KETIKA DAGING MASUK ATURAN MAKAN
U.P. Shakyavira Vamsa Suirianto
Beberapa waktu lalu ramai di media terkait pelarangan menjual daging tertentu di suatu daerah di pulau Sumatera, hal ini rasanya menjadi menarik, ketika daging masuk menjadi aturan makan seseorang.
Penulis masih sering menemukan dalam masyarakat pertanyaan terkait apakah umat Buddha itu harus vegetarian? Dan pemahaman bahwa umat Buddha itu tidak boleh makan daging.
Pertanyaan ini sering muncul karena masyarakat mengenal ajaran Buddha sebagai ajaran agama dan filosofi hidup yang kaya praktik moral dan etika, mendorong pengikutnya untuk menjunjung tinggi kehidupan dengan belas kasih dan menghormati semua bentuk kehidupan, menjunjung tinggi ahimsa (tanpa kekerasan), tidak menyakiti makhluk hidup. Namun dalam praktiknya, kita juga masih dapat melihat para biksu menerima dana makanan apa adanya, termasuk makanan yang mengandung daging.
Pembahasan terkait makan daging kadang-kadang merupakan topik yang bisa menjadi sedikit sensitif dan dapat menjadi perdebatan yang panjang. Ada beragam pandangan tentang makan daging di dalam kalangan umat Buddha sendiri dan setiap pandangan mungkin saja benar pada batasan tertentu, tetapi pandangan-pandangan tersebut bisa jadi juga tidak cukup bijaksana. Dalam hal ini, kita harus lebih terbuka untuk melihat bagaimana pandangan Buddha dan mengesampingkan pandangan pribadi. Hal ini penting karena Buddha memiliki pengetahuan dan tindak tanduk yang sempurna.
Untuk menjawabnya, kita perlu kembali kepada sumber ajaran paling awal dalam ajaran Buddha, yaitu Tripitaka. Dalam Majjhima Nikaya 55, suatu hari ada seorang tabib terkenal bernama Jivaka Komarabhacca mengajukan pertanyaan kepada Buddha mengenai isu yang beredar pada saat itu: bahwa petapa Gotama memakan daging dari hewan yang dibunuh untuk Beliau.
Buddha menjawab dengan sangat jelas bahwa seorang biksu boleh mengonsumsi daging apabila memenuhi tiga syarat kemurnian:
1. Tidak melihat hewan itu dibunuh untuk dirinya
2. Tidak mendengar hewan itu dibunuh untuk dirinya
3. Tidak mencurigai hewan itu dibunuh untuk dirinya
Inilah yang dikenal sebagai tiga kemurnian (tisso parisuddhi maṃsa). Prinsip dasarnya bukan soal makan daging, tapi soal niatnya. Artinya, inti ajaran bukan pada jenis, rasa dan jumlah makanannya, tetapi lebih pada niat dan keterlibatan kita dalam terjadinya pembunuhan tersebut.
Jika seseorang memesan ayam lalu berkata, “Tolong sembelih khusus untuk saya,” maka ia turut terlibat dalam karma pembunuhan. Namun jika ia menerima makanan yang sudah tersedia tanpa permintaan khusus, maka ia tidak terlibat dalam niat membunuh. Di sini kita melihat dengan jelas bahwa ajaran Buddha sangat menekankan pada cetana (niat) sebagai akar dari karma.
Walaupun Buddha tidak mewajibkan praktik vegetarian secara keras, namun bila kita merujuk pada pancasila Buddhis dan metta (cinta kasih) maka dapat disimpulkan bahwa Buddha sangat mendukung praktik Vegetarian.
Dalam bagian dari Vinaya Pitaka ada sepuluh jenis daging yang secara eksplisit dilarang untuk dikonsumsi bagi para biksu. Sepuluh jenis daging yang dilarang untuk dikonsumsi adalah daging manusia, daging gajah, daging kuda, daging anjing, daging ular, daging singa, daging harimau, daging macan tutul, daging beruang dan daging hyena.
Alasannya bukan semata-mata soal belas kasih, aturan ini bukan juga semata dogma, tetapi mempertimbangkan konteks sosial dan keharmonisan dengan alam.
1. Faktor Sosial
Sebagian hewan seperti kuda dan gajah memiliki nilai sosial dan simbolik tinggi dalam masyarakat India kuno. Mengonsumsinya bisa menimbulkan keresahan.
2. Faktor Keamanan
Mengonsumsi hewan buas seperti singa atau harimau bisa membahayakan karena berpotensi mengundang serangan hewan sejenis.
3. Faktor Moral dan Persepsi Publik
Biksu hidup bergantung pada dana umat. Jika masyarakat memandang para biksu sebagai “pemakan daging aneh,” maka kepercayaan bisa rusak.
Dalam tradisi Theravada, vegetarianisme tidak diwajibkan. Namun dalam tradisi Mahayana, beberapa sutra mendorong praktik vegetarian sebagai bentuk welas asih yang lebih mendalam, seperti dalam Bodhisatva Sila.
