Seluruh Indonesia
Ubah Lokasi
  • Artikel

Cari

Tampilkan Artikel

MATA HATI DHARMA

Upasaka Anu Pandita (U.A.P) Hendra Awie, S.Kom, M.Pd, DMd®, CPS®

Jum'at, 01 Desember 2023

Sagin, MBI

Namo Sanghyang Adi Buddhaya, Namo buddhaya,

Diskusi besar di Indonesia saat ini bermuara pada optimisme menuju Indonesia maju atau Indonesia emas 2045. Pada hakikatnya pembangunan nasional yang dicanangkan pemerintah dari periode ke periode bertujuan untuk mewujudkan masyarakat sejahtera. Paradigma pemerintah saat ini dalam mengevaluasi kinerja dan keberhasilan pembangunan suatu negara yang hanya diukur dari segi moneter masih belum dapat sepenuhnya mencerminkan realitas kehidupan bermasyarakat juga tidak dibarengi dengan kualitas kehidupan dan kebahagiaan warga negaranya (Rositawati et al., 2020).


Pada tanggal 20 Maret 2020 World Happiness Report (WHR) yang disusun Sustainable Development Solutions Network untuk PBB melaporkan daftar terbaru negara-negara paling bahagia di dunia dari 156 negara dengan berdasarkan rata-rata survei tiga tahun antara tahun 2017 sampai 2019 yang dikaji dari setidaknya 6(enam) faktor penilai kebahagiaan utama pada sebuah negara yakni: pendapatan perkapita penduduk yang baik, kesehatan yang baik, kebebasan hidup dalam menentukan pendapat, persepsi korupsi yang rendah, kondisi sosial yang minim kriminalitas, kemurahan hati atau kebaikan hati antar sesama. Hasil laporan WHR 2020 tersebut menyatakan bahwa negara Finlandia adalah negara terbahagia selama tiga tahun berturut-turut dan mencapai skor kebahagiaan hingga sebesar 7.809 pada skala 0 sampai 10. Penduduk Finlandia menikmati kualitas hidup, keamanan, dan kenyamanan yang baik di negaranya (Wahyudi & Tiara, 2022).

Kebahagiaan Masyarakat Finlandia semakin terkonfirmasi melalui interview dengan Heli Jimenez, direktur senior pemasaran internasional di business finland dengan media NPR, dia mengatakan hidup di Finlandia adalah hidup yang tanpa kecemasan, hidup yang damai dan bahagia. Warga negara tidak khawatir akan akan kecurangan, kejahatan, kriminalitas, dan hal-hal negatif lainnya sehingga rata-rata penduduk Finlandia hanya berfokus pada hal-hal baik dan produktif yang menyenangkan dalam menjalankan kehidupan mereka (www.republika.id).

Bicara tentang tema besar cita cita mencapai Indonesia maju hari ini, maka sebagai umat Buddha, kita perlu bersepakat untuk mencari solusi bagaimana meningkatkan kebersamaan dan sinergitas umat buddha untuk mencapai Indonesia maju tersebut? Mengacu pada indikator kebahagiaan suatu bangsa atau negara sesuai world happiness indicator, maka dapat dirangkum dalam 3(tiga) fokus, yakni kemampuan moneter atau keuangan negara tersebut, layanan atau fasilitas sosial yang ada di negara tersebut serta moralitas hidup yang tertanam pada diri masyarakat di negara tersebut. Dalam hal ini, Indonesia, negara kita tercinta ini pasti dapat mencapai kualitas kebahagiaan hidup seperti halnya di Finlandia, salah satunya dengan menata kualitas moral dari penduduknya sendiri dan tentu saja umat Buddha harus mengambil peran tersebut.

Betapa beruntungnya kita sebagai umat Buddha, memiliki guru agung, Buddha Gautama yang mengajarkan segala hal yang kita butuhkan untuk menuntun mencapai kebahagiaan. Salah satunya bagaimana moral yang baik yang dapat kita laksanakan dengan cara menjalankan sikap moralitas yang bajik dalam keseharian, yang mana akumulasi kebajikan moralitas dari seluruh umat buddha akan menjadi pendorong tercapainya negara Indonesia yang bahagia, Indonesia maju, Indonesia emas 2045. Kompilasi ajaran sang Buddha Gautama dalam pelaksanaan moralitas bagi umat Buddha akan dikupas pada artikel ini, dengan judul MATA HATI Dharma.

MATA, singkatan kata dari MAlu dan TAkut akan menjadi pedoman moralitas kita sebagai umat buddha dan HATI, singkatan dari HAdirkan cinta dan TIdak melanggar sila akan menjadi cara melaksanakan moralitasnya untuk mencapai umat buddha yang bermoral dalam menuju Indonesia maju dan bahagia. Dengan MATA HATI, diharapkan menjadi landasan moralitas yang akan dimiliki seluruh umat Buddha dalam dirinya serta tuntunan pelaksanaan moralitas dalam hidup sehari-harinya

Dalam Buku kelompok II Aṅguttara Nikāya – Dukanipāta (A.II), Buddha mengatakan: Dveme, Bhikkhave, Dhammā Sukkā Lokaṁ Pālenti. Katame dve? Hirī ca ottappañca. Artinya: Ada dua hal, Para bhikkhu, yang baik secara moral dapat melindungi dunia. Apakah yang dua itu? Malu dan Takut.

