Artikel

Segitiga Kebajikan

Segitiga Kebajikan

Segitiga Kebajikan

oleh: U.P. Hendra Lim

 

Saat menjelang kematian, pahala dari kebajikan adalah baik (Dhp 331)

Kematian adalah suatu peristiwa yang pasti terjadi kepada siapa saja.  Begitu dilahirkan, setiap orang pasti menuju kematian (Salla Sutta/Snp 3.8). Tidak ada seorang pun yang mampu menghindar dari kematian. Tidak para raja, bangsawan, dan bahkan para hartawan. Tidak ada harta yang mampu membeli kematian.  Kematian tidak mengenal usia.  Bukan saja orang tua, bayi yang baru lahir pun mengalaminya.  Yang sehat  dan bugar pun dijemput oleh kematian. Waktunya tidak pasti. Namun kematiannya pasti.  “Peti mati bukan untuk orang tua. Peti mati untuk orang mati”.  Nasihat ini perlu diingat baik-baik agar selalu siap bila kematian datang.

Lalu, apa yang harus disiapkan sebagai bekal? Tidak lain dan tidak bukan adalah kebajikan. Setiap kebaikan yang pernah dilakukan untuk mahkluk lain, setiap perbuatan—melalui ucapan, tindakan dan pikiran—yang bermanfaat bagi dunia dan lingkungan, setiap pertolongan bagi orang yang sedang kesusahan, adalah setetes demi setetes kebajikan yang dikumpulkan di wadah kebajikan. Kebajikan yang telah diakumulasikan semasa hidup adalah baik menjelang kematian. Pelaku kebajikan terlahir kembali di alam surga  (Ayyikāsutta/SN 3.22).   

Selain berguna untuk menjelang kematian, kebajikan pun memberikan kebahagiaan yang nyata dan langsung.  Pelaku kebajikan tidak menyesali perbuatannya, malah bergembira dan bersukacita sehingga dia merasa damai, puas, dan bahagia. Pahala dari kebajikannya juga meningkat (Mil 3.7.7). Tidak ada rasa bersalah saat sebuah kebajikan telah dilakukan. Ucapan terima kasih yang tulus dibarengi dengan senyum bahagia dari orang yang ditolong akan menggetarkan jiwa. Ada rasa bahagia yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Rasa ini nyata dan indah, serta berbeda; tidak sama dengan rasa saat akhirnya mendapatkan apa yang diidam-idamkan. Kebajikan sesungguhnya  juga merupakan sumber kebahagiaan.

 

Kemauan, Kesempatan, Kemampuan

Suatu kebajikan hanya dapat dilakukan bila tiga unsur ini ada; kemauan, kesempatan, dan kemampuan.  Kemauan dan kemampuan adalah unsur internal, sedangkan kesempatan berasal dari luar. Kemauan yang kuat dan kemampuan yang besar semakin mendukung terciptanya kesempatan. Mau dan mampu saja tidak cukup bila tidak ada kesempatan. Ada kesempatan, tapi tidak ada kemauan meskipun punya kemampuan, itu pun percuma. Punya kemauan, ada kesempatan, tapi tidak mampu, hasilnya pun nihil. Suatu perbuatan bajik dapat dilakukan saat kemauan, kemampuan, dan kesempatan hadir bersamaan.

Kemauan menggerakkan perbuatan. Dengan niat, seseorang melakukan karma (perbuatan) dengan tubuh, ucapan, dan pikiran (Nibbedhika Sutta/AN 6.63).  Kemauan untuk melakukan kebajikan adalah buah dari cara pandang yang benar tentang sebab-akibat.  Pelaku kebaikan memetik kebaikan; benih yang telah ditanam akan dialami buahnya  (Samuddakasutta/SN 11.10).  Ada benih yang langsung berbuah, ada yang berbuah saat sebab dan kondisinya tepat. Kapan berbuahnya tidak masalah. Yang penting adalah benihnya telah ditanam. Tanpa benih, tidak ada yang berbuah.  Bila ini tidak ada, ini pun tidak ada, dan bila ini ada, maka ini pun muncul (Vera Sutta/AN 10.92).  Buah yang langsung dialami adalah kebahagiaan setelah memberi, dari melihat senyum tulus dan ucapan terima kasih dari orang yang dibantu.  Yang diberi merasa senang karena memperoleh apa yang menyenangkan, sementara si pemberi apa yang menyenangkan memperoleh apa yang menyenangkan (Manāpadāyī Sutta/AN. 5.44).  Kebahagiaan seperti ini tidak tersedia di toko offline atau online mana pun. Ini hanya dapat dirasakan dari perbuatan menolong, berbagi, dan memberi. Cara pandang yang tepat tentang karma menguatkan kemauan untuk berbagi. Niat dan tekad yang kuat untuk melakukan kebajikan menjadikan akumulasi daya kebajikan sebagai energi kebiasaan yang positif. Energi ini akan menarik dan membuka lebih banyak kesempatan melakukan kebajikan. Semua ini dimulai dari satu hal yang sederhana; kemauan untuk melakukan kebajikan. Bila hati sudah tergerak maka niat untuk berbuat baik pun muncul dengan mudah.

