SEJARAH

Agama Buddha bukan agama baru di Nusantara, terbukti dengan adanya peninggalan-peninggalan agung berupa Candi Borobudur dan candi-candi lainnya. Demikian pula sejarah mencatat kejayaan pendidikan agama Buddha pada masa Kerajaan Sriwijaya. Bahkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika diambil dari kitab agama Buddha, yaitu Sutasoma karya Mpu Tantular.  


Agama Buddha kemudian sirna bersamaan dengan runtuhnya Kerajaan Majapahit. Pada masa penjajahan Belanda, ajaran Buddha mulai dipelajari kembali dengan adanya Perhimpunan Theosofi yang mempelajari inti kebijaksanaan dari semua agama dan Perkumpulan Sam Kauw yang mempelajari tiga ajaran: Buddha, Konghucu, dan Tao. Perhimpunan Theosofi pada tahun 1934 mengundang seorang biku terkenal dari Srilanka, yaitu Narada Thera, yang selama dua minggu memberikan ceramah di berbagai kota di Indonesia. Pada tahun 1934 itu pula Perkumpulan Sam Kauw didirikan dengan ketuanya Kwee Tek Hoay seorang jurnalis yang banyak menerbitkan buku-buku tentang ajaran Buddha. 


Momentum bangkit kembalinya Agama Buddha secara nasional di bumi Indonesia terjadi setelah kemerdekaan yaitu pada tahun 1953, ditandai dengan penyelenggaraan peringatan Waisak secara besar-besaran di Candi Borobudur. Tokoh penggeraknya adalah Anagarika Tee Boan An, yang saat itu merupakan pimpinan baik pada Perhimpunan Theosofi maupun Perkumpulan Sam Kauw. Setelah sukses menyelenggarakan peringatan Waisak di Candi Borobudur tersebut (yang kemudian menjadi tradisi sampai sekarang), Anagarika Tee Boan An kemudian menerima penahbisan sebagai samanera (calon biksu) dalam tradisi Mahayana di Wihara Kong Hoa Sie Jakarta dan selanjutnya menerima penahbisan penuh sebagai biksu dalam tradisi Therawada di Burma (sekarang Myanmar) pada tahun 1954 dengan nama Ashin Jinarakkhita.



Anagarika Tee Boan An

Ashin Jinarakkhita (1923-2002) adalah putra Indonesia pertama yang menjadi biksu. Sekembalinya ke Indonesia beliau berkeliling mengajarkan ajaran Buddha, khususnya meditasi pandangan terang (vipassana) yang menekankan praktik hidup berkesadaran. Di mana-mana umat Buddha bangkit dan mendirikan wihara. Oleh karena itu umat Buddha menyatakan Ashin Jinarakkhita adalah pelopor kebangkitan agama Buddha di Indonesia. Atas perjuangannya bagi negara dan bangsa Indonesia, pada tahun 2005 beliau dianugerahi bintang Mahaputera Utama oleh pemerintah. 


Pendekatannya yang mengutamakan nilai-nilai non-sektarian, inklusivisme, pluralisme, dan universalisme kemudian menjadi ciri dari gerakan Buddhayana. Nilai-nilai ini langgeng sampai sekarang dan menjadi oasis bagi masyarakat yang membutuhkan kesejukan rasa toleransi, pengertian, dan penerimaan.


Gerakan Buddhayana bertujuan mewujudkan agama Buddha yang bukan hanya esensial tetapi juga kontekstual (Agama Buddha Indonesia). Untuk membantu Biksu Ashin Jinarakkhita, pada tahun 1955 dibentuk wadah Persaudaraan Upasaka Upasika Indonesia (PUUI).



Sangha Samaya Ke III

Wadah persaudaraan ini kemudian berkembang menjadi majelis agama Buddha, dan saat ini dikenal dengan nama Majelis Buddhayana Indonesia (MBI). Dari para upasaka-upasika (umat awam yang serius menekuni ajaran Buddha) kemudian muncul para calon biksu. Pada tahun 1959 dengan mengundang 13 biksu dari berbagai negara dilakukan penahbisan biksu di Indonesia, dan terbentuklah Sangha Suci Indonesia (perkumpulan para biksu) yang kemudian berkembang menjadi Sangha Agung Indonesia (Sagin).



MUNAS MBI VII

Sempat mendapat tekanan di masa akhir Orde Baru, gerakan Buddhayana yang terdapat di 26 provinsi (NAD, Sumtera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Bangka Belitung, Lampung, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua Barat, Papua) tetap konsisten mempertahankan prinsip tidak mengikatkan diri pada satu tradisi tertentu dan menjaga semangat bhinneka tunggal ika. Wihara-wihara Buddhayana dapat digunakan untuk ibadah dari berbagai tradisi agama Buddha yang berwawasan Buddhayana. 


Dalam Sangha Agung Indonesia, para biksu yang menerima penahbisan dari ketiga tradisi agama Buddha (Therawada, Mahayana, Wajrayana) dapat bersatu padu, terbuka untuk saling belajar dan mengembangkan praktik toleransi. 



Penahbisan Biksu Sagin


Nilai - nilai yang menjadi nafas Keluarga Besar Buddhayana ini berjalan dengan harmonis dengan tren perkembangan agama Buddha di dunia, seperti misi yang dibawa oleh Biksu Thich Nath Hanh, His Holiness Dalai Lama 14, Biksuni Cheng Yen yang mendirikan Yayasan Buddha Tzu Chi, dan Ajahn Bram. 


STAY INFORMED

Subscribe to our Newsletter

FOLLOW US