Keberuntungan Sepanjang Masa
U.P. Vijjani Kumari Venita
Jum'at, 20 Februari 2026
MBI
Dahulu, penulis sempat berpikir bahwa kesuksesan dan keberuntungan itu bersifat random. Artinya orang yang sukses dan beruntung itu hanyalah orang orang tertentu saja. Namun setelah mengenal Dharma secara lebih mendalam, barulah penulis mengetahui bahwa kesuksesan dan keberuntungan itu sebetulnya dapat menjadi milik semua orang.
Merawat Sila
Ada cerita tentang seorang pedagang kelontong di sebuah kota besar di Indonesia. Pedagang kelontong ini setiap tutup toko selalu pergi ke sebuah warnet terdekat untuk bermain game. Di warnet ini ternyata para gamers kebanyakan terdiri dari anak dan remaja.
Suatu hari, entah kenapa, permainan game tersebut diwarnai oleh pertengkaran antara pemainnya. Dan di tengah pertengkaran ini, si pedagang kelontong tersebut menampar salah satu anak. Celakanya, kejadian ini tidak berakhir sampai di situ saja. Si anak ternyata adalah anak seorang anggota TNI dan kemudian si pedagang kelontong ini ditangkap dan diadukan ke polisi oleh orang tua si anak.
Para pembaca budiman, apa yang kira-kira ada di benak si pedagang kelontong itu? “Sial sekali, hari ini benar benar sial buat saya,” mungkin demikian pikiran si pedagang kelontong. Namun benarkah hari itu merupakan hari yang sial? Bukankah kejadian itu disebabkan oleh dirinya sendiri? Sekitainya dia tidak menampar anak tersebut, tentu dia tidak akan jatuh dalam kesulitan tersebut bukan.
Dana
Dana meski bukan kebajikan yang tertinggi, namun mampu menghadirkan kamma vipaka (buah karma) berupa berbagai kesenangan indrawi di kehidupan kita. Juga menopang berbuahnya berbagai kusala vipaka (buah perbuatan baik) dari kehidupan kehidupan yang lampau.
Dana diibaratkan menanam pohon mangga. Jika kita menanam pohon mangga, maka yang kita lakukan setiap hari adalah memberi pupuk, menyirami dan lain sebagainya. Kita juga mencemaskan apakah pohon mangga tersebut dapat tumbuh dengan baik atau tidak, apakah dia akan kekeringan ataupun terserang hama. Dan ketika akhirnya pohon mangga itu menghasilkan buah yang lebat banyak orang berkomentar betapa enaknya si pemilik pohon mangga, bisa panen mangga yang lezat tersebut. Namun mereka tidak melihat segala daya upaya yang telah dikerahkan untuk mencapai hal itu.
Begitu pula dana yang sedikit demi sedikit kita pupuk. Ada yang menghasilkan buahnya di kehidupan sekarang, ada yang baru berbuah di kehidupan kehidupan mendatang. Tetapi tetaplah semuanya menghasilkan buah kebajikan. Dan pada saat buah itu matang yang orang lihat semata adalah kesuksesan, kekayaan dan kemakmuran. Orang sering alpa melihat semua sebab kusala karma yang telah dibuat.
Di lain pihak bila panen hasil karma ini banyak berbuah kegagalan, ketidaksuksesan, bahkan kemiskinan, kita cepat berkomentar,”hidup saya sial sekali, semua yang dilakukan selalu gagal”. Kita gampang menyalahkan kiri kanan. Kita lupa melihat bahwa penyebab kesuksesan dan kemakmuran ternyata baru sedikit sekali mereka ciptakan, baik di kehidupan sekarang maupun lampau. Kita hanya melihat buah tanpa melihat sebab.
Bhāvanā
Dalam meditasi kita menemukan kesabaran dan dalam kesabaran kita melihat meditasi. Pernyataan ini erat kaitan nya jika kita mau menengok ke kehidupan kita.
Dalam banyak episode hidup kita, kita akan menemui, entah terlambatnya pesanan makanan, pesawat kita tertunda sekian jam, tertukarnya pesanan barang kita dan lain sebagainya. Menghadapi semua ini jangan lah kita menjadi marah. Bersabarlah.
Jika kita tidak bersabar dan menjadi marah karenanya, maka kita akan mendapati bahwa selama sisa hari kita akan senantiasa uring uringan. Kita mungkin berkata,”sial sekali hari ini, pesawat saya terlambat beberapa jam.” Kemarahan kita hanyalah akan merusak hari kita. Namun lihatlah, jika kita mau bersabar sedikit saja maka “kesialan” yang kita maksudkan sebetulnya tidak menghampiri kita. Bukan kejadian kejadian itu yang merupakan “kesialan” kita. Kemarahan kitalah bahan bakar kesialan kita.
Pañña
Ada satu kisah lagi yang ingin saya ceritakan. Kali ini merupakan apa yang terjadi pada kenalan penulis.
Si kenalan ini mendapati dari CCTV bahwa ada seseorang yang sering buang air kecil di pagar toko nya. Melihat itu sontak seketika ia menjadi marah. Maka video dari CCTV itupun dia unggah ke publik dengan tujuan membuat jera orang tersebut. Namun yang terjadi benar benar di luar dugaan. Orang tersebut malah menuntut kenalan saya ini ke pengadilan atas tuduhan pencemaran nama baik. Kenalan saya pun kalah dan harus membayar sejumlah besar uang.
Apa yang kira kira dipikirkan kenalan saya ini menghadapi kasusnya? “Wah sial sekali saya. Orang ini telah membuat hidup saya begitu sial.” Tetapi bila kita lihat lebih jauh, apa yang dia sebut “kesialan” ini datang dari diri sendiri. Sekiranya kenalan saya ini memiliki kebijaksanaan lebih dan mau bersabar, maka segala “kesialan“ ini tidak akan terjadi pada dirinya. Karenanya memiliki pañña (kebijaksanaan) teramat penting. Kebijaksanaan memungkinkan kita meraih keuntungan lebih dalam hidup kita.
Keempat hal yang penulis paparkan termasuk dalam sepuluh paramita yang diajarkan Buddha. Meninggalkan keempat hal ini; sila, dana, bhāvanā dan pañña, dapat membawa “kesialan” demi “kesialan” dalam hidup kita. Sementara menggenggam erat keempat hal tersebut akan mendatangkan keberuntungan bukan saja di kehidupan yang sekarang namun juga di sepanjang masa.
Semoga bermanfaat. Selamat merayakan Imlek. Gong xi fa cai, Wan shi ru yi.
Komentar (0)