Artikel

You Raised Me Well

You Raised Me Well

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan berbicara berdua dengan anak pertama saya yang tahun ini baru masuk kuliah semester I.  Dalam perbincangan itu, ketika membahas tentang masa depan, tiba-tiba terlontar kalimat: “Mom, you raised me well”. Saya terkejut, spontan saya tanya: “Kenapa kokoh bisa menyimpulkan itu?”.  Dia kemudian menjelaskan bahwa dia merasa saat ini sudah mempunyai tujuan hidup, mau ngapain setelah lulus dan sebagainya sehingga tidak akan kehilangan arah nanti. Saya hanya tersenyum dan mengatakan bahwa saya selalu mendoakan yang terbaik untuk dia.  

Ada satu lagi pengalaman yang saya rasa penting untuk saya bagikan. Pada waktu anak saya tes wawancara masuk SMP, saya sempat memintanya memberitahukan pertanyaan apa yang diajukan kepadanya. Jawabannya saya masih ingat sampai sekarang. “Apakah ada aturan-aturan dalam keluargamu”. Saya bertanya lebih lanjut. “Kokoh jawab apa?” “Ya, kokoh jawab aja bahwa kata mama tidak boleh tidur lewat jam sepuluh, harus rajin belajar, dan seterusnya.”  Terbersit, saya tidak pernah menyatakan itu adalah aturan untuk dia. Saya jelaskan lebih lanjut bahwa itu adalah hal yang biasa dan wajar, mengapa itu penting dan apa manfaatnya. Dia cukup mengerti dan mau menerima karena menganggap bahwa semua itu adalah demi kebaikannya sendiri sehingga dia tidak pernah merasa keberatan.  

Momen membahagiakan yang lain adalah ketika dia  lulus tes masuk perguruan tinggi favoritnya dan diterima sebagai mahasiswa. Setelah membaca pengumuman lewat surel, dia dengan tidak sabar segera berlari ke kamar saya dan langsung memeluk saya dengan erat. Dengan mata berkaca-kaca dia memberitahukan kabar baik ini. “Ma, kokoh diterima. Akhirnya, kokoh bisa bahagiain mama, dan papa.” Saya juga tidak dapat menahan haru. Ada rasa bangga dan sekaligus syukur yang menyelimuti saya. “Koko layak mendapatkanya. Semua proses yang kamu lakukan dari awal sampai akhir membuahkan hasil yang maksimal. Karena prosesnya baik, hasilnya pun akan baik”, jawab saya. Hal itu juga yang sering saya katakan dan tekankan berulang-ulang, baik kepada anak pertama maupun kedua saya.

Saya juga  mengajarkan anak-anak tentang pilihan. Saya sampaikan bahwa apa pun pilihan yang mereka putuskan, yang penting adalah mereka harus dapat memberikan manfaat untuk orang banyak. “Hidup itu bukan hanya tentang meraih sukses melainkan bagaimana dapat memberi sehingga hidup bermakna”, kata saya suatu kali. Saya sarankan juga untuk aktif berorganisasi agar dia dapat mengasah dirinya untuk belajar melayani dan berbagi.  Buddha telah mengajarkan bahwa memberi memberikan manfaat kelahiran kembali di alam surga (Dānānisaṁsasutta/AN 5.35).  Namun bukan hanya surga yang menjadi tujuan, tapi juga  harus menjaga ketulusan hati dalam membantu dan menolong orang lain.  Saya juga menganjurkan dia untuk menjadi dirinya sendiri bila kelak berorganisasi. “Gak perlu menjadi seperti mama, kamu jadi dirimu aja!”, tegas saya.

Bagi kami sebagai orang tua, saya dan suami  telah menunjukkan jalan. Kami pasti berharap dan berdoa agar anak-anak kami berhasil menjalankan dan selamat sampai tujuan. Orang tua perlu untuk hadir dan mengingatkan mereka untuk tetap berada di jalan yang telah ditunjukkan. Ibaratnya, bila tujuannya adalah Bandung, mobil, bensin, dan uang tol telah kami siapkan, arahnya juga telah kami jelaskan. Bila ada halangan dan rintangan di jalan, mereka yang harus menghadapi dan mengatasi agar selamat tiba di tujuan.

Berbagai pengalaman yang saya sampaikan di atas hanyalah sepotong kecil kisah yang pernah terjadi di keluarga kecil saya. Saya kadang merenung, apakah saya dan suami telah menjadi orang tua yang baik. Saat saya menyampaikan ini ke suami, dia menjawab dengan bijak, “Jalani saja, nanti juga akan tahu hasilnya.”.  Direnungkan lebih lanjut, kunci pentingnya adalah komunikasi. Saya dan suami membiasakan diri untuk selalu berbicara dengan anak-anak. Saya sering berdiskusi dengan mereka. Bahkan, suami saya kadang punya quality time berdua dengan anak sulung kami. Hanya mereka yang tahu pembicaraan mereka. “Rahasia laki-laki”, jawab mereka yang menimbulkan rasa penasaran.

Komunikasi adalah salah satu unsur penting dalam keluarga.  Pasangan suami-istri yang saling menghormati dan menghargai akan menyampaikan pendapat secara terbuka, berbicara dengan cinta kasih dan mendengar secara mendalam. Mereka dapat berhati-hati dalam berucap agar yang mereka katakan itu baik dan tidak dicela oleh para bijaksana (Vācāsutta/ AN 5.198) Ucapan di waktu yang tepat, yang disampaikan adalah hal yang benar, dan juga bermanfaat, dengan tutur yang lembut, serta berdasarkan welas asih; lima hal itu yang harus selalu diingat oleh pasangan suami-istri dalam berkomunikasi.  Kelak, saat mereka telah menjadi ayah dan ibu, anak-anak akan menjadikan  mereka berdua teladan dan panutan dalam berkomunikasi dengan orang lain.

Tags