KELAHIRAN YANG BERHARGA
U.P. Shakyavira Vamsa Suirianto
Jum'at, 08 Mei 2026
MBI
Dalam ajaran Buddha, kelahiran sebagai manusia bukanlah sesuatu yang biasa. Ini bukan suatu kebetulan, bukan pula sesuatu yang bisa dianggap remeh. Justru sebaliknya kelahiran sebagai manusia adalah kesempatan yang sangat langka, sangat berharga, dan sangat menentukan. Kesempatan langka yang sering sekali terlupakan.
Seberapa langka kelahiran sebagai manusia dalam ajaran Buddha? Buddha memberikan sebuah perumpamaan tentang seekor kura-kura buta yang sangat terkenal dalam Samyutta Nikaya: “Bayangkan di lautan luas mengapung sebuah kayu berlubang kecil berbentuk gelang, dan ada seekor kura-kura buta yang muncul ke permukaan laut hanya sekali dalam seratus tahun. Kemungkinan setiap muncul, kura-kura itu harus memasukkan kepalanya tepat ke lubang tersebut, seperti itulah perbandingan sulitnya untuk mendapatkan peluang terlahir sebagai manusia.” Perumpamaan ini menggugah kita menjadi manusia itu bukan hal yang mudah.
Sungguh sulit terlahir sebagai manusia,
Sungguh sulit kehidupan mahkluk hidup,
Sungguh sulit untuk dapat mendengarkan Dharma,
Sungguh jarang terjadi kelahiran para Buddha.
(Dhammapada 182)
Artinya, dua hal sekaligus, yaitu sulit mendapat kelahiran manusia dan sulitnya menjalani kehidupan sebagai manusia. Ini bukan sekadar kata-kata, tetapi realitas yang harus kita renungkan. Kalau kita lihat kehidupan sehari-hari, kita akan menyadari bahwa hidup sebagai manusia penuh dengan perjuangan, banyak orang berjuang mencari makan, banyak yang tertekan oleh beratnya ekonomi, banyak yang mengalami penderitaan fisik dan batin mulai dari stres, frustasi, kecewa, rasa kehilangan, bahkan untuk hidup “biasa saja” pun bagi sebagian orang terasa berat. Hal ini jelas menunjukan bahwa untuk sekedar bertahan hidup saja sudah sulit. Kelahiran manusia bukan hanya langka, tetapi juga penuh tantangan dan rintangan.
Justru disinilah nilai pentingnya, karena di alam rendah penuh penderitaan, sulit berbuat baik, di alam dewa terlalu nyaman, mudah terlena, hanya di alam manusia, adalah tempat yang ideal, ada keseimbangan antara suka dan duka. Sehingga dalam ajaran Buddha kelahiran di alam surga atau dewa bukanlah sebuah tujuan utama, kelahiran sebagai manusialah merupakan keberuntungan yang sangat berharga, karena manusia punya peluang terbaik untuk belajar Dharma, mengembangkan kebijaksanaan dan mencapai pembebasan. Namun demikian, peluang terlahir sebagai manusia sangatlah kecil, lebih banyak mahkluk yang terlahir di alam lain.
Akan tetapi, bagi sebagian besar dari kita bahkan tidak berpikir untuk mengembangkan dorongan dan berupaya dapat memperoleh kelahiran kembali sebagai manusia di kehidupan yang akan datang, apalagi dorongan untuk dapat bertemu ajaran Buddha dan mengupayakan untuk mencapai pencerahan. Kelahiran Kembali sebagai manusia tidak akan terjadi tanpa sebab sebelumnya. Untuk memperoleh kelahiran kembali sebagai manusia yang sempurna seperti yang kita miliki saat ini, kita perlu menjaga sila yang sangat sempurna dan murni.
“Kelahiran sebagai manusia merupakan kelahiran yang unggul. Nilai unggulnya jauh melebihi permata pengabul harapan atau harta benda apapun, seperti intan dan sebagainya. Nilai unggul terlahir sebagai manusia ini adalah ratusan bahkan ribuan kali lebih berharga.” (Je Tsongkhapa)
Ada cerita ketika di Sāvatthī, Bhagavā mengambil sedikit tanah dengan ujung kuku jari tanganNya dan berkata kepada para biksu sebagai berikut: “Para Biksu, bagaimanakah menurut kalian, mana yang lebih banyak: sedikit tanah yang kuambil di ujung kuku jari tanganku ini atau bumi ini?”
“Yang Mulia, bumi ini lebih banyak. Sedikit tanah yang Bhagavā ambil di ujung kuku jari tangan Beliau adalah tidak berarti. Dibandingkan dengan bumi ini, tidak dapat dihitung, tidak dapat dibandingkan, tidak ada bahkan sebagian kecilnya.”
“Demikian pula, para Biksu, makhluk-makhluk yang terlahir kembali di antara manusia adalah sedikit. Tetapi banyak sekali makhluk-makhluk yang terlahir kembali di alam selain alam manusia.”
