Artikel

Filosofi Kopi Susu dalam Menghadapi Masalah

Filosofi Kopi Susu dalam Menghadapi Masalah

Filosofi Kopi Susu dalam Menghadapi Masalah

Oleh:

Hendra Awie

Wakil Ketua Sarjana dan Profesional Buddhis Indonesia (Siddhi) Cabang Kota Medan

 

Namo Sanghyang Adi Buddhaya,
Namo Buddhaya, Bodhisattaya, Mahasattaya,

Agama Buddha adalah ajaran yang telah ada selama lebih dari 2500 tahun, dapat dikatakan sudah sangat tua. Meskipun demikian, ajaran agama Buddha masih sangat relevan dengan kondisi di zaman yang semakin berkembang dalam hal ilmu pengetahuan, kebiasaan hidup hingga ke segala permasalahan yang ada. Ini karena agama Buddha ajarannya rasional, dapat dibuktikan dan dirasakan langsung kebenarannya. Dharma ajaran Buddha menyediakan jawaban untuk banyak permasalahan hidup yang terjadi, mulai dari yang sangat mendasar tentang penderitaan sampai ke latihan yang membawa pada penyadaran dan pembebasan. (Rick Hanson, 2015)

Dalam kesehariannya manusia tentu tidak terlepas dari masalah. Untuk dapat menghadapinya seseorang akan berupaya melihat kecakapan atau kemampuan yang dia miliki agar dapat sukses atau setidaknya bertahan dalam situasi tersebut. (Marwiyah, S.,2012)

Pada suatu kesempatan, Sang Buddha menyampaikan kepada muridnya bahwa beberapa petapa dan Brahmana selalu menghindar saat ditanya tentang masalah ini atau masalah itu. Mereka menggunakan pernyataan-pernyataan menghindar dan menggeliat bagaikan belut dalam empat cara, yaitu:

  1. Karena takut berbohong, mereka menghindari masalah.
  2. Karena takut melekat, mereka menghindari masalah.
  3. Karena takut berdebat, mereka menghindari masalah.
  4. Karena bodoh dan tumpul, mereka menghindari masalah (D, I, 24-5-6-7-8).

Sebagai murid Buddha kita memiliki keuntungan yang sangat besar dalam menghadapi masalah yang muncul. Kita dapat menggunakan Dharma ajaran Buddha sebagai solusi, dengan menerapkan yang saya sebut Kopi Susu Dharma.

Kopi Susu Dharma yang diuraikan pada tulisan ini bukan sembarang kopi susu yang biasa kita minum di warung kopi, café atau kopitiam, melainkan kiat atau tip terbaik untuk menghadapi masalah hidup. Tip ini dijamin ampuh dan mujarab.

Cara seseorang menghadapi masalah kurang lebih sama dengan hasil percobaan berikut ini.

Sifat dan reaksi objek terhadap unsur air yang dipanaskan dapat diketahui dengan sebuah percobaan kecil menggunakan wortel, telur ayam dan bubuk kopi.

Ketiga objek tersebut dimasukkan ke dalam sebuah wadah kaca transparan berisi air yang telah dipanaskan hingga mencapai suhu 100’ Celcius, dan didiamkan selama 15 menit di atas alat pemanas. Pada wadah air panas pertama, wortel yang awalnya keras, setelah direndam di air panas berubah menjadi lembek dan rapuh.  Di wadah kedua, telur ayam yang awalnya cair dan berlendir di dalam cangkang, setelah terendam air panas berubah menjadi keras dan kenyal. Hal yang sangat menarik terjadi pada bubuk kopi. Di dalam wadah tidak terlihat air panas mengubah bubuk kopi menjadi lembek atau keras seperti yang terjadi kepada wortel dan telur, melainkan bubuk kopilah yang mengubah air panas menjadi air kopi yang hitam dan harum.

