Seluruh Indonesia
Ubah Lokasi
  • Artikel
  • Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Dharma di Balik Pengorbanan Seorang Ibu

Cari

Tampilkan Artikel

Dharma di Balik Pengorbanan Seorang Ibu

U.P. Panna Dhamma Haryanto Tanuwijaya

Sabtu, 20 Desember 2025

MBI

Dalam Anguttara Nikāya 2.32, Buddha menyatakan, “Walaupun seseorang memikul ayah dan ibunya di bahu kanan dan kiri sepanjang hidupnya, ia belum mampu membalas kebaikan mereka.”  Melalui pernyataan ini, Buddha dengan jelas mengingatkan bahwa kasih sayang ibu tak terukur, namun kita wajib menghormatinya melalui perilaku sehari-hari. 


Kasih ibu kepada beta,tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi, tak harap kembali, Bagai sang surya menyinari dunia.
 
Itulah lirik lagu lagu anak-anak berjudul ‘Kasih Ibu’ ciptaan S.M. Mochtar yang sangat populer yang selalu dinyanyikan ketika memperingati hari Ibu.  Demikian pula lagu mandarin berjudul Shi Shang Zhi You Mama Hao (世上只有妈妈好) yang artinya ‘Hanya ibu yang paling baik di dunia ini’, sebuah lagu anak-anak yang selalu disenandungkan di hari ulang tahun ibu tercinta.  Tidak ada cinta yang lebih jernih, lembut, tulus, dan tanpa syarat dibandingkan cinta seorang ibu.
 
Buddha Gotama menempatkan ibu dan ayah sebagai Brahma pertama dalam kehidupan seorang anak, sebagai sosok yang patut dihormati dan dibalas budinya.  Dalam ajaran Buddha, pengorbanan seorang ibu merupakan manifestasi Dharma yang hidup, Dharma yang dipraktikkan dalam kehidupan nyata melalui tindakan penuh cinta, kesabaran, dan pengabdian.
 
Dalam Anguttara Nikāya 2.32, Buddha menyatakan, “Walaupun seseorang memikul ayah dan ibunya di bahu kanan dan kiri sepanjang hidupnya, ia belum mampu membalas kebaikan mereka.”  Melalui pernyataan ini, Buddha dengan jelas mengingatkan bahwa kasih sayang ibu tak terukur, namun kita wajib menghormatinya melalui perilaku sehari-hari.
 
Buddha juga menyampaikan dalam Karaniya Metta Sutta (Suttanipata 1.8), “Bagaikan seorang ibu melindungi putranya dengan jiwa raganya, demikian pula hendaknya engkau mengembangkan cinta kasih kepada semua makhluk.”  Buddha menganalogikan metta pada sosok seorang ibu, karena kualitas cinta seorang ibu paling mendekati cinta kasih universal (metta).  Metta bukan sekadar perasaan, tetapi tindakan nyata sebagai wujud cinta seorang ibu, karena itu tidak ada analogi lain yang lebih tepat dari pada sosok Ibu.  Ajaran Buddha menunjukkan bahwa pengorbanan ibu adalah Dharma yang hidup, merupakan bentuk cinta tanpa syarat yang menjadi landasan spiritual dalam kehidupan manusia.

Kasih Ibu Dalam Buddha Dharma
Dalam Karaniya Metta Sutta, Buddha mencontohkan ibu sebagai perumpamaan yang paling indah, karena cinta ibu adalah cinta kasih paling murni, contoh nyata metta, tanpa syarat, tanpa batas, tanpa harap imbalan.  Mahatma Gandhi berkata, “Ibuku lah yang telah mengajarkanku arti cinta.”  Oleh karena itu ketika kita merenungkan kebaikan ibu, hati kita menjadi lembut, dan saat itulah timbul kebijaksanaan (paññā).

Ada sebuah kisah dalam kehidupan Buddha yang sangat menyentuh.  Pada suatu hari, Buddha mengetahui seorang biksu yang mengalami kesulitan bermeditasi.  Buddha lalu bertanya padanya, ”apakah engkau pernah mengingat kebaikan ibumu?”  Sesudah mendengar petunjuk Buddha, biksu itu lalu bermeditasi sambil mengenang pengorbanan ibunya.  Ternyata benar, batinnya menjadi lembut dan ia pun mencapai kedamaian yang sebelumnya tak pernah dirasakannya.  Cerita ini menegaskan bahwa kasih ibu dapat menjadi pintu masuk menuju kedamaian batin kita. Seperti apa yang dikatakan penyair Kahlil Gibran, “Mother, the most beautiful word on the lips of mankind,”  Ibu adalah kata terindah yang terucap dari bibir umat manusia.

