Seluruh Indonesia
Ubah Lokasi
  • Artikel
  • Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • KADO TERBAIK UNTUK ORANG TUA TERCINTA

Cari

Tampilkan Artikel

KADO TERBAIK UNTUK ORANG TUA TERCINTA

U.P. Shakyavira Vamsa Suirianto

Jum'at, 17 Juli 2026

MBI

Orang tua merupakan sosok yang jasanya sangat besar bagi anak dan umumnya seorang anak yang sangat mencintai orang tuanya tentu ingin dapat memberi kebahagiaan untuk dapat membalas jasa tersebut. Salah satu bentuk ungkapan tersebut adalah dengan memberikan hadiah. Namun pernahkah kita bertanya “Apa sebenarnya hadiah terbaik yang bisa diberikan seorang anak kepada orang tuanya?”


Banyak hadiah mahal yang dapat kita berikan, mulai dari mobil mewah, rumah megah, atau perhiasan. Namun itu bukanlah kado terbaik, sebab semua itu hanya menemani selama hidup ini saja. Namun ada satu hadiah yang dapat menemani orang tua melampaui kehidupan ini, yaitu jasa kebajikan yang dipersembahkan dengan hati yang tulus.

Ketika masih kecil, tanpa kita ketahui orang tua memberikan hampir seluruh hidupnya kepada kita. Mereka begadang ketika kita sakit. Mereka bekerja keras ketika kita membutuhkan biaya sekolah. Mereka menahan lapar agar anaknya bisa makan. Mereka rela memakai pakaian lama agar anaknya tampil layak. Semua itu dilakukan tanpa pernah menghitung untung dan rugi.

Namun waktu terus berjalan, anak tumbuh dewasa, orang tua semakin menua, rambut mulai memutih, penglihatan mulai kabur, pendengaran mulai berkurang, tenaga tidak lagi sekuat dulu. Ada kalanya dalam hidup kita teringat pada kedua orang tua kita, disaat itu ingin sekali kita mengatakan sesuatu kepada mereka.
Rasa terimakasih, permintaan maaf, atau sekedar rasa rindu. Tapi mereka sudah pergi, rasanya sudah terlambat.

Lalu muncul pertanyaan yang sangat penting, “Adakah cara menyampaikan rasa cinta dan terimakasih kepada mereka, apa yang bisa kita lakukan sebagai balas budi?” Dalam ajaran Buddha, jawaban ini sangat jelas. Orang tua sulit dibalas jasanya. Ajaran Buddha menjelaskan bahwa jasa orang tua hampir tidak mungkin dibalas.

Dalam Aṅguttara Nikāya, disebutkan “Walaupun seseorang menggendong ayah di bahu kanan dan ibu di bahu kiri selama seratus tahun, memandikan, memijat, melayani mereka, bahkan mereka buang air di atas tubuhnya, itu pun belum cukup membalas jasa kedua orang tua.”

Mengapa? Karena orang tualah yang memberi kehidupan, merawat, membesarkan, memperkenalkan dunia, memberikan pendidikan, mengorbankan kenyamanan demi masa depan anak. Karena itulah dalam Ajaran Buddha menyebut: “Orang tua adalah Brahma bagi anak-anaknya.” Artinya, mereka adalah sosok yang sangat luhur dan layak dihormati.

Dalam Sigālovāda Sutta, Buddha mengajarkan ada lima kewajiban anak kepada orang tuanya, melalui lima cara inilah seorang anak membalas jasa orang tua.

1. Menafkahi ketika mereka membutuhkan. Ketika kecil kita dinafkahi, saat mereka tua, giliran kita membantu mereka. Bukan sekadar memberi uang, tetapi memastikan mereka hidup dengan layak.

2. Membantu pekerjaan mereka. Membantu usaha keluarga, mengurus keperluan mereka, mengantar berobat, menjadi tempat mereka bersandar.

3. Menjaga nama baik keluarga. Perilaku anak membawa nama orang tua, anak yang jujur membuat orang tua dihormati, anak yang bermoral menjadi kebanggaan keluarga.

4. Menjadi pewaris yang baik. Warisan bukan hanya harta, tetapi juga nilai-nilai kehidupan, kejujuran, kasih sayang, kemurahan hati, kesabaran dan nilai-nilai positif lainya.

5. Melimpahkan Jasa Kebajikan. Inilah kewajiban yang paling sering terlupakan, banyak anak rajin memberi uang, rajin membelikan pakaian, rajin mengajak jalan-jalan, namun lupa memberikan hadiah yang paling berharga yaitu melakukan pelimpahan jasa kebajikan.

Mengapa Pelimpahan Jasa Sangat Penting? Uang, rumah, mobil dan harta lainnya hanya dipakai selama hidup. Tetapi jasa kebajikan dapat menjadi sebab munculnya kebahagiaan di kehidupan sekarang maupun kehidupan selanjutnya.