Hasil percobaan ini sangat menarik bila dihubungkan dengan sifat manusia. Manusia cenderung berubah saat menghadapi masalah. Wortel menggambarkan orang yang kuat, namun masalah mengubah mereka menjadi pribadi yang lemah, lembek, tidak percaya diri, mudah baper, dan pesimis. Tidak sedikit juga orang yang punya karakter seperti telur ayam. Awalnya mereka penuh kelembutan dan niat baik, tapi berubah menjadi arogan, sombong, dan anti sosial saat masalah menghampiri mereka. Berbeda dengan bubuk kopi. Terbukti air panas tidak mampu mengubah bubuk kopi. Ini mengilustrasikan mereka yang tidak terpengaruh oleh masalah hidup, melainkan selalu dapat menempatkan masalah sebagai batu pijakan dan pelajaran untuk membuat mereka menjadi lebih dewasa dan bijaksana. Bahkan mereka yang piawai secara inovatif mampu mengubah masalah menjadi peluang baru

Lalu bagaimana agar seseorang dapat menjadi seperti bubuk kopi yang beradaptasi dengan air panas? Praktik SUSU adalah solusinya. SUSU inilah yang bila dipraktikkan secara konsisten akan melahirkan mental serta kepribadian yang hebat seperti Bubuk Kopi.

SUSU merupakan akronim untuk Sabar, Usaha, Semangat, dan Ubah. Ini adalah empat tip untuk menghadapi masalah.

1. Sabar

Dalam Saṃyutta Nikāya, Buddha membabarkan “Demikianlah, para biksu, jika Sakka, raja para deva, hidup dari buah kebajikannya sendiri, menjalankan kekuasaan dan pemerintahan tertinggi atas para deva Tavatiṃsa, menjadi seorang yang memuji kesabaran dan kelembutan, maka seberapa layaknya hal ini bagi kalian, yang telah meninggalkan keduniawian dalam Dharma dan Disiplin yang telah dibabarkan sedemikian baik, untuk menjadi sabar dan lembut.” (S.I.479)

Buddha memuji kesabaran yang dimiliki oleh Sakka, raja para dewa, dan menjadikannya sebagai contoh dan keteladanan bagi para biksu dan murid-muridnya.

KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) mendefinisikan sabar sebagai ‘tahan menghadapi cobaan/tidak lekas marah dan tabah’. Kesan terhadap arti kata sabar ini secara umum menggambarkan sifat menerima apa adanya tanpa bertindak responsif, tabah menerima segala konsekuensi atas apa pun yang terjadi tanpa melakukan apa pun. Misalnya, saat seseorang kehilangan dompet, dia hanya diam, tidak berupaya mencari dompet tersebut. Orang tersebut bahkan tidak bersedih, tidak cemas, tidak merasa kehilangan sama sekali. Orang seperti inilah yang biasanya disebut orang sabar atau “penyabar”.

Sedangkan dalam Neuro Linguistic Programming, sabar dimaknai sebagai sebuah tindakan aktif untuk memberi respon terhadap kejadian dan situasi yang berdampak pada kita. Tindakan aktif tersebut termasuk memahami dengan sepenuhnya apa penyebab kejadian atau situasi tersebut. Setelah memahami sebabnya, kita dapat melakukan tindakan untuk memperbaiki atau mengembangkan solusi terhadap dampak yang terjadi. Dalam persoalan dompet di atas, sikap sabar yang dilakukan adalah berhenti sejenak, kemudian berupaya mengingat untuk menelusuri kembali apa, dimana, kapan dan bagaimana dompet tersebut hilang. Setelah memahami dengan baik, lakukan upaya untuk segera mencari kembali dompet tersebut di lokasi yang diperkirakan sebagai tempat hilangnya dompet itu.

