Artikel

Keselamatan

Keselamatan

Keselamatan

Oleh: Sabbamitta

 

Pada tanggal 15 Januari 2009,  sebuah pesawat Airbus A320 US Airways mendarat darurat di sungai Hudson, Amerika Serikat. Kedua mesinnya mati ditabrak burung tidak lama setelah lepas landas dari bandara LaGuardia di New York City. Seluruh penumpang dan kru selamat berkat kesigapan pilot menangani masalah di udara dan pertolongan berbagai pihak yang segera mengevakuasi mereka dari dinginnya air sungai Hudson pada waktu itu.  Mereka yang berada di pesawat tersebut dapat mengatakan kalau mereka mendapatkan  mukjizat, keberuntungan, nasib baik, dan lain sebagainya. Faktanya, mereka selamat dari salah satu peristiwa kecelakaan yang tercatat dalam sejarah penerbangan dunia.  Itu adalah keselamatan yang nyata.

 

Setiap hari, entah berapa banyak kejadian serupa terjadi di seluruh belahan dunia. Yang masih segar di ingatan kita adalah kecelakaan di jalan tol yang menyebabkan sepasang suami istri meninggal di tempat, sedangkan pengemudi, pengasuh anak, dan seorang bayi selamat. Ketika sebuah pesawat jatuh di sekitar Kepulauan Seribu pada awal tahun ini, beberapa calon penumpang gagal berangkat karena tidak memenuhi syarat terbang. Mereka selamat, tidak turut menjadi korban pesawat naas tersebut. Bukan hanya kecelakaan, banyak orang juga selamat dari bencana alam, penipuan, dan lain sebagainya.  Bahaya, kerugian, masalah, dan berbagai kondisi buruk yang lain tidak menimpa mereka. Mereka masih selamat.

 

Mengapa itu bisa terjadi? Kenapa ada sebagian orang selamat sedangkan yang lain tidak? Apakah mukjizat itu sungguh-sungguh ada?  Apakah hidup ini adil? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu dapat timbul dalam obrolan sehari-hari, apakah dengan sesama Buddhis atau kolega yang beda agama, bahkan mungkin saat khotbah Dharma.

Mereka yang selamat dari maut itu karena umurnya (mungkin) masih panjang.  Kematian sendiri diibaratkan padamnya nyala sebuah lampu minyak karena:

1. minyaknya habis; habisnya jangka waktu kehidupan,

2. sumbu telah terbakar habis; berakhirnya kekuatan karma,

3. minyak habis dan sumbu terbakar habis; jangka waktu hidup berakhir bersamaan dengan habisnya kekuatan karma

4. tiupan angin atau sengaja ditiup; kematian bukan pada saatnya (Janakabhivamsa, 2005). 

Mereka masih hidup karena kekuatan karmanya masih ada. Namun mereka harus tetap waspada dan merenung karena mereka tetap tidak dapat terhindar dari kematian, usia tua, penyakit, dan berpisah dengan semua yang disuka dan disayang (Abhihapaccavekkhitabbahānasutta/AN 5.57).  Peristiwa hampir dijemput kematian ini harus menjadi sebuah pelajaran yang berharga. Anggap ini adalah kelahiran kedua; kesempatan untuk meninggalkan yang tidak terampil dan membahayakan, dan mengembangkan yang terampil dan bermanfaat (Kusal’akusala Sutta/AN 2:19, Kusalasutta/AN 10.180). Kesempatan untuk hidup lagi ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya demi kebaikan diri sendiri, orang lain dan lingkungan.

 

Hidup ini memang penuh misteri.  Banyak peristiwa dalam hidup kita terjadi di luar dugaan. Saat sangat yakin bahwa kemenangan yang telah ada di depan mata pasti diraih, hasil akhirnya malah berakhir mengecewakan. Begitu juga sebaliknya, yang dirasa akan gagal malah menuai sukses. Dalam suatu peristiwa naas atau masalah besar ada yang luput dari akibat yang fatal, hanya mengalami cedera ringan, atau merasakan dampak yang kecil.  Ungkapan “jodoh tidak akan kemana” atau “yang memang milikmu pasti jadi milikmu, yang bukan milikmu tidak akan pernah jadi milikmu” terdengar benar. Apa pun akibat yang kita tuai dan dampak yang kita rasakan, benihnya kita juga yang tanam.  Kita adalah pemilik dan pewaris karma, serta dilindungi oleh karma kita sendiri  (Cūḷakammavibhanga Sutta/ MN 135). Oleh sebab itu, setiap tindakan melalui pikiran, ucapan, dan tubuh harus dipikirkan sungguh-sungguh berulang kali apakah itu bermanfaat atau tidak bermanfaat dan apakah membawa dampak dukkha atau menyenangkan/membahagiakan (Ambalaṭṭhikārāhulovāda Sutta/MN 61).  

 

Keselamatan sungguh-sungguh ada dan nyata. Setiap hari berbagai peristiwa buruk terjadi di seluruh belahan dunia.  Di antara para korban, masih ada yang selamat. Kita juga perlu bersyukur bila hingga saat ini hidup kita baik-baik saja. Riak-riak kecil, masalah, dan rintangan yang pernah hadir adalah warna-warni kehidupan, yang tidak dapat dihindari, penghias perjalanan kita. Yakinlah dan percayalah bahwa kita akan senantiasa selamat berkat perlindungan karma baik kita, serta kebaikan para dewa dan orang lain.

 

Daftar pustaka:

Tags