Seluruh Indonesia
Ubah Lokasi
  • Artikel
  • Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Cinta tanpa Syarat, Pengorbanan tanpa Batas

Cari

Tampilkan Artikel

Cinta tanpa Syarat, Pengorbanan tanpa Batas

U.P. Shakyavira Vamsa Suirianto

Senin, 29 Desember 2025

MBI

Setiap tanggal 22 Desember media sosial sering dibanjiri oleh foto keakraban bersama ibu, ucapan manis, ungkapan kasih sayang kepada ibu, bahkan sampai promosi bunga dan kado buat ibu juga ramai.  Nampaknya di tanggal ini adalah momen yang sangat spesial untuk memanjakan seorang ibu.


Hari Ibu bukan sekadar tanggal dalam kalender. Ia adalah momen untuk kembali menundukkan kepala, merasakan hangatnya cinta tanpa syarat, dan memuliakan sosok yang telah mencurahkan hidupnya demi kita Dalam ajaran Buddha, kedudukan ibu sangat agung, bahkan Buddha menyamakan jasa ibu dengan “guru pertama” dalam kehidupan, tempat kita belajar cinta kasih, kesabaran, dan pertumbuhan.

Di beberapa negara tanggal perayaan hari ibu berbeda-beda. Di Jepang hari ibu dirayakan pada minggu kedua bulan mei, di Thailand 12 Agustus bertepatan dengan ulang tahun ratu Srikit, di negara lain berbeda juga, tergantung sejarahnya. Di Indonesia tanggal 22 desember diperingati sebagai hari ibu. Ini merupakan hasil kesepakatan Kongres Perempuan pertama yang diselengarakan di Jogjakarta pada tanggal 22-25 Desember 1928. Peringatan hari ibu biasa diselengarakan dengan berbagai cara dan ritual pemberian kado, bunga, membasuh kaki, makan bersama dan acara lainnya. Namun semua ini umumnya hanya sekedar ceremonial, sekedar perayaan saja.

Ibu adalah makhluk yang sulit ditandingi jasanya. Dalam Matuposaka Sutta (AN 2.31), Buddha menyampaikan bahwa meskipun seorang anak memikul ayah dan ibu di bahu, membersihkan mereka, memberi makan dan merawat mereka sepanjang hidup, tidaklah cukup untuk membayar jasa keduanya, mengapa? Karena jasa orang tua begitu besar, sejak kita belum lahir, mengandung, melahirkan, menjaga, memberi makan, hingga berkorban tanpa pamrih demi masa depan kita.

Buddha menegaskan bahwa: “Sulit ditemukan makhluk yang jasanya lebih besar daripada ayah dan ibu.” Ketika momen hari ibu tiba, ini menjadi pengingat bahwa kita tidak hanya sekadar mengucapkan selamat atau memberi kado maupun bunga, tetapi menyadari dan bahkan harus menumbuhkan rasa terima kasih seumur hidup, meski pun belum setara dengan cinta dan pengorbanan seorang ibu.

Ibu adalah simbol metta cinta kasih universal, cinta kasih tanpa syarat. Dalam Karaniya Metta Sutta, Buddha memberikan perumpamaan paling indah tentang sosok ibu “bagaikan seorang ibu mempertaruhkan hidupnya untuk melindungi anak tunggalnya, demikianlah seharusnya kita mengembangkan cinta kasih tanpa batas.”

Mengapa Buddha memakai sosok ibu sebagai perbandingan tertinggi cinta kasih? Karena cinta kasih seorang ibu tidak menunggu imbalan, tidak perlu alasan dan tidak pernah mengharapkan balasan. Seorang ibu sudah mencintai anaknya meskipun masih dalam kandungan, tanpa perlu tahu bagaimana kondisi anaknya, apakah normal atau cacat, namun cintanya sudah tumbuh. Cintanya adalah metta, cinta kasih dalam bentuk paling murni memberi tanpa meminta, merawat tanpa menghitung untung-rugi, memahami bahkan sebelum kita berbicara.

Hari ibu menjadi saat bagi kita untuk merenungi apakah sudahkah kita meneladani kualitas metta yang beliau tunjukkan?

