Seluruh Indonesia
Ubah Lokasi
  • Artikel

Cari

Tampilkan Artikel

Bahayanya iri hati

U.P. Vidyananda Sehi

Jum'at, 07 Juni 2024

MBI

Ada seorang laki-laki perumah tangga mempunyai istri yang mandul. Karena merasa mandul dan takut diceraikan oleh suaminya, ia menganjurkan suaminya untuk menikah lagi dengan wanita lain yang dipilih olehnya sendiri. Suaminya menyetujui dan tak berapa lama kemudian istri muda itu mengandung.


Ketika istri mandul itu mengetahui bahwa madunya hamil, ia menjadi tidak senang. Dikirimkannya makanan yang telah diberi racun, sehingga istri muda itu keguguran. Demikian pula pada kehamilan yang kedua. Pada kehamilannya yang ketiga, istri muda itu tidak memberi tahu kepada istri tua. Karena kondisi phisiknya kehamilan itu diketahui juga oleh istri tua. Berbagai cara dicoba oleh istri tua itu agar kandungan madunya itu gugur lagi, yang akhirnya menyebabkan istri muda itu meninggal pada saat persalinan. Sebelum meninggal, wanita malang itu dengan hati yang dipenuhi kebencian bersumpah untuk membalas dendam kepada istri tua.

Maka permusuhan itu pun dimulai. Pada kelahiran berikutnya, istri tua dan istri muda tersebut terlahir sebagai seekor ayam betina dan seekor kucing. Kemudian terlahir kembali sebagai seekor macan tutul dan seekor rusa betina, begitu seterusnya, mereka saling bergantian memakan anak dari musuhnya. Dan akhirnya di jaman kehidupan Buddha Gotama terlahir sebagai seorang wanita perumah tangga di kota Savatthi dan peri yang bernama Kali.

Suatu ketika sang peri (Kalayakkhini) terlihat sedang mengejar-ngejar wanita tersebut dengan bayinya. Ketika wanita itu mendengar bahwa Buddha sedang membabarkan Dharma di wihara Jetavana, ia berlari ke sana dan meletakkan bayinya di kaki Buddha sambil memohon perlindungan. Sedangkan peri tertahan di depan pintu wihara oleh dewa penjaga wihara. Akhirnya peri diperkenankan masuk, dan kedua wanita itu diberi nasehat oleh Buddha.

Buddha menceritakan asal mula permusuhan mereka pada kehidupan lampau, yaitu sebagai seorang istri tua dan istri muda dari seorang suami, sebagai seekor ayam betina dan seekor kucing, sebagai seekor macan tutul dan seekor rusa betina. Mereka telah dipertemukan untuk melihat bahwa kebencian hanya dapat menyebabkan kebencian yang makin berlarut-larut, tetapi kebencian akan berakhir melalui persahabatan, kasih sayang, saling pengertian, dan niat baik.

Kemudian Buddha membabarkan syair berikut ini:  Kebencian tak akan pernah berakhir apabila dibalas dengan kebencian. Tetapi, kebencian akan berakhir bila dibalas dengan tidak membenci. Inilah satu hukum abadi.

Kedua wanita itu akhirnya menyadari kesalahan mereka, keduanya berdamai, dan permusuhan panjang itu berakhir. Buddha kemudian meminta kepada wanita itu untuk menyerahkan anaknya untuk digendong peri. Takut akan keselamatan anaknya, wanita itu ragu-ragu. Tetapi, karena keyakinannya yang kuat terhadap Buddha ia segera menyerahkan anaknya kepada peri. Peri menerima anak itu dengan hangat. Anak itu dicium dan dibelainya dengan penuh kasih sayang, bagaikan anaknya sendiri. Setelah puas, diangsurkan ke ibunya kembali.

Demikianlah, pada akhirnya mereka berdua hidup rukun dan saling mengasihi.

___

Teman-teman semua, ketika iri hati / cemburu muncul segera sadari, karena iri/cemburu merupakan bibit dari munculnya permusuhan, benci, dendam. Coba perhatikan di keluarga sendiri, sebagai orang tua harus bersikap adil terhadap anak-anak, kasih sayang harus merata, bila di hati lebih menyayangi salah satu anak misalnya sulung atau bungsu cukup di hati saja, atau saat berdua dengan anak ini saja tanpa ada saudaranya, untuk mencegah bibit-bibit pertengkaran di antara saudara kedepannya. Sering kita dengar kata-kata saat bertengkar, "anak kesayangan Papa, atau anak kesayangan Mama atau Mama kan lebih sayang Abang!” dan sejenisnya.

Sebagai praktisi Dharma ayo bersama-sama kita selami, ternyata bibit-bibit permusuhan itu di mulai dari salah satu sebabnya yaitu iri hati / cemburu dan egois. Seperti yang kita baca dalam pertanyaan Sakha Dewa Raja dengan Guru Agung Buddha bahwa iri hati / cemburu itu muncul dari perasaan suka sesuatu dan tidak suka sesuatu, menurut renungan kami dari sinilah kita bisa memotong perasaan iri hati / cemburu yang berlebihan yaitu suka jangan terlalu suka, tidak suka jangan sampai menolak, kita mengambil jalan tengah saja sikap netral atau batin yang seimbang lebih baik.

Manusia umumnya dipermainkan oleh perasaan suka tidak suka ini. Seorang siswa Buddha akan belajar bersikap biasa-biasa saja misalnya terhadap anak-anak bersikap seimbang, terhadap makanan kesukaan jangan tidak ada makanan kesukaan tidak selera makan, bersikap seimbang saja, ada disyukuri tidak ada disyukuri juga, makan yang bervariasi lebih menyehatkan.

Di lingkungan wihara, di organisasi juga hati - hati terhadap munculnya iri hati / cemburu ini, saat muncul cukup disadari saja dengan pikiran sadar, “oh ini perasaan egois muncul, oh ini perasaan iri / cemburu muncul.” Jika disadari maka seharusnya tidak akan berkembang atau bisa dicegah perasaan ini dari bersikap seimbang terhadap siapa saja, terhadap yang pro anda juga seimbang dan terhadap yang kontra dengan anda juga dengan perasaan seimbang maka akan ada kedamaian di sana.

Ayo bersama-sama kita para siswa Buddha terapkan. Semoga semua makhluk berbahagia, tanpa kecuali, di mana saja, maka selalu ada kedamaian, ketenangan, kebahagiaan menyertai praktisinya, suka jangan terlalu suka, tidak suka juga biasa-biasa saja.

Semoga bermanfaat dan berbahagia.
Sadhu.. sadhu.. sadhu..

Share:

Komentar (0)

Belum ada Komentar.

Ubah Filter Konten
Informasi

Silakan Masuk dengan menggunakan aplikasi Android/IOS