History

SEJARAH BUDDHAYĀNA

Sebagai tokoh sentral pada masa awal, Y.A. M.N.S. Ashin Jinarakkhita berjasa besar bukan hanya karena mengadakan Waisak pertama secara besar-besaran di Candi Borobudur yang menandai dimulainya kebangkitan Agama Buddha di Indonesia. Sebagai biksu pertama putra Indonesia, saat berkeliling ke seluruh Indonesia beliau mampu membangkitkan semangat umat Buddha di mana-mana dan mampu mendidik kader melalui pelatihan meditasi vipassanā. Beliau telah membuat agama Buddha diakui secara resmi oleh negara dengan menunjukkan sisi internasional maupun sisi ketuhanan dari agama Buddha. Persamuhan biksu-biksuni dan persamuhan upāsaka-upāsikā yang akan terus melanjutkan pengabdian beliau dalam mewujudkan Agama Buddha Indonesia – agama Buddha yang kontekstual di bumi Indonesia – juga telah memiliki jaringan yang cukup kuat.

Sebagai praktisi meditasi yang mendalami vipassanā metode Y.A. Mahasi Sayadaw sekaligus memahami meditasi dari tradisi Mahāyāna, baik Chan (Zen) metode Lin Chi maupun nianfo Sukhāvatī yang dipraktikkan Y.A. Mahābhikṣu Pen Ching, Y.A. M.N.S. Ashin Jinarakkhita mampu mempersatukan Theravāda dan Mahāyāna karena beliau lebih menekankan praktik hidup berkesadaran – esensi latihan yang diajarkan Buddha Gotama – daripada bentuk luar semata. Oleh karena itu semangat kembali ke praktik yang akan membawa pada transformasi diri dan transformasi sosial ini disebut Buddhayāna, Kendaraan Buddha.

Terminologi Buddhayāna adalah identik dengan Ekayāna, satu kendaraan. Buddha, pada dasarnya hanya mengajarkan hal yang bermanfaat dengan kehidupan suci, untuk menuju pelenyapan dan mencapai nirwana (S.v.438). Dalam artian, mencapai nirwana berarti menjadi Buddha, baik aspirasi Sāvakabuddha, Paccekabuddha, atau Sammāsambuddha. Tidak ada Buddha Theravāda, Buddha Mahāyāna, atau Buddha Vajrayāna. Dharma atau Kebenaran itu hanya satu. “Sebagaimana halnya dengan samudra raya yang hanya mempunyai satu rasa, yaitu rasa garam, demikian pula Dharma hanya mempunyai satu rasa, yaitu rasa kebebasan” (Ud. 56).

Karena mementingkan inti ajaran dan bukan penampilan lahiriah, dengan demikian Buddhayāna bukanlah mazhab atau sekte. Buddhayāna bukan sebuah sekte, tetapi agama Buddha itu sendiri. Mendiang Bhante K. Sri Dhammananda (Malaysia) mengatakan: “Pengikut Buddha sejati dapat menjalankan agama Buddha tanpa melekat pada sekte apa pun.“

Buddhayāna sesungguhnya adalah Buddhadharma itu sendiri, yang praktiknya mengatasi paham sektarian dan budaya etnik yang sempit. Kelemahan sektarian jelas, membatasi wawasan, mempertebal egoisme, menimbulkan kebencian, yang tentu saja akan merintangi kemajuan spiritual.

Dalam praktiknya sikap Buddhayāna tercermin dari penggunaan satu wihara yang sama untuk pūjā-bakti oleh penganut semua mazhab, ceramah dharma tidak harus eksklusif berdasar satu tradisi, hari-hari suci dirayakan bersama, dan sebagainya. Umat Buddha dapat mempelajari bermacam-macam ajaran tiap sekte dan tradisi secara seimbang.

AGAMA BUDDHA INDONESIA

Pengabdian Y.A. M.N.S. Ashin Jinarakkhita sampai akhir hayat, tidak lepas dari upaya mempertahankan eksistensi Buddhadharma di Indonesia. Beliau, sangat konsisten pada semangat non-sektarian dan upaya mewujudkan Agama Buddha Indonesia yang universal serta membumi, meski kadang mendapatkan perlawanan bahkan tekanan dari pihak-pihak yang masih belum dapat memahami.

