang tidak bisa dihindari. Inilah yang dalam ajaran Buddha disebut Delapan Kondisi Duniawi.

Dalam Aṅguttara Nikāya, Buddha mengajarkan bahwa semua makhluk yang masih hidup di dunia pasti akan mengalami delapan kondisi duniawi. Keadaan itu adalah Untung (lābha) - Rugi (alābha), Terkenal (yasa) - Tidak terkenal (ayasa), Dipuji (pasamsā) - Dicela (nindā), Bahagia (sukha) - Menderita (dukkha). Tidak ada seorang pun yang dapat terhindar darinya, bahkan jika melihat riwayah hidup Buddha, beliau yang sudah sempurna pun pernah dicela, apalagi kita sebagai manusia biasa.

Menang dan kalah adalah hal yang wajar dan hanya bersifat sementara. Dalam pertandingan sepak bola, hari ini sebuah negara menang, berikutnya bisa kalah. Pemain yang menjadi pahlawan hari ini, minggu depan bisa menjadi sasaran kritik. Penjaga gawang yang dipuji karena menyelamatkan pinalti, pada pertandingan berikutnya bisa dicela karena melakukan kesalahan. Semua berubah, semua tidak kekal, inilah Anicca.  Karena itu, ketika menang jangan mabuk kemenangan melambung ke angkasa, ketika kalah jangan kehilangan harapan terhempas jatuh ke Bumi.

Jika kita lihat di media sosial ketika Piala Dunia berlangsung, saat seorang pemain mencetak gol, semua memujinya. Ia disebut pahlawan dan dielu-elukan. Namun ketika gagal mengeksekusi pinalti, orang yang sama bisa dihujat, dicemooh, dihina, bahkan ada kasus dimana pemain harus sampai kehilangan nyawa. Padahal kualitas dirinya tidak berubah hanya karena satu tendangan. Begitulah sifat pujian dan celaan, datang lalu pergi.

“Bagaikan batu karang yang kokoh tidak terguncang oleh angin, demikian pula orang bijaksana tidak terguncang oleh pujian maupun celaan.”  (Dhammapada 81)

Dalam kehidupan, tidak semua investasi berhasil, tidak semua usaha berkembang, tidak semua pekerjaan menghasilkan keuntungan. Demikian pula dalam sepak bola, sebuah tim mengeluarkan biaya besar, mempersiapkan latihan bertahun-tahun, namun tetap bisa kalah. Apakah usaha mereka sia-sia? Tidak, karena usaha selalu memberi pengalaman. Begitu pula hidup kita, kadang keuntungan bukan berupa uang, tetapi berupa kedewasaan.

Saat tim favorit menang, kita menjadi bahagia, saat mereka kalah, kita ikut sedih. Padahal kita sendiri tidak ikut bermain, mengapa bisa demikian? Karena adanya kemelekatan (upādāna). Semakin melekat, semakin besar pula penderitaan ketika kehilangan. Dalam ajaran Buddha penderitaan bukan muncul karena pertandingan, tetapi karena batin melekat pada hasil pertandingan.

Trofi Piala Dunia yang akhirnya dimenangkan oleh Spanyol setelah mengalahkan Argentina 1-0 di final, memang sangat indah. Namun bagi semua individu ada trofi yang jauh lebih indah, yaitu kemenangan atas diri sendiri.

Walaupun seseorang dapat menaklukkan ribuan musuh dalam ribuan kali pertempuran, namun sesungguhnya penakluk terbesar adalah orang yang dapat menaklukkan dirinya sendiri. (Dhammapada 103)

Kalimat ini sangatlah luar biasa, karena ternyata dalam ajaran Buddha musuh terbesar bukan berada di luar, tetapi berada di dalam diri sendiri.  Musuh itu bernama keserakahan, kemarahan, iri hati, kesombongan, kemalasan, kebencian, dan kebodohan batin. Kalau kita berhasil mengalahkan semuanya, maka kita telah menjadi penakluk sejati.

Mengapa seorang atlet bisa menjadi juara? Karena ia disiplin, ia berlatih setiap hari, ia menjaga pola makan, ia menerima saran dan kritik dari pelatih, dan yang terpenting ia bangkit setelah kalah.

Begitu pula seorang umat Buddha, kita perlu melatih diri setiap hari, melatih batin dengan disiplin, bukan hanya ketika ada masalah. Meditasi adalah latihan, menjaga kemoralan melalui praktik sila adalah latihan, berdana adalah latihan, mengendalikan ucapan adalah latihan, memaafkan adalah latihan. Tidak ada juara yang lahir tanpa latihan, tidak ada kebijaksanaan yang muncul tanpa praktik.

Kita mungkin menghabiskan dua jam menyaksikan pertandingan sepak bola. Tetapi pernahkah kita meluangkan sepuluh menit untuk mengamati pikiran sendiri? Kita mungkin tahu tentang statistik dari pemain dunia, tetapi belum tentu mengenal sifat batin sendiri. Kita hafal jumlah gol, tetapi lupa berapa kali hari ini kita marah. Kita hafal jadwal pertandingan, tetapi lupa jadwal meditasi. Inilah yang perlu kerap kali kita renungkan agar dapat bertumbuh dalam latihan.

Menjadi juara bukan berarti harus selalu menang dalam pertandingan, kadang kala kemenangan terbesar justru terjadi ketika kita mampu meminta maaf lebih dulu, mampu memaafkan, mampu mengendalikan amarah, mampu berkata jujur, mampu menolak korupsi, mampu tetap rendah hati ketika sukses, dan mampu tetap tersenyum ketika gagal. Itulah kemenangan yang sesungguhnya.

Empat tahun lagi akan digelar Piala Dunia selanjutnya, akan dicari satu tim lagi sebagai juara dunia. Trofi mungkin saja akan berpindah tangan, rekor-rekor baru bisa jadi akan dipecahkan. Pemain hebat akan pensiun, generasi baru akan muncul. Semua berubah, semua tidak kekal. Tetapi ada satu kemenangan yang tidak akan pernah dapat diambil oleh siapa pun, yaitu kemenangan sejati dengan menaklukan diri sendiri.

Hari ini, mungkin kita tidak mencetak gol di stadion. Namun bila hari ini kita berhasil mengalahkan satu kemarahan, satu keserakahan, satu kesombongan, satu kebencian, dan satu kemalasan, maka sesungguhnya kita telah memenangkan pertandingan yang paling penting dalam hidup.

Kita boleh menikmati semarak Piala Dunia dengan sukacita, tetapi jangan sampai lupa bahwa pertandingan terbesar bukan berlangsung selama sembilan puluh menit di lapangan hijau. Pertandingan terbesar berlangsung setiap hari di dalam hati kita.

Semoga kita mampu menghadapi delapan angin dunia untung dan rugi, pujian dan celaan, kemenangan dan kekalahan, kebahagiaan dan penderitaan dengan batin yang tenang, sebagaimana batu karang yang tidak terguncang oleh terpaan angin.

Piala dunia hanya melahirkan satu juara, tetapi Dhamma membuka kesempatan bagi setiap orang untuk menjadi juara atas dirinya sendiri. Karena pada akhirnya, juara dunia dikenang oleh sejarah, tetapi juara atas dirinya sendiri dikenang oleh kebajikan dan menuai buah kebahagiaan melalui hukum karma.

Share:

Komentar (0)

Belum ada Komentar.

Ubah Filter Konten
Informasi

Silakan Masuk dengan menggunakan aplikasi Android/IOS