Artikel

Belajar, mulai belajar, pembelajaran usai

Belajar, mulai belajar, pembelajaran usai

Belajar, mulai belajar, pembelajaran usai

Oleh: Upit Setiyana 

 

Pernahkah Anda melihat seseorang tiba-tiba bad mood tanpa sebab? Mereka entah karena apa menjadi kesel, jengkel bahkan uring-uringan seharian. Sikap mereka juga menyebalkan, membuat suasana menjadi tidak enak.  Bila ditanya mengapa mereka mengatakan tidak ada apa-apa. “Aku baik-baik saja”, jawabanya. Tapi perasaan dan perilaku yang mereka tunjukkan berbeda.

Mereka tidak dapat menyembunyikan kenyataan bahwa sikap mereka itu pasti beralasan. Dengan adanya ini, maka terjadilah itu. Dengan timbulnya ini, maka timbullah itu. Dengan tidak adanya ini, maka tidak ada itu. Dengan terhentinya ini, maka terhentilah itu (Assutava Sutta- SN. 12.61). Bad mood mereka pasti ada sebabnya. Mereka hanya tidak mau tahu atau bahkan mungkin tidak mau tahu.   Ada yang bahkan mengarahkan telunjuknya ke orang lain dan menuduh mereka sebagai biang keladi. Ini harus dihindari. Sadari bahwa telunjuk yang kita arahkan malah akan menyakiti orang lain.

Kenapa kita menyalahkan orang lain atas apa yang kita rasakan? Bukankah setiap makhluk memiliki karmanya sendiri, mewarisi karmanya sendiri, lahir dari karma sendiri, berhubungan dengan karmanya sendiri, terlindung oleh karmanya sendiri (Upajjhatthana Sutta-AN 5.57). Pernahkah kita gunakan telunjuk kita untuk menunjuk ke diri sendiri? 

Kenapa kita tidak intropeksi diri sebelum menyalahkan orang lain? Apakah menyalahkan orang lain membuat kita tenang, atau menyelesaikan masalah?  TIDAK. Yang ada hanya menimbulkan masalah baru.

Menyalahkan orang lain atau kondisi memang lebih mudah dibandingkan menyadari dan merenungkan secara lebih mendalam penyebab ketidakbahagiaan kita. Kebiasaan tersebut akan menghambat kemajuan diri kita. Kita harus belajar untuk berdamai dengan diri sendiri, menyikapi perasaan tidak nyaman atau tidak menyenangkan yang terjadi. Cara kita merespon inilah yang menentukan karma apa yang akan kita terima nanti.

Lalu bagaimana cara kita menyikapinya? Bagaimana cara kita mengatasi perasaan tidak menyenangkan tersebut? Langkah-langkah berikut ini dapat membantu meredakan bad mood.

 

1. Berdiam dalam keheningan

Kita cenderung reaktif saat sedang bad mood. ‘Senggol bacok’, istilahnya. Sedikit saja kita merasa seseorang menyinggung kita lewat ucapan atau perbuatan, tanggapan kita sangat negatif. Padahal, itu hanya dugaan kita. Oleh sebab itu, berdiam dalam keheningan sangat membantu meredakan perasaan yang sedang tidak enak ini. Di momen kita sadar kita sedang tidak nyaman dengan diri kita, tenangkan diri. Tarik nafas secara mendalam dan hembuskan perlahan. Ini akan membuat kita tenang dan tahu apa yang sedang berkecamuk dalam diri kita. Ketenangan ini juga membantu kita menemukan penyebab kegalauan ini. Setelah ditemukan, upaya untuk mengatasi bad mood ini dapat dimulai. Keheningan akan membantu Anda mengetahui penyebab bad mood kita dan mencegah kita menciptakan suasana yang semakin tidak enak.  

2. Berbagi   

Terkadang, mungkin yang kita butuhkan adalah ‘memuntahkan’ uneg-unek yang mengganjal di hati. Bila kita merasa bahwa perasaaan kita disebabkan oleh seseorang, khususnya orang dekat, mengajaknya berbicara dari hati ke hati akan sangat membantu. Kita dapat berbagi ketidaknyamanan kita dan penyebabnya kepada dia. Lakukan ini bila kita sudah cukup tenang dan kondisinya mendukung. Atau, kita juga bisa berbagi dengan teman atau sahabat. Sayangnya, tidak semua orang memiliki sahabat. Bila demikian, menulis dapat menjadi wadah untuk mencurahkan seluruh perasaan kita. Mengungkapkan isi hati secara bebas membantu mengatasi bad mood kita.  

3. Melakukan kegiatan yang positif

Kadang bad mood dapat diatasi dari sisi luar. Kita dapat melakukan aktivitas yang kita suka, yang menyenangkan, dan lebih baik lagi yang berdampak positif. Tapi ingat, lakukan itu dengan fokus. Pusatkan perhatian pada aktivitas tersebut. Curahkan setiap energi dan semangat untuk melakukannya. Kita bisa berolahraga, memasak, beberes kamar/rumah, dan berbagai kegiatan lain yang bermanfaat. Kesibukan yang berfaedah tersebut memicu hormon-hormon menyenangkan sehingga membantu mengatasi dan bahkan melupakan perasaan tidak enak yang sedang dirasakan.

Mengatasi perasaan yang kacau memang tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Selalu ada waktu untuk melihat ke dalam, intropeksi diri, melihat apa yang sedang terjadi. Mari, kita belajar mengenal diri lebih baik, mulai saat ini. Tak perlu menyalahkan siapa pun atas apa yang kita rasakan karena semua bersumber pada kita masing-masing. Kita harus bisa mengambil keputusan yang bijak supaya tidak menggunakan telunjuk untuk menyalahkan orang lain. Sebagai penutup, saya kutip pesan dari salah seorang pembicara ternama Indonesia, Gede Prama:

Jika seseorang menyalahkan orang lain, ia perlu belajar.

Jika seseorang menyalahkan diri sendiri, ia mulai belajar.

Jika seseorang berhenti menyalahkan, pembelajaran usai.

 

Referensi:

Bodhi, Bhikkhu. (2009).Tipitaka Tematik.Ehipassiko Foundation.

 

 

Tags