Dharma dalam Pengorbanan Seorang Ibu
Pengorbanan seorang ibu digambarkan sebagai silent sacrifice, yaitu pengorbanan yang tidak terlihat, yang sejalan dengan ajaran Buddha tentang ketekunan batin (viriya) dan belas kasih yang aktif (karuna).   Seorang ibu selalu menahan sakit (dukha) seorang diri, namun memberi bahagia bagi keluarga atau orang-orang yang disayanginya.  Wujud nyata dari pratik karuna paramita dalam diri seorang ibu tercermin ketika ibu berupaya menahan kelelahan demi memastikan rumah tetap bersih dan rapi, ia menahan kekhawatiran seorang diri agar anaknya damai, ia tersenyum dan menahan air mata agar keluarga tetap bahagia, dan meskipun sakit, ia tetap bangun subuh menyiapkan sarapan untuk keluarganya.

Buddha Dharma mengajarkan bahwa belas kasih (karuna) bukan semata-mata perasaan kasihan, tetapi juga memiliki kesanggupan untuk menderita demi orang lain tanpa kebencian.  Di sinilah peranan seorang ibu menjadi teladan kita dalam memahami Dharma. Contoh pengorbanan seorang ibu yang pura-pura sudah makan hanya demi menjaga perasaan sedih anaknya jika tahu ibunya menahan lapar demi dia.  Ada pula ibu pengemudi ojol di tengah hujan lebat tetap mengantar pesanan dengan senyuman demi anaknya bisa makan.  Kisah viral ibu penjual sayur di pasar rajin menabung uang receh demi membelikan sepatu anaknya.  Anaknya tak sanggup menahan tangis haru lalu memeluk ibunya erat-erat. Sepatu barunya memang tidak mahal, tapi cinta ibu itu yang menjadikan sepatu itu sangat berharga.  Ada pula kisah atlet nasional, begitu dinyatakan juara, hal pertama yang dilakukan adalah berlari memeluk ibunya sambil berkata dalam tangisnya, “Terima kasih ibu. Semua ini karena Ibu.”

Dalam perjalanannya menuju kesuksesan, apapun pencapaian seorang anak, selalu ada kasih dan pengorbanan diam-diam seorang ibu dari belakang layar.  Ibu tidak pernah meminta imbalan, ia selalu tersenyum dan bersyukur untuk setiap kebahagiaan kecil yang keluarga miliki.  Senyum ibu ini merupakan praktik Dharma di kehidupan nyata sebagai wujud keteguhan batin (viriya) untuk menahan dukha demi kebahagiaan anak-anaknya. Dalai Lama pernah mengatakan, “Cinta dan kasih sayang adalah kebutuhan, bukan kemewahan.  Tanpa keduanya, umat manusia tidak dapat bertahan hidup.”  Cinta seorang ibu adalah bentuk compassion tertinggi.

Kualitas Diri Ibu dan Kewajiban Anak
Ibu bersama Ayah adalah guru Dharma pertama dalam kehidupan spiritual seorang anak, meski ia mungkin tidak pernah mengucapkan istilah-istilah Buddhis.  Guru Agung kita, Buddha Gotama  mengajarkan tentang lima kekuatan batin (Pañca Bala).  Apabila kita perhatikan dengan seksama, lima kekuatan batin ini tercermin dalam kualitas yang dimiliki dalam diri seorang ibu, yaitu: 1) Keyakinan (saddha), bagaimana seorang ibu sangat yakin dan percaya akan masa depan anaknya bahkan anaknya sendiri belum mampu ’melihatnya’;  2) Semangat (viriya), dimana seorang ibu bekerja tanpa pernah kenal lelah; 3) Perhatian penuh (sati), ibu selalu mengingat hal-hal kecil tentang kita yang bahkan kita sendiri sudah melupakannya;  4) Konsentrasi (samadhi), setiap waktu ibu berupaya semampunya untuk tetap tenang demi menenangkan anak-anaknyanya; dan 5) Kebijaksanaan (panna), dimana seperti paparan sebelumnya, kebijaksanaan ibu lahir dari cintanya yang dalam kepada keluarganya.