Jadi saat masalah datang dan terjadi pada kita, penting sekali untuk bersikap sabar guna memahami sebab masalah tersebut sehingga kita dapat mengambil tindakan yang tepat dan solutif untuk memperbaiki dan mengembangkan dampak yang terjadi pada kita. Segala yang terjadi pasti ada sebabnya. Tidak ada hal yang terjadi begitu saja tanpa ada sebab awal yang mengkondisikannya. Sikap sabar ini membuat kita melihat penyebabnya secara lebih jelas. Hal ini juga sangat relevan dengan ajaran Buddha dalam Majjhima Nikāya “Dengan ada ini, maka ada itu. Dengan timbul ini, maka timbul itu. Dengan tidak ada ini, maka tidak ada itu. Dengan tidak timbul ini, maka tidak timbul itu” (M, II, 32)

2. Usaha

Setelah sabar, selanjutnya adalah Usaha. Usaha untuk apa? Usaha untuk menemukan solusi terbaik yang dapat kita lakukan dengan berpedoman pada Usaha benar (samma-vayama) yang merupakan salah satu dari rangkaian Jalan Arya Beruas Delapan yang dibabarkan Buddha dalam Dhammacakkappavatana Sutta.

Usaha Benar (samma-vayama) sering juga disebut Daya-upaya Benar. Untuk hal ini, kita harus berupaya keras meninggalkan seluruh pemikiran yang salah dan dapat merugikan melalui perkataan dan perbuatan. Kita harus berupaya keras untuk meningkatkan apa yang baik dan berguna untuk diri kita sendiri dan orang lain dalam pemikiran, per­kataan dan perbuatan, tanpa mengikutsertakan pemikiran akan kesulitan atau kekuatiran.

Ada 4 upaya benar yang harus di lakukan; (S,IV,XIII)

  • Upaya Menghindari Hal Buruk yang Belum Muncul
  • Upaya Menanggulangi Hal Buruk yang Sudah Muncul
  • Upaya Mengembangkan Hal Baik yang Belum Muncul
  • Upaya Mempertahankan Hal Baik yang Sudah Muncul

Jadi apa pun masalah yang sedang kita hadapi, setelah kita menganalisis penyebabnya dengan baik maka langkah selanjutnya adalah menemukan solusi yang paling tepat untuk menyelesaikannya dengan berpedoman kepada Usaha Benar. Misalnya: Saat kita sedang bersedih, memberikan dana materi kepada orang yang membutuhkan hingga mereka tersenyum bahagia, atau mendengar nasihat dari para bijaksana akan mengembangkan hal baik di dalam diri kita.

3. Semangat

“Meskipun seseorang hidup hingga seratus tahun, dengan bermalas-malasan, tidak bersemangat, lebih baik di yang meskipun hanya hidup sendiri tapi berupaya serta berjuang keras” (K.Dhp.112). Sabda Buddha dari kitab Dhammapada ini menekankan pada begitu pentingnya menjalankan hidup dengan penuh semangat.

Apa pun yang kita lakukan, termasuk usaha benar yang telah kita niatkan harus dilakukan dengan penuh semangat dan berkesinambungan. Misalnya, berdana materi kepada orang yang membutuhkan menimbulkan kebahagiaan bagi diri kita. Perbuatan berdana itu harus dilakukan dengan konsisten dan bersemangat agar kita terus merasa bahagia.  

4. Ubah

Dengan melaksanakan semua tahapan penyelesaian masalah yang dituliskan sebelumnya, yakni Sabar, Usaha, Semangat, maka langkah terakhir dari tip penyelesaian masalah menggunakan Kopi Susu Dharma adalah Ubah.

Tahapan Ubah ini adalah langkah yang paling penting. Lalu apa yang perlu kita ubah? Kita ubah persepsi atau cara pandang, bahwa masalah bukan masalah melainkan sebuah tantangan.

KBBI mengartikan masalah sebagai ‘sesuatu yang harus diselesaikan (dipecahkan); soal; persoalan, yang rumit’ sedangkan tantangan adalah ‘hal atau objek yang menggugah tekad untuk meningkatkan kemampuan mengatasi masalah; rangsangan’. Berdasarkan defenisi tersebut, sangat jelas bahwa bila kita menganggap segala sesuatu yang tidak menyenangkan yang terjadi pada kita sebagai tantangan, maka ini akan memicu motivasi dan semangat yang menggugah tekad kita untuk menyelesaikan sesuatu dibandingkan bila kita mengartikannya sebagai sebuah masalah yang rumit dan membebani untuk diselesaikan.