Peran ibu sangat penting dalam pembentukan moral dan karakter. Selain peran biologis, Buddha menekankan aspek spiritual seorang ibu, beliau adalah sumber nilai moral pertama yang dikenal anak. Maka, memuliakan ibu berarti memuliakan fondasi moral masyarakat. Dalam Sigalovada Sutta, Buddha menjelaskan bahwa anak hendaknya menghormati ibu dan ayah karena mereka adalah pelindung di masa awal, pendidik di dalam Kebajikan, penunjuk jalan hidup benar.

Hari ibu mengingatkan kita bahwa ibu adalah manusia biasa yang juga punya perasaan duka. Tugas kita sebagai anak bukan hanya menerima cinta, tetapi juga memberi cinta, memberi ruang yang luas bagi kesedihan dan kebutuhannya. Dalam ajaran Buddha apa yang bisa kita lakukan untuk membalas jasa seorang ibu? Buddha mengajarkan, balas jasa tidak hanya berupa materi, tetapi terutama adalah dukungan moral dan spiritual.

Menghormati dan mendampingi mereka adalah bentuk bakti secara nyata. Dalam Sigalovada Sutta disebutkan seorang anak dapat menunjukan baktinya dengan cara merawat, menghormati, menjaga dan membantu pekerjaan orang tua. Dalam era modern seperti saat ini karena tuntutan pekerjaan sehari-hari seorang anak sering tidak lagi dapat tinggal dengan orang tua maka perhatian dengan meluangkan waktu, sekedar mengirim pesan setiap hari, mendampingi periksaan kesehatan atau sekadar duduk menemani dengan sabar adalah bentuk perhatian yang akan membuat mereka sangat bahagia.

Namun Buddha juga menegaskan bahwa cara terbaik membalas jasa orang tua adalah dengan menuntun mereka pada kehidupan bermoral dan penuh kebajikan dalam Dharma. Dalam konteks hari ibu adalah dengan menjadi anak yang sabar adalah hadiah, bekerja jujur adalah karangan bunga dan hidup bermoral adalah ucapan terima kasih yang paling asli dan berharga.

Apa yang bisa kita lakukan jika ibu kita telah meninggal atau tidak bisa kita ditemui lagi?  Dalam Ajaran-Nya, Buddah mengajarkan tentang praktek pelimpahan jasa (pattidāna). Ketika kita melakukan kebajikan, kita dapat melimpahkan jasa Kebajikan dari perbuatan tersebut kepada ibu kita atau pihak lain, dan itu menjadi cara yang mulia untuk mengalirkan cinta kita kepada ibu dan leluhur.

Hari Ibu bukan hanya hari perayaan, tetapi juga latihan spiritual:

           Metta: mengembangkan cinta kasih seperti ibu kepada semua makhluk.
           Kataññū: rasa tahu berterima kasih.
           Sīla: menjalani moralitas baik sebagai persembahan hidup.
           Sati: menyadari bahwa waktu kita dengan ibu tidak selamanya.

Saat kita memahami ajaran ini, hari ibu menjadi lebih dari sekadar seremoni, apalagi sekedar perayaan rutin tahunan saja, namun seharusnya dapat diperingati setiap hari dan menjadi momen transformasi bagi batin kita.

Dalam seluruh ajaran Buddha, sosok ibu adalah gambaran cinta kasih yang paling dekat dengan metta tanpa batas. Hari Ibu adalah kesempatan untuk meminta maaf, mengucapkan terima kasih, memuliakan cintanya dan mempraktikkan Dharma melalui kebajikan yang membahagiakan beliau.

Semoga setiap langkah yang kita lakukan hari ini menjadi persembahan kepada ibu, baik yang masih bersama kita maupun yang telah mendahului kita.

Selamat Hari Ibu.
Semoga semua ibu di dunia berbahagia, sehat, dan damai dalam lindungan Triratna.

Daftar Pustaka:

Ningsih Wijaya Lestari. (2024). Sejarah Hari Ibu 22 Desember. Kompas.com. https://www.kompas.com/stori/read/2024/12/17/200000579/sejarah-hari-ibu-22-desember#

Share:

Komentar (0)

Belum ada Komentar.

Ubah Filter Konten
Informasi

Silakan Masuk dengan menggunakan aplikasi Android/IOS