Buddha juga memberikan penjabaran malu dan takut dalam dua kualitas yang dapat terjadi yakni kualitas terang dan kualitas gelap, “Para bhikkhu, ada dua kualitas gelap ini. Apakah dua ini? Tanpa rasa malu dan tanpa rasa takut. Ini adalah kedua kualitas gelap itu.”, serta “Para bhikkhu, ada dua kualitas terang ini. Apakah dua ini? rasa malu dan rasa takut.” Lebih lanjut, didalam catatan kaki kitab Anguttara Nikaya pada buku kelompok II, tercantum defenisi rasa malu dan rasa takut, sebagai berikut:

Malu

Malu yang dalam bahasa palinya disebut Hiri merupakan perasaan jijik atau tidak nyaman pada perbuatan buruk melalui jasmani dan ucapan. Rasa malu ini diarahkan ke dalam. Muncul dari penghormatan pada diri sendiri dan mengarahkan seseorang untuk menolak perbuatan salah yang dapat merusak martabat serta harga dirinya. Misalnya, seseorang tidak mau melakukan pencurian karena ada dorongan hatinya sendiri untuk mempertahankan martabat dan harga dirinya bila dilihat atau diketahui orang lain. Perasaan ini disebut ‘Malu’

Takut

Takut yang dalam bahasa palinya disebut Otappa artinya suatu perasaan jijik atau tidak nyaman untuk melakukan suatu kesalahan. Rasa takut diarahkan keluar. Muncul dari ketakutan akan celaan atau hukuman yang mengarahkan seseorang untuk menolak perbuatan salah yang berdasarkan pada rasa takut akan akibatnya. Misalnya, seseorang tidak nyaman melakukan pembunuhan atau penganiayaan karena takut adanya ancaman penjara atau ancaman hukuman dari neraka pada kehidupan selanjutnya yang dapat berdampak pada dirinya sendiri menjadi menderita. Perasaan ini disebut sebagai ‘takut’.

Kedua perasaan ini, malu berbuat hal yang salah dan takut pada akibat perbuatan salah, seharusnya menjadi landasan, pondasi seluruh umat buddha dan pedoman umat buddha sebelum berpikir, berbuat maupun berucap hal-hal yang tidak baik, apalagi yang dapat memecah belah, menciptakan ketidakharmonisan dan ketidakrukunan.

Setelah mengetahui pedoman moralitas yang tepat, yakni MATA (MAlu dan TAkut), selanjutnya umat Buddha juga perlu melengkapi kecakapan dengan mempraktikkan pelaksanaan moralitas yang dapat membawa kedamaian, kerukunan dan kemajuan dengan rumus HATI (HAdirkan cinta dan TIdak melanggar sila).

Referensi

Anandajoti, bhikkhu. (2021). Khuddakapāṭha The Short Readings.

Bhikkhu Bodhi, B. (2010). Samyutta nikāya, berkelompok sang buddha, khotbah khotbah: Vol. buku 3.

Bodhi, B. (2012a). The numerical discourses of the Buddha : a translation of the Aṅguttara Nikāya jilid 2.

Bodhi, B. (2012b). The numerical discourses of the Buddha : a translation of the Aṅguttara Nikāya jilid 4.

Ñāṇamoli, B., & Bodhi, Bhikkhu. (1995). The long discourses of the Buddha : a new translation of the Digha Nikāya. Wisdom Publications in association with the Barre Center for Buddhist Studies.

Rositawati, A. F. D., & Budiantara, I. N. (2020). Pemodelan Indeks Kebahagiaan Provinsi di Indonesia Menggunakan Regresi Nonparametrik Spline Truncated. Jurnal Sains dan Seni ITS, 8(2), D113-D120.

Wahyudi, H., & Tiara, A. (2022). Ketimpangan Pendapatan Penyebab Tidak Bahagia. Jurnal Studi Pemerintahan dan Akuntabilitas, 1(2), 125-138.

Website: www.republika.id/posts/38964/belajar-bahagia-dari-finlandia

Profil Penulis

Upasaka Anu Pandita (U.A.P) Hendra Awie, S.Kom, M.Pd, DMd®, CPS® lahir di kota Tebing Tinggi pada 28 Agustus 1988 adalah seorang Dharmaduta yang menyelesaikan pendidikan S2 Magister Pendidikan Keagamaan Buddha di STIAB Smaratungga pada tahun 2023. Berstatus sebagai Direktur Pelatihan di Dharmashoka Institute dan Ketua Perkumpulan Sarjana dan Profesional Buddhis Indonesia – Kota Medan

Share:

Komentar (0)

Belum ada Komentar.

Ubah Filter Konten
Informasi

Silakan Masuk dengan menggunakan aplikasi Android/IOS