Dalam Mahayana juga diajarkan tentang enam kesempurnaan batin (paramita), yaitu: kemurahan hati (dana), moralitas (sila), kesabaran (ksanti), semangat (virya), konsentrasi (dhyana), dan kebijaksanaan (prajna).  Menariknya, semua paramita ini pun ditemukan dalam diri seorang ibu. Dana paramita dipraktikkan ibu pada saat bangun lebih awal untuk menyiapkan makanan bagi seluruh anggota keluarga.  Ibu melatih dan mempraktikkan sila paramita sewaktu ia mengajarkan moral pada anak-anaknya.  Kesabaran dipraktikkan ibu pada saat ia menahan diri dari amarah kepada anaknya yang mungkin nakal, atau bersikap tidak patut kepadanya.  Sedangkan paramita semangat, konsentrasi dan kebijaksanaan identik pada lima kekuatan batin (Panca Bala).

Tidak heran apabila Buddha Gotama selain meminta kita menghormati ibu, juga mewajibkan kita ’berbuat sesuatu’ untuk ibu atau orang tua kita.  Sebagaimana dijelaskan Buddha dalam Sigālovāda Sutta (DN 31) tentang kewajiban seorang anak kepada orang tuanya, yaitu: merawat orang tua, memenuhi kebutuhan orang tua, menjaga nama baik keluarga, meneruskan nilai kebajikan yang diwariskan orang tua, dan melimpahkan jasa kebajikan kepada kedua orang tua dan para leluhur.

Berbakti kepada ibu selaku orang tua kita tidak selalu dengan memberi hadiah, tetapi dapat dilakukan dalam bentuk sederhana namun menghadirkan kualitas batin, seperti: 1) Mengembangkan cinta kasih (metta) untuk memberi ibu kehangatan batin akan sikap kita sehari-hari;  2) Berbicara dengan sopan, lemah lembut, tidak membentak untuk membuat hati ibu damai dan bahagia;  3) Mendengarkan dengan penuh perhatian setiap kali ibu berbicara.  Kadang ia hanya butuh ditemani dan didengar terutama dari anak-anak yang disayanginya;  4) Menghindari hal yang membuat ibu sedih, yang merupakan cerminan praktik sila dalam lingkup keluarga dan masyarakat; dan 5) Mengirimkan cinta kasih melalui meditasi (metta bhavana) sebagai persembahan batin paling tulus.

Kita juga dapat mempraktikkan hal ’kecil’ lain setiap hari, seperti pelukan hangat, doa yang tulus, atau memberi senyuman yang bagaikan air meneteskan cinta setetes demi setetes ke dalam hati sanubari ibu.  Sebagai umat Buddha yang memahami dan mempraktikkan Buddha Dharma, setiap hari adalah ’Hari Ibu’ yang mewajibkan kita menjaga dan menghangatkan hubungan dengan ibu kita.  

Sebagaimana Abraham Lincoln katakan, All that I am, or hope to be, I owe to my angel mother.”  Sudah menjadi kewajiban kita anak-anaknya untuk berbakti dan membalas budi orang tua kita.  Buddha menegaskan bahwa berbakti kepada orang tua adalah salah satu kebajikan luhur sebagaimana disebutkan dalam Sigalovada Sutta (Dīgha Nikāya 31), ”Ia harus berpikir: Aku akan membalas budi kedua orang tuaku.”   Sewaktu kita merasa sudah banyak berbuat kebajikan di luar sana, semoga kata bijak ini dapat kembali mengingatkan kita, “Walaupun seseorang telah melakukan beribu-ribu kebajikan, kebajikannya akan sia-sia jika ia tidak berbakti kepada orangtuanya.”

Selamat Hari Ibu, 22 Desember 2025.
Semoga semua ibu berbahagia, sejahtera, dan diliputi cinta kasih tanpa batas.
 
Sabbe sattā bhavantu sukhitattā.  Semoga semua makhluk berbahagia
Sadhu... Sadhu... Sadhu...
 

Share:

Komentar (0)

Belum ada Komentar.

Ubah Filter Konten
Informasi

Silakan Masuk dengan menggunakan aplikasi Android/IOS