Ada satu kisah paling terkenal terdapat dalam Tirokuḍḍa Sutta. Suatu hari Raja Bimbisara berdana kepada Buddha dan Sangha. Tetapi beliau lupa melimpahkan jasa kepada sanak keluarganya yang telah meninggal. Malam harinya terdengar suara tangisan mahkluk peta, mereka berkata bahwa mereka belum memperoleh bagian jasa. Keesokan harinya Buddha menjelaskan bahwa mereka sedang menunggu pelimpahan jasa, raja kemudian kembali berdana. Setelah selesai beliau berkata: “Semoga jasa kebajikan ini sampai kepada sanak keluarga kami yang telah meninggal.” Saat itu para peta bergembira. Mereka memperoleh kebahagiaan sesuai kondisi kelahiran mereka.

Pelimpahan jasa lahir dari kemurahan hati. Semakin sering seseorang berbuat baik, semakin banyak pula jasa yang dapat dibagikan. Ketika anak mengajak orang tua berdana, bermeditasi, mendengar Dharma, menjaga sila, sesungguhnya anak sedang memberi hadiah yang tidak ternilai, karena pemberian Dharma mengungguli semua pemberian.

Orang yang sudah meninggal tidak selalu bisa menerima pelimpahan jasa. Menurut ajaran Buddha, pelimpahan jasa terutama bermanfaat bila mereka terlahir sebagai peta yang mampu menerima dan bersukacita atas kebajikan tersebut. Bila mereka terlahir di alam lain, jasa kebajikan tidak menjadi sia-sia. Kebajikan tetap memperkaya batin pelaku dan dapat menjadi berkah bagi makhluk lain yang dapat menerimanya. Karena itu, pelimpahan jasa adalah tindakan yang penuh welas asih tanpa pernah merugikan siapa pun.

Pelimpahan jasa bukanlah sekedar transaksi, ini merupakan rasa bakti kepada leluhur sekaligus bentuk kebersamaan dengan berbagi kebahagiaan. Pelimpahan jasa dapat dilakukan setelah seseorang melakukan kebajikan terlebih dahulu, dengan berdana, menjaga sila, meditasi, membantu sesama, melepas satwa (dengan bijaksana dan tidak merusak ekosistem), membangun wihara, mencetak kitab Dharma, membantu pendidikan, donor darah, pelayanan sosial. Kemudian mengucapkan: Semoga jasa kebajikan ini menjadi milik sanak keluarga kami. Semoga mereka berbahagia.”

Orang Tua yang masih hidup juga dapat menerima manfaat, pelimpahan jasa bukan hanya untuk mereka yang telah meninggal. Dalam Ajaran Buddha kebajikan yang diberikan tidaklah ‘dipindahkan”, karena sesungguhnya setiap mahkluk adalah pewaris karmanya sendiri. Yang terjadi adalah ketika kita melakukan perbuatan bajik atas nama mendiang, maka setelah menyaksikan kebajikan tersebut mereka akan turut berbahagia atau bermudita. Kebahagiaan inilah yang kemudian menjadi salah satu karma baik yang tentunya dapat membantu kelahiran ke alam yang lebih baik.

Selain itu anak juga dapat mengajak orang tua berdana, mengajak berbuat baik, mengajak mendengar Dharma, mengajak meditasi, mengajak menjaga lima sila.  Ketika orang tua ikut berbahagia atas kebajikan anak, kebahagiaan itu sendiri menjadi sebab munculnya kebajikan baru dalam batin mereka.

Ajaran Buddha mengajarkan bahwa hadiah terbaik bukanlah yang paling mahal, melainkan yang paling membawa manfaat. Rumah akan lapuk, mobil akan rusak, perhiasan akan hilang, uang akan habis. Tetapi jasa kebajikan tidak pernah sia-sia.

Ia menjadi cahaya yang menerangi kehidupan pelakunya dan, sesuai kondisi, dapat menjadi berkah bagi orang tua yang telah meninggal melalui pelimpahan jasa. Maka, jika kita benar-benar mencintai orang tua, jangan hanya mengingat mereka pada Hari Ibu, Hari Ayah, atau saat peringatan wafat.

Ingatlah mereka setiap kali kita melakukan kebajikan. Jadikan setiap dana, setiap sila yang dijaga, setiap meditasi, dan setiap pelayanan kepada sesama sebagai “kado terbaik untuk orang yang dicintai.” Kematian mungkin memisahkan kita secara fisik, tapi tidak sepenuhnya memutuskan hubungan mengan mereka.

Marilah kita menutup renungan ini dengan doa pelimpahan jasa: Semoga jasa kebajikan ini menjadi berkah bagi ayah dan ibu saya, serta sanak keluarga saya. Semoga mereka semua berbahagia.

Semoga kita semua menjadi anak yang tidak hanya pandai berkata “Aku mencintaimu”, tetapi juga membuktikan cinta itu melalui kebajikan yang tulus dan pelimpahan jasa yang tak pernah putus.

Share:

Komentar (0)

Belum ada Komentar.

Ubah Filter Konten
Informasi

Silakan Masuk dengan menggunakan aplikasi Android/IOS