Indonesia di masa lalu juga merupakan pusat studi Agama Buddha internasional. Y.A. I-tsing yang berguru pada Y.A. Śākyakīrti menganjurkan sebelum ke India (Nālānda) agar belajar dulu di Sumatera (Sriwijaya). Komplek Candi Muarajambi diyakini sebagai universitas Buddhis yang dimaksud. Y.A. Atīśa Dīpaṃkara sebelum mengajar di Tibet juga belajar di sana dari Y.A. Serlingpa Dharmakīrti.

Dr. Hudaya Kandahjaya, peneliti sejarah agama Buddha asal Indonesia yang kini bekerja di Numata Center, Berkeley, A.S. melihat bahwa peran Y.A. M.N.S. Ashin Jinarakkhita bagi eksistensi agama Buddha di Indonesia sangatlah besar. Dengan mengundang para biksu dari luar negeri maupun para duta besar dalam perayaan-perayaan Waisak yang diadakan di Borobudur, Y.A. M.N.S. Ashin Jinarakkhita telah menunjukkan kepada pemerintah bahwa agama Buddha itu bersifat internasional. Untuk diketahui, Kementerian Agama R.I. telah menetapkan definisi agama – yaitu adanya nabi, memiliki kitab suci, dan bersifat internasional – guna memilah mana yang agama dan mana yang hanya aliran kepercayaan.

Pada tahun 1954 didirikan Pengawas Aliran-aliran Kepercayaan Masyarakat (PAKEM) yang kemudian berada di bawah Kejaksanaan Agung. Jadi dengan jelas telah dipilah, jika merupakan agama akan berada di bawah pengayoman Kementerian Agama, jika merupakan aliran kepercayaan akan berada di bawah pengawasan Kejaksaan Agung. Y.A. M.N.S. Ashin Jinarakkhita memperjuangkan agar agama Buddha diakui sebagai agama, termasuk ketika pada tahun 1963 Kementerian Agama R.I. menyempurnakan definisi agama dengan tambahan: memiliki Tuhan.

Dengan melihat pada teks Sanskrit dan Kawi, dipilihlah salah satu sebutan untuk Ketuhanan dalam agama Buddha di Indonesia, yaitu Sanghyang Ādi Buddha. Pada era pelarangan Komunisme (sejak 1966), sebutan Sanghyang Ādi Buddha ini juga telah menyelamatkan umat Buddha Indonesia dari tuduhan tidak ber-Tuhan, tidak Pancasilais.

Ada kaitan yang kuat antara Pancasila (falsafah bangsa Indonesia) dengan Agama Buddha Indonesia masa lalu, khususnya mengenai Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai Realitas Tertinggi.

Di masa awal kebangkitan kembali agama Buddha di Indonesia, Mahā Upāsaka Madhyantika Mangunkawatja telah menulis banyak tentang agama Buddha warisan nenek moyang bangsa Indonesia, termasuk tentang Ādi Buddha dan Borobudur, dalam buku “2500 Buddha Jayanti” terbitan PUUI Semarang tahun 1956. Agama Buddha Indonesia masa lalu adalah agama Buddha yang menghormat kepada Ādi Buddha. Salah satu pūjā-mantra yang ditemukan di Bali adalah berikut ini:

Praamya satata Buddham, Ādi-Buddha-namas-kāram sattva-sattvaka-puyaka, vakye vakye dhana param

Setelah terus-menerus bersujud kepada Buddha, sebagai penghormatan kepada Ādi Buddha, yang merupakan kebajikan bagi para makhluk hidup, besar dan kecil, aku harus menghormat pada kesempurnaan-tertinggi.

Di dalam stupa induk dari Stupa Mandala Borobudur dahulu terdapat arca Buddha yang tidak diselesaikan pembuatannya, yang melambangkan bahwa Ādi Buddha (Realitas Tertinggi; Tuhan Yang Maha Esa) itu tidak dapat dijangkau oleh pikiran. Meski pemahaman yang sesungguhnya tentang Tuhan/Ketuhanan berada di luar kemampuan pikiran manusia, namun Ketuhanan dalam agama Buddha dapat dinyatakan dengan memahami konsep Dhamma (Theravāda), Dharmakāya (Mahāyāna), dan Ādi Buddha (Vajrayāna).

Berbagai kondisi yang telah memunculkan kembali penghormatan kepada Ādi Buddha di bumi Indonesia merupakan pertanda pentingnya memahami Agama Buddha Indonesia masa lalu untuk penganutan masa kini. Stupa Mandala Borobudur yang merupakan warisan kejayaan Agama Buddha Indonesia masa lalu masih harus terus dipelajari dan dimengerti oleh umat Buddha masa kini dengan mendalami baik ajaran Theravāda, Mahāyāna, maupun Vajrayāna.