Kemauan semata tentu tidak cukup. Ia memang energi awal dan pendorong yang membuka jalan bagi kemampuan dan kesempatan. Namun kemauan perlu dibarengi juga dengan kemampuan. Memiliki kekayaan meningkatkan kemampuan untuk memberi dan berbagi.  Memiliki kekayaan dan memanfaatkan kekayaan adalah salah satu kebahagiaan Buddhis perumahtangga (Ānaṇyasutta/AN 4.62). Kekayaan dikumpulkan dengan usaha penuh semangat dan cara yang benar, kemudian dinikmati sendiri  dan keluarga serta dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan berjasa untuk mengumpulkan daya kebajikan.  Dengan demikian, fungsi kekayaan adalah menambah kemampuan melakukan perbuatan baik.  Kekayaan yang digunakan sebesar-besarnya demi membawa manfaat bagi orang lain, dunia, lingkungan, pelestarian Buddha-Dharma, dan berbagai kegunaan bajik lain akan menghasilkan kebahagiaan dan karma baik yang berlimpah. Orang kaya seperti ini telah meninggalkan mental miskin dan mengembangkan mental berkelimpahan. Bahkan, bukan hanya orang kaya dan berkecukupan yang dapat memiliki mental berkelimpahan. Siapa pun sesungguhnya mampu. Dia hanya perlu mulai memberi dan menolong sesuai dengan kemampuannya. 

Kemauan ada. Kemampuan cukup. Yang dibutuhkan berikutnya adalah kesempatan.  Suatu kebajikan mustahil dilakukan bila tidak ada yang membutuhkan.  Untungnya, kesempatan selalu ada.  Banyak orang yang masih perlu ditolong. Kebutuhan mereka macam-macam. Mulai dari uang, beras, obat, saran, pemikiran, tenaga dan bahkan doa.  Buka mata dan jelilah melihat apa yang Anda dapat dibantu. Saat kesempatan hadir, segera ambil. Timbulkan pemikiran “yang butuh melakukan kebajikan adalah saya”, “yang memetik manfaat dari perbuatan baik ini adalah saya”. Bila perlu, ciptakan kesempatannya. Gunakan hari besar keluarga seperti perayaan ulang tahun, peringatan kematian orang tua, dan lain sebagainya sebagai momen untuk melakukan kebajikan. Ada seorang sahabat yang di mobilnya selalu tersedia paket sembako berupa beras 5 kilogram dan beberapa bungkus mie instan. Itu cara yang terampil. Dia menciptakan kesempatan untuk melakukan kebajikan setiap kali melihat orang susah di jalan. Tekadnya kuat, kemampuannya cukup, dan kesempatannya tercipta.

Segitiga Kebajikan

Seperti gambar segitiga sama kaki yang harus terdiri tiga garis, sebuah kebajikan juga membutuhkan tiga unsur agar dapat dilakukan. Tiga unsur inilah—kemauan, kemampuan, dan kesempatan—yang disebut segitiga kebajikan.  Tiga-tiganya sama penting.  Kemauan adalah inisiatornya. Ia adalah pelopor. Tanpa kemauan, mustahil sebuah perbuatan baik dapat dilakukan. Sadar bahwa kebajikan adalah benih karma baik yang harus terus ditanam, seseorang menguatkan kemauan menjadi tekad untuk senantiasa berbuat baik sesuai dengan kemampuannya. Kemampuan adalah kekuatannya. Kemauan saja tidak akan cukup. Ibarat melihat orang tenggelam dan ingin menolong, tapi apa daya karena  tidak punya tangan dan kaki. Itulah fungsi kemampuan yaitu menjadi kekuatan  yang mendukung kemauan. Kesempatan adalah pelengkapnya. Meskipun mau dan mampu, namun kesempatan belum datang, tidak ada kebajikan yang dapat dilakukan. Oleh sebab itu, miliki kerendahan hati dan rasa terima kasih kepada kesempatan yang telah diberikan karena orang yang telah bersedia untuk dibantu telah membukakan pintu kebajikan kita.

Referensi:

Kutipan tripitaka bersumber dari www.suttacentral.net

Tags