Kalau kelahiran manusia sudah sulit, ada yang lebih sulit lagi yaitu sulitnya kemunculan seorang Buddha di dunia dan sulit pula untuk bisa mendengar ajaran Buddha. Artinya adalah tidak setiap zaman ada Buddha, tidak semua manusia pernah dan bisa mendengar Dharma.
Coba kita renungkan sejenak, berapa banyak manusia di dunia ini yang tidak mengenal ajaran Buddha? Berapa banyak yang sudah mengenal, tetapi tidak tertarik untuk mempelajarinya? Dan berapa banyak yang sudah tertarik, tapi Engan untuk menjalankan dan mempraktikkannya?
Maka ketika kita dapat terlahir sebagai manusia, hidup di masa ajaran Buddha masih ada, dan bisa mendengar dan belajar Dharma, maka itu bukan hal yang biasa. Ini adalah berkah luar biasa, karena tubuh manusia ini adalah alat untuk pembebasan, dalam ajaran Buddha, tubuh ini bukan untuk disombongkan, bukan hanya untuk kesenangan, tetapi sebagai alat untuk berbuat kebajikan dan mencapai pembebasan.
Tubuh manusia memungkinkan kita untuk memberi (dana), menjalankan moralitas (sila), berlatih meditasi (samadhi) dan mengembangkan kebijaksanaan (pañña). Yang harus kita pahami bahwa ajaran Buddha hanya tersedia pada waktu-waktu tertentu dan pada waktu-waktu tertentu akan hilang, sebelum ditemukan kembali.
Tanpa tubuh manusia, semua ini sangat sulit dilakukan, tapi dalam kenyataannya masih banyak orang yang menggunakan tubuh manusia ini untuk kesenangan semata, banyak yang mengejar nafsu keinginan tanpa arah dan banyak yang lupa bahwa hidup ini tidak kekal, bahwa sebesar apapun daya usaha yang kita, menua, sakit dan kematian adalah bagian dari diri kita yang tidak terpisahan. Tubuh ini rapuh, sarang penyakit dan mudah hancur.
Kita seharusnya menggunakan kesempatan langka ini, dengan tubuh manusia yang kita miliki secara bijaksana, tidak menunda-nunda segala kesempatan untuk melakukan aktifitas bajik, jangan pernah menunda dan berpikir nanti saja, saya masih muda, masih ada waktu, karena hidup ini tidak pasti, kematian adalah yang pasti dan hari esok belum tentu masih menjadi bagian dari diri kita.
Memperbanyak kedermawanan (dana), memberi langkah awal untuk berlatih melepas, mengurang keserakahan dan membuka jalan kebahagiaan. dan menjalankan kemoralan (sila) adalah fondasi yang dapat membuat hidup lebih damai, menghindari penyesalan, serta menjadi dasar kebahagiaan batin. Menjaga pikiran dan menumbuhkan kebijaksaan membantu kita mengenali diri sendiri, sehingga memahami bahwa kehidupan ini tidaklah kekal, selalu berubah (Anicca), kehidupan ini berisi penderitaan dan ketidakpuasan (Dukkha) dan kehidupan ini pun tanpa inti (Anatta), sehingga tidak ada yang perlu dilekati.
Jangan sia-siakan kesempatan ini, bayangkan kita sudah mendapatkan sesuatu yang sangat langka dapat terlahir sebagai manusia dan juga kita sudah mendapatkan sesuatu yang lebih langka lagi yaitu mendengar ajaran Buddha. Namun kalau kita tidak berbuat baik, tidak belajar dan tidak berkembang, kita seperti orang yang memegang harta karun, tapi tidak pernah membukanya.
Hidup ini bukan sekadar makan, bekerja, pemuasan Indra, tidur, lalu mati. Kita bukanlah kerbau yang hanya bertumbuh ukuran tubuhnya tanpa disertai bertumbuhnya kebijaksanaan. Jangan pula seperti sendok yang tidak dapat merasakan rasa sayur walau selalu menyentuhnya, jadilah seperti lidah yang walau hanya sesaat namun dapat langsung merasakan rasa dari sayur tersebut.
Hidup ini adalah kesempatan untuk memperbaiki diri, menolong sesama, mengembangkan kebijaksanaan dan mendekati kebebasan sejati (Nibbana).
Mari kita ingat bahwa sungguh sulit terlahir sebagai manusia, sungguh sulit untuk bisa bertahan hidup dan sungguh sulit mendengar ajaran Buddha, oleh karena itu selama kita masih bernapas, sehat dan memiliki kesempatan gunakanlah hidup ini dengan sebaik-baiknya untuk hal-hal yang bermanfaat.
Daftar Pustaka :
@FitMind_ID. (2026 April 07). dr Gia:MANUSIA adalah KEAJAIBAN
Komentar (0)