Artikel

Keunikan Agama Buddha

Keunikan Agama Buddha

Keunikan Agama Buddha

oleh Hendra Lim

Saya lahir di kota Medan dari orang tua yang  menulis Buddha di kolom agama KTP. Di wilayah tempat saya tinggal, setiap malam Jumat saya melihat warga meletakkan persembahan berisi bunga, tembakau, pisang dan lain-lain (saya tidak ingat persisnya) di sebuah tempat sembahyang di dekat jalan masuk kompleks. Saya pikir itulah agama Buddha dan praktiknya.

 

Setelah pindah ke Jakarta terbersit pindah agama agar bisa beribadah beramai-ramai dengan teman sebaya di tempat tinggal yang baru. "Sembahyang rame-rame seru juga yah", demikian pemikiran polos saya waktu itu. Keputusan itu tidak pernah saya ambil. Akhirnya, pintu Dharma terbuka saat saya masuk  sekolah dasar di Jakarta. Berbagai pengetahuan dan konsep dalam agama Buddha yang saya pahami semakin meningkatkan keyakinan bahwa agama Buddha adalah yang terbaik untuk saya.

 

Pernyataan bahwa agama Buddha adalah yang terbaik bagi saya tentu bersifat subjektif, karena berdasarkan penilaian saya sendiri. Orang lain mungkin berbeda pendapat.  Setiap orang bebas untuk memberikan penilaian. Tidak ada paksaan untuk menerima, menolak pun boleh. Yang penting adalah saling menghargai dan menghormati pilihan masing-masing. Pilihan untuk menyatakan bahwa agama Buddha adalah yang terbaik tentu dilatarbelakangi oleh beberapa alasan. Salah satunya adalah karena berbagai keunikan di agama Buddha. Keunikan yang akan diuraikan lebih lanjut bukan perbandingan dengan agama lain. Mereka murni sebuah kajian yang bertujuan untuk mengajak Buddhis untuk memperkokoh keyakinannya agar semakin memantapkan hati dalam meyakini memilih agama Buddha sebagai pedoman hidup.

 

Keunikan agama Buddha yang pertama berhubungan dengan kesempatan bagi perempuan. Agama Buddha, meskipun secara tradisional masih laki-laki sentris, mengakui kesetaraan kemampuan perempuan untuk mencapai kesucian. Seorang perempuan tidak berbeda dengan laki-laki dalam melihat Dharma dengan benar ketika pikirannya tenang dan pengetahuannya berlanjut (Soma Sutta/SN 5.2)   Buddha menjawab, ketika ditanya oleh Ananda, bahwa perempuan juga mungkin untuk merealisasi hingga buah kearahatan (Gotami Sutta/AN. 8.51).  Tripitaka mengungkapkan berbagai peristiwa yang mendukung kenyataan bahwa banyak perempuan yang unggul dalam pencapaian tingkat spiritual. Kitab Therigatha, salah satu bagian dari Tripitaka Pali, didedikasikan secara khusus untuk menceritakan kisah para biksuni yang telah mencapai buah dari Sang Jalan. Praktik agama Buddha di zaman sekarang mencerminkan dukungan kepada kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.  Pandita dan dharmaduta perempuan mendapat kesempatan untuk berkhotbah. Buddhis perumahtangga perempuan juga boleh memimpin puja bakti Pali, sendiri maupun berpasangan. Tempat duduk di puja bakti diatur setara, bukan  perempuan di belakang. Keunikan dalam hal kesetaraan kesempatan bagi perempuan ini adalah salah satu alasan saya menyatakan bahwa agama Buddha adalah yang terbaik.

 

Agama Buddha Universal artinya berlaku untuk semua orang, tanpa kecuali. Sesuatu yang bersifat universal berlaku di mana saja dan kapan saja; dari dulu hingga sekarang dan bahkan nanti. Buddha mengajarkan tentang eksistensi dukkha (kesusahan, penderitaan, sakit,  jengkel, marah, benci, kecewa dan semua emosi tidak menyenangkan yang lain—tidak ada satu kata yang  secara persis dapat menggantikan kata dukkha). Siapa yang sama sekali tidak pernah merasakan dukkha. Anda? Saya tidak tahu. Saya? Pasti tidak. Eksistensi dukkha begitu jelas dan nyata. Demikian juga dengan kematian. Setiap makhluk yang dilahirkan pasti menuju kematian seperti buah yang telah matang berisiko untuk jatuh ke tanah, atau pot tanah liat setelah selesai dibuat besar kemungkinan akan rusak (Salla Sutta/Sn 3.8).  Selain kematian dan dukkha yang berlaku bagi siapa saja, delapan kondisi duniawi (Dutiyalokadhamma Sutta/A 8.6) juga terjadi kepada semua orang. Siapa yang tidak pernah mengalami untung dan rugi, memiliki reputasi baik dan buruk di mata orang lain, dipuji dan dicela, serta gembira dan sedih? Delapan kondisi ini adalah kenyataan yang kita sering jumpai dan alami dalam kehidupan sehari-hari, bukan? Delapan kondisi ini terjadi di seluruh penjuru bumi. Ini karena Dharma yang Buddha ajarkan adalah kenyataan, fakta, dan realitas sejati kehidupan. Seperti cahaya matahari dan bulan yang jatuh sama pada semua orang, demikianlah cahaya kebijaksanaan Dharma bersinar tanpa memilih-milih (Sutra Teratai). Sifat Buddha-Dharma yang universal inilah yang menjadi keunikan kedua agama Buddha.

