Seluruh Indonesia
Ubah Lokasi
  • Artikel

Cari

Tampilkan Artikel

Makna Sejati Waisak

Hendra Lim

Selasa, 24 Mei 2022

Pemuda Buddhayana, WBI, MBI

Tahun ini kita kembali merayakan Waisak di wihara. Kita dapat datang, berkumpul, bersukacita dan bergembira memperingati tiga peristiwa penting bagi umat Buddha. Salah satu peringatan Waisak yang kita harus selalu ingat adalah peringatan Waisak yang pertama kali membuka mata dunia bahwa ada agama Buddha di Indonesia.


Peringatan itu diselenggarakan tahun 1953 di Candi Agung Borobudur yang mana penggasanya adalah Anagarika Tee Boan An. Beliau kemudian memutuskan untuk memasuki kehidupan kebiksuan. Beliau ini kemudian kita kenal sebagai Maha Biksu Ashin Jinarakitha. Bhante Ashin atau Sukong inilah yang kita layak sebut sebagai pelopor kebangkitan kembali agama Buddha di Indonesia, putra pertama asli Indonesia yang menjadi biksu pasca keruntuhan kerajaan Majapahit. Sukong dengan segala upaya dan usaha yang tidak kenal lelah memperkenalkan Buddha Dharma ke seluruh penjuru Indonesia sehingga agama Buddha yang kita kenal pada hari ini dapat tersebar mulai dari Sabang hingga ke Marauke. Jadi ketika kita merayakan Waisak, khususnya bagi umat Buddha di Indonesia, selain memperingati tiga peristiwa kita juga harus ingat sejarah. Kita harus berterimakasih atas jasa para pelopor,  para pendahulu, senior-senior yang telah memperjuangkan agama Buddha sehingga agama Buddha menjadi agama resmi, diakui negara.  Salah satu bentuk pengakuan resminya adalah dalam bentuk hari libur. Waisak sebagai hari libur nasional diputuskan melalui Keppres nomor 3 tahun 1983 yang mana keputusan itu termasuk menetapkan Nyepi sebagai hari libur nasional.

Tahun ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, ada beberapa tema Waisak yang berbeda-beda karena setiap kelompok organisasi Buddhis di Indonesia memiliki temanya masing-masing. Tapi ada satu hal yang tentu harus kita selalu ingat sebagai seorang Buddhis yaitu makna sejati Waisak. Apa pun temanya, Waisak  memperingati tiga peristiwa penting yaitu kelahiran Siddhartha, kedua adalah keberhasilan Siddhartha menjadi Samma Sambuddha, ketiga adalah mangkatnya Buddha.  Yang penting kita harus selalu ingat makna sejati dari peringatan Waisak itu,

Apa makna kelahiran Siddhartha? Bagi ayahnya raja Sudhodana, kelahiran Siddhartha adalah sebuah kegembiraan dan sukacita, termasuk istrinya Ratu Mahamaya. Merea sudah lanjut usia tetapi belum memiliki seorang anak yang diharapkan akan menjadi penerus. Ketika akhirnya mendapatkan seorang bayi laki-laki mereka pasti bergembira dan sukacita. Tapi itu di level personal.  Yang lebih menarik adalah bagaimana seorang pertapa bernama Asita memaknai kelahiran bayi Siddhartha. Pertama dia tersenyum lalu menagis. Dia tersenyum, gembira karena seorang calon Buddha telah lahir di dunia. Menangis karena tidak memiliki kesempatan karena ketika bayi ini telah menjadi Buddha dia sudah tidak hidup di dunia. Dia tidak berkesempatan mendengarkan ajaran dari seorang Buddha. Pertapa Asita merasa tidak beruntung karena tidak punya kesempatan yang baik untuk mendengarkan Dharma langsung dari seorang Buddha.  Ini berhubungan dengan peristiwa kedua yang kita peringati, yaitu keberhasilan Siddhartha untuk menjadi Samma Sambuddha.