Perbedaannya terletak pada penekanan praktik dalam tradisi Theravada yaitu fokus pada kemurnian niat dan tidak terlibat dalam pembunuhan dan tradisi Mahayana yaitu mendorong untuk penghindaran konsumsi daging sebagai ekspresi kebijaksanaan universal. Namun keduanya memiliki akar yang sama yaitu untuk mengurangi penderitaan semua makhluk hidup.
Di zaman modern, ketika kita harus jujur maka hubungan antara idealis dan realitas menjadi sedikit kabur karena sistem industri makanan membuat kita sering kali jauh dari proses pembunuhan. Kita tinggal membeli di supermarket dan kita tidak perlu melihat prosesnya. Tetapi secara etis, pertanyaannya menjadi lebih dalam:
• Apakah dengan membeli, kita turut mendukung sistem pembunuhan?
• Apakah kita memiliki pilihan melalui cara makan tertentu yang lebih welas asih?
Di sinilah kebijaksanaan diperlukan, ajaran Buddha bukan agama yang memaksakan, tetapi mengajak kita untuk merefleksikannya. Semakin seseorang berkembang dalam mettā (cinta kasih) dan karuṇā (welas asih), sering kali ia secara alami mengurangi konsumsi daging.
Seseorang tidak menjadi vegetarian bukan karena takut “dosa”, bukan pula karena tekanan sosial dari komunitas, tetapi karena kesadaran yang tumbuh dari dalam diri karena ingin mengembangkan metta, sehingga dapat memiliki hati yang penuh cinta kasih dan lebih lembut.
Jika dilihat dari ajaran Buddha mengenai konsumsi daging, yang menjadi pondasinya adalah diawali dari niat kita (Cetana), karena karma didasari oleh niat. Tidak terlibat dalam pembunuhan, jangan menjadi penyebab langsung dari kematian makhluk. Mengembangkan Welas Asih, semakin halus batin seseorang, maka semakin sensitif terhadap penderitaan makhluk lain. Maka pertanyaannya bukan lagi: “Bolehkah makan daging?”, tetapi berubah menjadi: “Bagaimana saya bisa hidup dengan penderitaan makhluk seminimal mungkin?”
Sebagai umat Buddha di zaman ini, kita bisa mengambil beberapa sikap bijaksana. Jika belum mampu vegetarian, praktikkan tiga kemurnian. Kurangi konsumsi daging secara bertahap. Hindari keserakahan dan pemborosan apalagi sampai membuang-buang makanan, makanlah sewajarnya. Tanamkan rasa terima kasih kepada makhluk yang menjadi makanan dan semua yang terlibat atas ketersediaan makanan tersebut. Jika kita bisa mempraktikan hal tersebut, itu sudah merupakan sebuah langkah besar dalam upaya menjaga cara makan kita dengan lebih bijaksana.
Ajaran Buddha tidak berdiri di sisi ekstrem, tetapi tetap di “Jalan Tengah” berkaitkan dengan aturan makan, tidak memaksakan praktik vegetarian secara mutlak, tetapi tidak juga membebaskan tanpa etika. Ajaran Buddha menawarkan Jalan Tengah yaitu sikap sadar, bertanggung jawab dan berwelas asih.
Jika merujuk pada penjelasan di atas maka aturan ini lebih ditujukan kepada para Biksu, namun sebagai umat awam praktik ini juga dapat dijadikan Latihan. Daging yang dihindari dalam ajaran Buddha bukan sekadar daftar jenis hewan. Yang paling dihindari sesungguhnya adalah daging yang lahir dari keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan dalam batin kita sendiri. Karena pada akhirnya, latihan sejati bukan hanya tentang apa yang masuk ke mulut, tetapi tentang apa yang tumbuh di dalam hati.
Umat awam mempunyai lebih banyak kebebasan untuk memilih makanan mereka, dan untuk umat awam adalah sepenuhnya tergantung pada pilihan pribadi masing-masing untuk memilih makan daging atau menjadi seorang vegetarian. Untuk alasan-alasan yang sudah dijelaskan sebelumnya, adalah penting untuk tidak terlalu kritis terhadap cara makan orang lain terkait dengan apapun yang menjadi pilihannya, jangan terlalu sibuk melihat isi piring orang lain.
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh orang lain. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh diri sendiri. (Dhammapada 50)
Cara yang paling efektif untuk mengurangi pembunuhan dan kekejaman di dunia adalah pemahaman akan ajaran Buddha. Pada akhirnya, penderitaan (dukkha) adalah karateristik dari kehidupan, dan cara untuk mengakhiri penderitaan adalah dengan melatih Jalan Mulia Berunsur Delapan ajaran Buddha untuk keluar dari lingkaran kelahiran kembali.
Jagalah apa yang masuk ke mulut maka kesehatanmu akan terjaga,
Jagalah apa yang keluar dari mulut kehormatanmu akan terjaga.