 

Ibadah adalah salah satu bentuk praktik agama. Salah satu aktivitas dalam ibadah adalah pemujaan. Uniknya, pemujaan dalam agama Buddha bukan terpusat kepada figur Buddha melainkan kepada praktik Dharma. Buddhis tetap melakukan pemujaan kepada Buddha melalui persembahan di altar, sujud-hormat (namaskara) di hadapan arca Buddha, dan pembacaan pujian-pujian untuk memuliakan Buddha. Tapi itu bukan praktik yang utama. Buddha menyatakan bahwa mempraktikkan Dharma itulah yang memuliakan Buddha karena Buddha dihormati tidak hanya dengan persembahan bunga, wewangian, dupa atau kunjungan. Buddha memuji biksu Attadattha yang berlatih meditasi secara serius sehingga jarang datang menemui Buddha, dan menegaskan bahwa siapa pun yang mencintai dan menghormati Buddha harus meniru biksu Attadattha yang mempraktikkan Dharma yang telah Buddha ajarkan (Atthakatha Dhp. 166)

 

Pernyataan ini sangat tepat.  Misalnya seseorang ingin terampil bermain piano. Dia tidak akan pernah mampu bermain piano bila yang dia lakukan kebanyakan adalah memuji gurunya, memberikan hadiah, mengajaknya jalan-jalan dan lain sebagainya alih-alih rajin dan tekun belajar serta berlatih memainkan piano. Prinsip yang sama dapat diterapkan dalam hal pemujaan dalam agama Buddha. Bila seseorang ingin bebas dari samsara atau menjadi Samma Sambuddha, sebesar dan semegah apa pun ritual dan pemujaan kepada Buddha tidak sebanding dengan belajar dan mempraktikkan Dharma.

 

Berkat bukan akibat, melainkan sebab.  Ini diajarkan Buddha kepada sesosok dewa yang mengunjunginya di hutan Jeta. "Bukan hanya manusia yang mengharapkan berkat, melainkan juga para dewa. Mohon terangkan apa berkat itu", pinta dewa tersebut kepada Buddha.   Uraian mengenai berkat ini dapat dipelajari lebih lanjut di Manggala Sutta (Kp 5 & Snp 2.4).  Dijelaskan bahwa berkat-berkat tersebut setelah dipraktikkan akan menghasilkan perlindungan, rasa aman, dan keunggulan.  Bergaul dengan orang bijaksana, membantu ibu dan ayah,  menjauhi dan menghindari kejahatan, bersemangat dan menjalani kehidupan dengan baik adalah beberapa contoh. Perhatikan bahwa itu semua bukan hasil yang didapat tetapi perbuatan yang harus dilakukan. Hasilnya akan datang bila sebabnya telah diupayakan. Inilah uniknya berkat dalam agama Buddha. Sesuai dengan prinsip sebab-akibat, untuk mendapatkan berkat seseorang  harus  terlebih dahulu menjadi berkat untuk orang lain.

 

Unik adalah kata lain dari berbeda. Agama Buddha tentu boleh berbeda dengan agama lain. Ini mutlak hak agama Buddha untuk menampilkan wajahnya yang tidak sama dari berbagai sisi. Perbedaan-perbedaan yang ada tidak bermaksud mengungguli atau mengalahkan agama lain. Ini murni hanyalah suatu kondisi sebagai akibat dari eksistensi keberagaman yang ada di dunia. Buddhis  juga harus merasa nyaman dan biasa-biasa saja bila ada hal-hal yang tidak ditemui di dalam agama Buddha saat mereka menengok agama lain.  Juga jangan mencari-cari apa yang tidak ada di dalam agama Buddha semata-mata agar ada kesamaannya dengan agama lain.  Ini tidak perlu dan sia-sia. Lahir di India, di benua Asia, tentu membuat agama Buddha berbeda dalam banyak hal dengan agama-agama yang muncul di benua lain. Intinya, agama Buddha memiliki keunikannya sendiri, sama seperti agama lain. Fokus saja untuk belajar dan mempraktikkan Dharma agar hidup penuh dengan berkat.

 

Tags