Keberhasilan Siddhartha untuk menjadi Samma Sambuddha. Kita lebih beruntung dibandingkan pertapa Asita. Pada saat itu, dia telah mencapai realisasi spiritual yang tinggi tetapi belum mencapai kesempurnaan, belum bebas dari samsara. Maka, ketika melihat bayi Siddhartha dia mampu melihat masa depan, melihat bagaimana bayi ini kemudian akan menjadi Buddha, sedangkan dia tidak punya kesempatan untuk belajar langsung. Keberhasilan Siddhartha untuk menjadi Samma Sambuddha sebenarnya adalah berkah yang sesungguhnya bagi kita karena kita sekarang mengenal ajaran Buddha. Dalam Dhammapada 182 tertera tentang tentang sulitnya kelahiran sebagai manusia, dan sulitnya kemunculan seorang Buddha. Oleh sebab itu, pada saat kita memperingati Waisak perlu sekali bagi kita untuk merenungkan betapa beruntungnya kita di kehidupan kita yang sekarang ini.  Di tahun 2022 kita masih dapat mendengarkan Dharma yang pernah dibabarkan oleh seorang guru agung, guru para dewa dan manusia. Kemudian juga penting diingat bahwa adanya Dharma ini merupakan sebuah kesempatan bagi kita untuk bisa mencapai keselamatan yang absolut.  Agama Buddha membicarakan keselamatan absolut yaitu bebas dari lingkaran kelahiran dan kematian, bebas dari samsara. Sebagai siswa Buddha, kita juga beraspirasi untuk dapat membantu, menolong, membebaskan makhluk- makhluk dari samsara. Itulah realisasi atau manfaat tertinggi dari  pencapaian keberhasilan Siddhartha untuk menjadi Buddha. Pada saat Waisak, renungkanlah betapa beruntungnya di kehidupan sekarang kita dapat dapat bertemu dengan ajaran Buddha.

Memaknai kemangkatan Buddha. Dalam bahasa Buddhis, kemangkatan Buddha disebut parinirwana. Dalam Bahasa Indonesia kata mangkat merujuk kepada meninggalnya raja atau orang-orang agung, yang dimuliakan, yang ditinggikan. Kemangkatan Buddha adalah sebuah ajaran langsung dari Buddha kepada kita tentang ketidakkekalan.  Buddha mengajarkan tiga ciri kehidupan yaitu segala sesuatu tidak ada inti,  ketidakkekalan, dan eksistensi dari dukkha.  Sering kita sebut dukkha, anica, anatta. Jadi kemangkatan Buddha atau meninggalnya Buddha, Buddha historis, bukanlah sesuatu yang sebagai seorang Buddhis kita harus ratapi atau kita harus merasa guru saya sudah tidak ada.  Kemangkatan Buddha adalah sebuah ajaran tidak langsung yang Buddha tunjukkan Buddha kepada kita Buddha historis atau wujud Buddha sebagai manusia, menunjukan kepada kita bahwa siapa pun dalam kehidupan ini pasti akan menemui kematian. Siapa pun dia, bahkan seorang Buddha pun, Buddha historis, mengalami kemangkatan. Tapi kita tidak perlu terlalu bersedih sebenarnya. Meskipun Buddha telah mangkat, tubuh fisik Buddha tidak ada, tetapi ajarannya masih ada hingga hari ini, hingga detik ini. Dharma yang Buddha wariskan itulah jalan menuju keselamatan sejati, keselamatan yang absolut, keselamatan tertinggi yaitu bebas dari samsara.  

Newton itu sama seperti Buddha. Newton sudah tidak hidup sekarang, namun warisan Newton dalam bentuk berbagai hukum Fisika sampai hari ini masih digunakan untuk menciptakan berbagai penemuan yang kita gunakan. Newton, dan berbagai penemu hebat lainnya di dunia yang telah meninggal meninggalkan warisan dalam bentuk berbagai rumus fisika, sains dan sebagainya yang sampai hari ini bisa kita gunakan. Jadi berhubungan dengan kemangkatan Buddha, bagaimana Buddha dapat menyelamatkan, tidak perlu khawatir, kenapa? Karena Buddha telah meninggalkan warisannya yang paling bernilai dan paling berharga bagi kita semua yaitu Dharma

Ketika kita memperingati Waisak, ada tiga hal yang perlu kita resapi dan maknai dalam setiap perayaan Waisak. Semoga Waisak selalu memberikan kita sebuah semangat untuk semakin yakin kepada ajaran Buddha sehingga kita semakin rajin untuk berpraktik, melatih apa yang telah Buddha ajarkan sehingga kita bisa merealisasi kebebasan absolut.

Share:

Komentar (0)

Belum ada Komentar.

Ubah Filter Konten
Informasi

Silakan Masuk dengan menggunakan aplikasi Android/IOS