Layaknya kontraktor yang berniat membangun sebuah rumah, langkah terpenting yang harus diperhitungkan adalah membangun pondasi awal, misalnya dengan pancang atau material yang berkualitas untuk memastikan rumah yang dibangun kelak dapat tetap berdiri kokoh, kuat dan tahan lama. Demikian pula manusia, hal terpenting dalam menyelesaikan masalah adalah memastikan pola pikir diisi oleh sesuatu yang berkualitas, positif dan bijak agar dapat tangguh dalm menghadapi dan menyelesaikan segala tantangan dalam hidup ini.

Setelah membaca tulisan ini, mari kita bertekad untuk tidak lagi menyebut apa yang tidak menyenangkan sebagai ‘masalah hidup’ melainkan dengan kepala tegak kita sebut sebagai ‘tantangan hidup’.

 

Pada akhirnya, di dunia ini tidak ada kondisi yang selalu sama dengan keinginan kita. Kita harus selalu siap menghadapi realita saat kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Bila itu terjadi, ingat untuk menjadi kopi yang tangguh, yang mampu mengubah air panas menjadi air kopi. Kita juga harus mampu beradaptasi dengan tantangan hidup. Ubah tantangan menjadi sesuatu yang bermanfaat.  Untuk melakukannya, terapkan kiat-kiat yang sangat powerfull, yakni SUSU, Sabar dalam memahami, Usaha benar yang berpedoman pada Dharma, Semangat dalam melaksanakan, dan Ubah persepsi.

Semakin panas airnya, semakin harum pula kopinya. Kopi yang harum ditambahkan dengan SUSU akan membuat rasanya menjadi sempurna. Semakin berat tantangan hidup, semakin bijaksana dan berkembang pula kita dalam proses belajarnya.

Semoga tulisan ini bermanfaat dan menginspirasi,

Semoga Buddha Dharma selalu lestari.

 

Namo Sanghyang Adi Buddhaya,

Namo Buddhaya.

 

SUMBER ARTIKEL / DAFTAR PUSTAKA

Digha Nikàya I, 2009. Khotbah-khotbah Panjang Sang Buddha. DhammaCitta Press. terjemahan: Maurice Walshe

Khuddaka Nikāya Volume II, 2019. Dhammapada Aṭṭhakathā, Indonesia Tipitaka Center (ITC) Medan

Majjhima Nikāya, II, 2013. Khotbah-khotbah Menengah Sang Buddha. DhammaCitta Press. terjemahan: Bhikkhu Ñāṇamoli & Bhikkhu Bodhi

Marwiyah, S. (2012). Konsep pendidikan berbasis kecakapan hidup. Jurnal Falasifa, 3(1), 75-97.

Rick Hanson, 2015. Exploring Buddhism & Science, Buddhist College of Singapore & Kong Meng San Phor Kark See Monastery, editor: Sheng Chuan (Venerable), 2015

Saṃyutta Nikāya Vol. I. 2010. Terjemahan baru Saṃyutta Nikāya Buku 1 Sagāthāvagga. DhammaCitta Press. terjemahan: Bhikkhu Bodhi

Saṃyutta Nikāya Vol. IV. 2010. Terjemahan baru Saṃyutta Nikāya Buku 4 Saḷāyatanavagga. DhammaCitta Press. terjemahan: Bhikkhu Bodhi

 

Profil Penulis

Upasaka Hendra Awie, S.Kom, DMd®, CPS® lahir di kota Tebing Tinggi pada 28 Agustus 1988 adalah seorang Dharmaduta yang menyelesaikan pendidikan S1 Sistem Informasi Komputer di STMIK IBBI Medan pada tahun 2010 dan saat ini sedang menempuh pendidikan Pascasarjana di STIAB Smaratungga-Boyolali tahun ajaran 2021-2023. Saat ini juga menjabat sebagai Direktur Pelatihan di Dharmashoka Institute dan Wakil Ketua Sarjana dan Profesional Buddhis Indonesia – Kota Medan

Tags